
"Selamat ya, Alina!" Imelda menghampiri Alina kemudian memeluk tubuh sahabatnya itu dengan sebelah tangannya karena tangan satunya masih memegang erat tubuh Baby Rendra.
"Tapi aku takut, Mel. Aku takut Mas Erlan dan Ibu mertuaku tidak siap menerima kehadiran bayi ini. Aku takut jadi gunjingan orang-orang karena aku hamil lagi padahal Baby Arkana baru berusia enam bulan," tutur Alina dengan wajah yang semakin kusut.
Imelda tertawa lepas mendengar keluhan Alina saat itu. "Ya ampun, Alina sayang. Kamu itu terlalu parno sebenarnya. Aku yakin, Tuan Erlan dan Ibu mertuamu pasti sangat senang setelah tahu kamu kalau kamu hamil lagi. Lagian siapa sih yang berani menggunjing istri dari Tuan Erlan? Tuan Sean saja tidak berani bicara apapun tentangmu," sahut Imelda sembari mengelus punggung Alina.
Alina menoleh kepada Imelda dengan wajah kusutnya. "Benarkah itu, Mel? Kamu yakin bahwa Mas Erlan dan Mommy Afiqa tidak akan marah padaku?"
"Ya, percayalah padaku! Malah sebaliknya, mereka pasti akan senang mendengarnya," sahut Imelda mantap.
Alina terdiam untuk sesaat sambil menatap Baby Arkana yang sedang mengoceh di pangkuannya. "Maafkan Mommy ya, Arkana. Mommy tidak bermaksud membuatmu menjadi seorang Kakak di usia semuda ini," lirih Alina sembari mencium puncak kepala Baby Arkana.
"Tante Alina tidak usah khawatir, Rendra juga bakal jadi Kakak kok, Tante," sambung Imelda seraya menggerak-gerakkan tangan Baby Rendra, seolah-olah Baby Rendra lah yang bicara saat itu.
Alina tertawa pelan kemudian mengelus pipi Baby Rendra dengan lembut. "Kamu benar, Sayang. Kalian berdua akan jadi Kakak di usia yang masih sangat muda," sahut Alina.
Imelda tersenyum kecut kemudian mengelus tangan Alina. "Kamu masih mending, Lin. Coba lihat aku! Dengan kondisi Baby Rendra yang seperti ini, ia harus memiliki seorang adik dan tugasku sebagai seorang Ibu menjadi lebih berat, Lin."
Alina terdiam sambil menatap lekat mata Imelda yang terlihat berkaca-kaca. Hati Alina benar-benar tersentuh setelah mendengar penuturan sahabatnya itu. Tiba-tiba saja Alina merasa malu karena sudah berkeluh kesah kepada sahabatnya itu. Padahal apa yang Imelda rasakan saat ini jauh lebih berat dari apa yang dirasakan olehnya.
"Oh, Imelda ... maafkan aku," lirih Alina sembari merangkul pundak Imelda.
"Loh, kenapa harus minta maaf? Kamu 'kan tidak salah apa-apa, Alina," sahut Imelda.
Baru saja Alina ingin menyahut ucapan Imelda, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dari nada dering yang terdengar, Alina tahu bahwa yang sedang menghubunginya adalah Erlan.
"Sebentar ya, Mel. Mas Erlan menghubungiku," ucap Alina sembari menerima panggilan dari lelaki itu.
"Ya, Mas?"
"Alina sayang, pulanglah. Aku sudah ada di rumah, menunggumu."
"Apa? Mas sudah pulang? Kok, cepat?" tanya Alina dengan wajah bingung.
"Segera pulang, ya. Aku tunggu, loh!" sahutnya.
"Aku harus segera kembali, Mel. Mas Erlan tiba-tiba saja pulang cepat dan dia sudah menunggu kedatanganku," tutur Alina dengan wajah kusut.
Sebenarnya saat itu Alina masih ingin berkumpul bersama Imelda, tetapi karena Erlan sudah memerintahkan untuk pulang. Maka mau tidak mau, Alina pun harus menuruti keinginan lelaki itu.
"Tidak apa, Lin. Lagi pula kita masih bisa berkumpul lagi lain kali," sahut Imelda mencoba menghibur Alina.
"Ya, kamu benar."
Setelah selesai merapikan barang-barang keperluan Baby Arkana, Alina pun berpamitan kepada Imelda dan segera kembali ke kediamannya.
Setibanya di kediamannya, ternyata apa yang dikatakan oleh Erlan benar adanya. Lelaki itu sudah pulang dan Alina pun bergegas memasuki ruangan megah itu dengan langkah cepat.
"Di mana Tuan?" tanya Alina kepada salah satu pelayan yang menyambut kedatangannya.
"Tuan sudah menunggu Anda di kamar, Nona," jawab pelayan tersebut.
Alina menautkan alisnya setelah mendengar jawaban dari pelayan itu. "Kamar? Kenapa Mas Erlan menungguku di kamar? Memangnya mau apa dia?" gumamnya sambil terus melangkah menuju kamar.
"Ya Tuhan, Mas! Kamu kenapa?" pekik Alina setibanya di kamar utama. Ia begitu terkejut setelah melihat kondisi Erlan yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur mereka.
Alina bergegas menghampiri Erlan kemudian duduk di samping lelaki itu. "Kamu kenapa, Mas? Bukankah tadi pagi kamu baik-baik saja?" tanya Alina dengan wajah cemas. Sedangkan orang yang ia khawatirkan malah tersenyum sembari menatapnya dengan tatapan aneh.
"Untukmu," ucap Erlan sembari menyerahkan sebuah test pack baru ke hadapan Alina.
"Apa ini?" pekik Alina.
"Aku ingin kamu mencobanya," sahut Erlan, masih dengan senyuman anehnya.
"Ya, Tuhan! Apa Mas Erlan sudah tahu bahwa aku sedang hamil," batin Alina dengan wajah memucat menatap Erlan.
...***...