My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Perjalanan Imelda



Sementara itu di kediaman Imelda.


Wanita itu tengah terdiam di depan cermin sambil menatap bayangannya dengan wajah kusut. Sesekali ia mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membesar.


"Hari ini aku sudah membulatkan tekadku. Aku akan pergi ke tempatmu dan meminta maaf atas semua kesalahan yang sudah aku lakukan, Alina." Imelda kembali menitikkan air mata penyesalannya. Ia benar-benar menyesal karena sudah memperlakukan sahabatnya itu dengan sangat buruk.


Setelah cukup puas memperhatikan bayangan dirinya yang begitu menyedihkan di depan cermin, Imelda pun akhirnya memutuskan untuk segera berangkat. Perlahan ia melangkah keluar dari kamarnya kemudian berjalan menuju halaman depan.


Namun, langkah Imelda sempat terhenti ketika melewati ruang utama. Lagi-lagi wanita itu disuguhkan dengan pemandangan yang menyakiti indera penglihatan, hati serta pikirannya.


Chandra kembali bercumbu dengan seorang wanita di ruangan itu. Dan parahnya lagi, kali ini wanita yang di ajak oleh lelaki itu bukanlah wanita yang kemarin bercinta dengannya. Sepertinya wanita itu adalah kekasih barunya


Chandra dan kekasih barunya tengah berciuman dengan sangat liar di atas sofa ruang utama. Imelda bahkan merasa jijik ketika melihat aksi mereka. Ia memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahnya karena sudah tidak tahan melihat pemandangan yang menyakitkan itu.


"Hei, mau ke mana kamu?" tanya Chandra ketika sadar akan keberadaan Imelda di ruangan itu. Tidak biasanya wanita itu hanya diam saat melihat aksi nakalnya dan tidak marah-marah sama seperti biasa.


"Bukan urusanmu," sahut Imelda dengan wajah malas menatap pasangan mesum yang sedang duduk di sofa tersebut.


Chandra tergelak ketika mendengar jawaban dari Imelda. "Bukan urusanku? Wah, wah, wah! Aku senang mendengarnya, Imelda. Lagi pula aku juga tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan dan aku harap kamu juga tidak akan pernah ikut campur dengan urusanku lagi," sahut Chandra sambil tersenyum sinis menatap Imelda.


"Tidak akan pernah, lakukan saja apapun yang kamu mau." Imelda melangkah pergi dari tempat itu dan membiarkan Chandra di sana bersama kekasih barunya.


Setibanya di halaman depan rumah, Imelda meraih ponsel miliknya kemudian memesan sebuah taksi online untuk mengantarkannya ke kediaman Alina. Cukup lama ia duduk di tempat itu sambil menunggu taksi online tersebut.


Hingga beberapa menit kemudian, taksi online itu pun tiba. Ia segera masuk ke mobil tersebut kemudian melaju menuju tempat tinggal Alina. Di sepanjang perjalanan menuju tempat tersebut, Imelda hanya melamun sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah bertemu dengan mantan sahabatnya itu.


"Bagaimana jika Alina tidak mau memaafkan aku? Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkan tempat itu sebelum mendapatkan maaf darinya," batin Imelda dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Tidak berselang lama, taksi online yang mengantarkan Imelda tiba di perkampungan tempat tinggal Alina. Setelah membayar ongkos taksi online tersebut, ia pun segera menghampiri tempat tinggal sahabatnya itu.


Imelda terpelongo setelah memperhatikan tempat tinggal Alina yang terlihat jauh berbeda dari terakhir kali ia mengunjungi tempat itu. Bangunan sederhana berukuran kecil tersebut kini telah direnovasi menjadi lebih besar serta jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Bahkan tempat tinggal sederhana itu kini menjadi tempat tinggal yang paling mewah di kampung tersebut.


"Aku tidak salah jalan, 'kan?" gumam Imelda seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia memperhatikan rumah-rumah di samping tempat itu dengan seksama dan Imelda yakin bahwa ia tidak salah jalan.


Perlahan Imelda menghampiri pintu utama rumah tersebut kemudian mengetuknya sembari memanggil-memanggil nama sahabatnya itu.


Tok ... tok ... tok ....


"Alina ... Alina ...," panggil Imelda, sesekali ia mencoba mengintip ke dalam bangunan tersebut.


"Kamu mencari siapa? Alina?!" Tiba-tiba salah satu tetangga samping rumah Alina menegur Imelda yang sedang mengetuk pintu rumah tersebut.


Imelda terperanjat dan ia segera menoleh ke arah Ibu-Ibu tersebut. "Ah iya, Bu. Ehm, apa Alina nya ada di rumah?"


Ibu-Ibu tersebut tersenyum tipis sembari memperhatikan penampilan Imelda dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Alina sudah tidak tinggal di sini. Dia sudah kami usir karena hanya membawa sial untuk kampung kami. Kamu siapa dan ada perlu apa dengannya?" tanya Ibu-Ibu tersebut penuh selidik.


"Di usir? Maksud Ibu apa? Lalu di mana Alina sekarang? Dan rumah ini, siapa yang menempatinya?" Bukannya menjawab pertanyaan Ibu-Ibu tersebut, Imelda malah balik bertanya kepada wanita paruh baya tersebut.


"Ya, dia sudah di usir dari kampung ini karena pekerjaan kotornya dan kami tidak tahu di mana dia sekarang. Lagi pula kami pun tidak peduli dengannya, yang penting dia sudah tidak ada di kampung ini. Soal rumah ini, kami tidak tahu tepatnya, yang pasti seseorang sudah mengambil alih tempat ini kemudian merenovasinya. Entah sudah dijual atau apa, kami juga tidak peduli," lanjut Ibu-Ibu tersebut.


Imelda terdiam sejenak sambil terus memperhatikan wanita yang sedang berdiri di hadapannya. Entah mengapa ia merasa kesal setelah mendengar penuturan dari wanita paruh baya tersebut.


"Pekerjaan kotor? Memangnya apa yang sudah dilakukan oleh Alina hingga kalian tega mengusirnya. Bukankah kampung ini adalah kampung kelahirannya, bahkan mendiang Bu Nadia juga asli penduduk sini!" Imelda nampak marah setelah mendengar jawaban dari wanita itu.


"Heh, kamu itu sok tahu! Memangnya kamu itu siapanya Alina?" Ternyata Ibu-Ibu tersebut tidak kalah sewotnya kepada Imelda.


"Aku sahabatnya! Memangnya kenapa?!" ketus Imelda.


Ibu-Ibu tersebut tersenyum sinis. "Sahabatnya?! Jangan-jangan pekerjaan kalian sama lagi! Jika memang benar kamu adalah sahabatnya Alina, kamu pasti tahu bahwa gadis itu tengah hamil dan tidak ada yang bersedia bertanggung jawab padanya karena apa, ha?! Karena dia suka jual diri sama laki-laki hidung belang," sahut Ibu-Ibu tersebut dengan raut wajah tidak suka menatap Imelda.


"DIAM!" teriak Imelda yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


...***...