My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Olivia Dan Nyonya Afiqa



Beberapa hari kemudian.


Olivia nampak panik di dalam kamarnya. Ia juga ketakutan setelah mendengar bahwa Erlan sudah siap bertemu dengannya di pengadilan untuk menyelesaikan hubungan mereka.


"Tidak, ini tidak boleh terjadi! Akh!" Olivia berteriak histeris sembari mengacak-acak rambutnya yang sudah tersisir rapi.


"Ini semua gara-gara Edgar! Dasar lelaki sialan!" gerutunya dengan mata berkaca-kaca. (Ada yang ingat sama nama ini, gak? Itu loh, lelaki yang memberikan data diri Tuan Joseph kepada Alina, ketika Alina mengunjungi Hotel.)


Setelah puas mengumpat kasar, wanita itu segera meraih tasnya kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan langkah cepat.


Setibanya di halaman depan rumah, (rumah yang rencananya akan di tempati oleh Olivia bersama Erlan setelah menikah. Namun, akibat kesalahan fatal yang dilakukan oleh Olivia, rencana itu pun akhirnya gagal dan sekarang hanya Olivia yang tinggal di tempat itu.) Olivia segera masuk ke dalam mobil tersebut kemudian melaju meninggalkan tempat itu.


"Aku harus menemui Mommy, siapa tahu dia bisa membantuku meyakinkan Erlan agar mempertahankan pernikahan kami. Aku tidak ingin bercerai dengannya, aku mencintai Erlan lebih dari apapun," gumamnya sambil menitikkan air matanya.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup menyita waktu, Olivia pun tiba di kediaman Nyonya Afiqa, Mommy Erlan. Kedatangan Olivia disambut hangat oleh Nyonya Afiqa karena Olivia sudah di anggap seperti anak perempuannya sendiri. Hingga sulit untuk Nyonya Afiqa membencinya, walaupun Olivia sudah melakukan kesalahan besar.


"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu terlihat sedih? Apa ini ada hubungan dengan Erlan lagi?" tanya Nyonya Afiqa sembari menuntun Olivia ke sofa yang ada di ruang utama.


"Ya, Mommy. Siapa lagi kalau bukan Erlan?" sahut Olivia sambil terisak.


"Memangnya kenapa lagi si Erlan, Sayang?" Nyonya Afiqa mengelus lembut rambut Olivia yang tergerai indah sembari melemparkan senyuman hangatnya untuk wanita itu.


"Aku baru saja mendapatkan kabar bahwa Erlan kembali mengajukan gugatan cerai ke pengadilan dan kali ini dia serius, Mom. Ini bukan hanya gertakan sama seperti kemarin," lirih Olivia dengan wajah cemas menatap Nyonya Afiqa.


Nyonya Afiqa menghembuskan napas berat. Sebenarnya yang dulu pun bukanlah sekedar gertakan. Erlan memang sangat ingin bercerai, tetapi Nyonya Afiqa lah yang terus mencoba menghalangi Erlan untuk melakukannya.


"Ya, saat ini status kami memang sudah bukan suami istri lagi dalam hukum agama, tetapi paling tidak di mata hukum kami masih suami istri dan itu artinya aku masih bisa mempertahankan pernikahan ini, Mommy. Tapi kalau sudah begini, aku tidak bisa melakukan apapun lagi untuk mempertahankannya." Olivia menyeka air matanya kemudian menatap lekat kedua bola mata Nyonya Afiqa.


"Maafkan Mommy, Olivia. Mommy tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sudah berbagai cara Mommy lakukan agar hubungan kalian tidak berakhir seperti ini. Mommy sayang sama kalian, sama kamu dan Erlan. Tapi, mau bagaimana lagi, sepertinya keputusan Erlan sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat."


Olivia terlihat sangat kecewa setelah mendengar jawaban dari Nyonya Afiqa. Padahal harapan Olivia satu-satunya saat ini hanyalah wanita paruh baya tersebut. Namun, jika wanita itu saja sudah menyerah, lalu harus kemana lagi ia meminta bantuan sekarang ini.


"Ayolah, Mommy. Bujuklah Erlan sekali lagi! Siapa tahu dia masih bersedia mendengarkan permintaanmu," bujuk Olivia, ia memegang kedua tangan Nyonya Afiqa sambil memasang wajah memelas, berharap wanita paruh baya tersebut bersedia membantunya sekali lagi.


Nyonya Afiqa menghembuskan napas panjang. "Nanti Mommy coba, tapi Mommy tidak berjanji bahwa ini akan berhasil, Olivia. Apa lagi saat ini seseorang sudah mulai menguasai hatinya, bahkan permintaan Mommy pun tidak digubris olehnya," sahut Nyonya Afiqa dengan wajah kusut.


Olivia menautkan kedua alisnya heran. "Seseorang? Apa maksudmu, Mommy?"


"Loh, beneran kamu belum tahu soal gadis ingusan itu?" Nyonya Afiqa balik bertanya dan menatap Olivia dengan tatapan heran.


"Gadis ingusan, siapa sih, Mom? Ih, jangan buat aku penasaran donk, Mom!" Olivia benar-benar penasaran. Ia sama sekali tidak tahu prihal Alina karena memang tak ada seorangpun yang tahu tentang gadis itu. Selain Sean, Mommy dan Rara.


"Apa? Apa itu, Mom? Jadi Mommy sudah pernah bertemu dengan gadis itu? Di mana? Kapan? Kenapa Mommy tidak menceritakannya kepadaku, Mom?" Dengan nada setengah kesal Olivia melontarkan berbagai macam pertanyaan kepada wanita paruh baya itu.


Nyonya Afiqa menatap Olivia dengan wajah menekuk. "Kalau bertanya itu satu-satu, Sayang. Masa bertanya sebanyak itu, bagaimana Mommy bisa menjawabnya," sahutnya.


"Ya, Mommy sudah bertemu dengan gadis itu dan itu terjadi setelah Erlan kembali dari kediaman Rara. Erlan mengajaknya menemui Mommy di sini, di ruangan ini," lanjut Nyonya Afiqa.


"U-untuk apa?" Olivia ragu menanyakan hal itu. Ia takut kecewa setelah mendengar jawaban dari Nyonya Afiqa. Namun, di samping rasa takutnya, rasa penasarannya ternyata lebih besar.


"Erlan meminta izin kepada Mommy untuk menikahi gadis itu karena saat ini gadis itu tengah hamil dan Erlan yakin seratus persen bahwa bayi dalam kandungan gadis itu adalah bayinya."


"Apa?!" pekik Olivia.


Benar saja, apa yang ditakutkan oleh Olivia benar-benar terjadi. Ia sangat kecewa mendengar jawaban dari wanita paruh baya tersebut. Hatinya hancur dan terasa begitu sakit. Bahkan saking sakitnya, tubuh Olivia sampai bergetar saat itu.


Nyonya Afiqa ketakutan melihat ekspresi Olivia saat itu. Ia memeluk tubuh Olivia yang masih bergetar hebat sembari mencoba menenangkan wanita itu.


"Olivia, kamu kenapa, Sayang? Kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Nyonya Afiqa dengan wajah cemas.


Beberapa detik berikutnya, akhirnya tubuh Olivia pun melemah, ia jatuh ke lantai ruangan itu dan tidak sadarkan diri. Nyonya Afiqa berteriak histeris, memanggil para pelayannya.


"Pelayan! Pelayan!"


Para pelayan pun berdatangan dengan wajah bingung. Namun, setelah melihat tubuh Olivia yang tergeletak di lantai di dekat sofa, mereka pun bergegas mengangkat tubuh lemah itu ke kamar tamu dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Olivia? Sayang, bangunlah!" Nyonya Afiqa menepuk pelan pipi Olivia agar wanita itu cepat sadar.


"Tolong ambilkan minyak kayu putih atau semacamnya, yang bisa membuat Olivia cepat sadar," titahnya kepada salah seorang pelayan yang masih berada di ruangan itu.


"Baik, Nyonya." Pelayan itu pun segera menuju kotak penyimpanan obat-obatan dan akhirnya ia menemukan sebotol minyak kayu putih kemudian menyerahkannya kepada Nyonya Afiqa.


"Ini, Nyonya."


Setelah menyambut minyak kayu putih tersebut, Nyonya Afiqa segera mengoleskannya ke hidung dan pelipis wanita itu hingga akhirnya Olivia pun tersadar.


"Mommy, aku ...." Ia langsung menangis histeris saat kembali teringat akan gadis itu, Alina.


"husstt, sudah. Jangan terlalu dipikirkan, Olivia. Nanti malah kamu yang jatuh sakit," ucap Nyonya Afiqa dengan wajah cemas.


...***...