
Jika Alina dan Erlan menghabiskan malam pertama mereka dengan penuh kehangatan di sebuah kamar paling istimewa di hotel tersebut. Di sisi lain, masih di hotel yang sama, Olivia menghabiskan malamnya dengan penuh duka dan derai air mata.
Edgar sang pemilik kamar, bahkan sampai bingung bagaimana cara menenangkan Olivia saat itu. Ia sudah mencoba menenangkan wanita itu dari cara yang lembut hingga dengan cara yang kasar, membentak kemudian memerintahkannya agar segera berhenti menangis.
Namun, bukannya berhenti, tangis Olivia malah semakin menjadi. Kini lelaki itu hanya bisa duduk di samping Olivia seraya memandangi wajahnya yang begitu menyedihkan.
"Sudahlah, Olivia! Berhentilah menenggak minuman itu!" kesal Edgar dan mencoba meraih botol minuman yang sedang di pegang oleh Olivia.
Olivia menjauhkan tangannya dari jangkauan Edgar, agar lelaki itu tidak bisa meraih botol minumannya. "Biarkan saja, Ed! Biarkan aku seperti ini, lagi pula tidak ada sesiapa pun yang peduli dengan nasibku," tutur Olivia sembari menenggak minuman itu kembali.
"Eh, siapa bilang tidak ada?! Aku peduli, bahkan aku begitu peduli padamu, Olivia!" sahut Edgar yang masih mencoba ingin mengambil alih botol minuman itu.
Olivia menyeringai menatap Edgar. Ia mendekatkan botol minuman itu ke bibir lelaki tersebut seraya mengajaknya untuk segera minum minuman itu bersamanya. "Kalau benar kamu peduli padaku, minumlah! Temani aku mabuk malam ini, ya?!"
Edgar segera menepis botol minuman itu dari wajahnya. "Aku sebagai laki-laki bahkan tidak menyukai minuman ini, Olivia. Aku heran bagaimana bisa seorang wanita cantik, berpendidikan dan berkelas seperti dirimu malah menyukai hal-hal yang seperti ini? Apa kamu tidak malu?" Edgar menantap Olivia dengan ekspresi wajah heran sekaligus tidak suka.
Olivia tertawa dengan lantang di ruangan itu. Bukan karena ucapan Edgar yang terdengar lucu. Namun, ia menertawakan kehidupannya yang begitu menyedihkan dan apa yang diucapkan oleh Edgar memang benar adanya.
"Ya, kamu benar, Ed! Aku memang sudah tidak punya urat malu. Urat maluku sudah putus setelah dirimu mengambil kesucianku pada malam itu! Dan sekarang, hanya minuman ini yang ada mengerti diriku, serta setiap kegundahan yang aku rasakan," sahutnya sambil tergelak.
Akhirnya Edgar memilih membiarkan Olivia meneruskan minumnya. Entah sudah berapa banyak minuman itu masuk ke dalam perut Olivia, sehingga wanita itu mulai meracau tidak jelas di ruangan tersebut.
Sementara Olivia masih menikmati minumannya, Edgar memilih melakukan aktivitasnya sama seperti biasa, seolah tidak ada siapapun di kamar tersebut.
Rencana Edgar untuk kembali ke kota X hari ini harus gagal karena Olivia dan dengan terpaksa ia pun harus mengundurnya hingga besok pagi. Saat itu Edgar sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya dan ia berniat membersihkan diri ke kamar mandi.
Edgar melepaskan kemeja ketat yang sejak tadi melekat erat di tubuhnya. Setelah kemeja itu terlepas, kini giliran celana panjang berwarna hitam yang masih menutupi kaki jenjangnya. Edgar juga melepaskan celana tersebut dan kini hanya menyisakan sebuah celana boxernya saja.
Olivia yang sudah berada di bawah pengaruh minuman memabukkan itu, terpesona menatap tubuh besar Edgar. Otot-otot lengan yang begitu besar dan urat-urat yang menyembul di kulitnya yang berwarna kecoklatan, membuat Olivia tidak bisa mengedipkan matanya. Belum lagi perut six pack -nya yang begitu menantang untuk disentuh.
Perlahan Olivia bangkit dari tempat duduknya kemudian dengan tergopoh-gopoh menghampiri Edgar yang kini berdiri dengan posisi membelakanginya. Olivia benar-benar sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk lelaki itu dan ia pun melakukannya dari belakang tubuh Edgar.
"Ya, ampun, Ed! Tubuhmu bagus sekali!" ucap Olivia yang kini menempel di punggung lelaki itu. Tangan mulus Olivia kini mulai menjamah bagian perut serta lengan Edgar yang berotot.
"O-Olivia, apa yang kamu lakukan?!" pekik Edgar dengan terbata-bata.
...***...