
Beberapa bulan kemudian.
"Aduh, kenapa aku bodoh sekali! Kenapa aku sampai kelupaan hal yang sepenting itu coba," gerutu Alina sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia duduk di atas closet, menunggu hasil dari benda kecil yang sedang ia pegang sejak beberapa menit yang lalu. "Semoga tidak, semoga tidak!" Alina terus bergumam dengan wajah cemas.
Tepat di saat itu Erlan masuk ke dalam kamar mereka. Sudah sejak tadi ia menunggu kedatangan Alina di ruang makan. Namun, Istri mungilnya itu tidak kunjung tiba di ruangan tersebut. Erlan melangkah menelusuri setiap inci ruangan kamarnya.
"Sayang, kamu di mana?" panggil Erlan sambil terus mengedarkan pandangannya.
Hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi yang ternyata terkunci dari dalam. "Sayang, kamu di dalam? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Erlan yang mulai cemas.
Karena saking tegangnya, Alina bahkan tidak menyadari bahwa Erlan sudah beberapa kali memanggilnya. Ia masih saja fokus pada benda kecil yang saat ini ada di tangannya.
"Ayolah! Aman-aman!" gumamnya lagi.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Alina sayang, apa kamu di dalam?" panggil Erlan lagi. Lelaki itu semakin cemas karena tidak ada jawaban dari ruangan tersebut.
Alina sontak terperanjat ketika mendengar suara ketukan di pintu ruangan tersebut. Bahkan benda kecil yang sedang ia pegang sampai terjatuh ke lantai. Alina kembali meraih benda mungil tersebut kemudian menyimpannya ke dalam saku dress yang sedang ia kenakan.
"Ya, Sayang. Sebentar," sahut Alina.
Erlan tersenyum setelah Alina menjawab panggilannya. Sekarang ia sedikit tenang karena ternyata istri kecilnya itu baik-baik saja. Alina bergegas menghampiri pintu kemudian membukanya. Ia menyunggingkan sebuah senyuman kepada Erlan setelah pintu tersebut terbuka.
"Ya, Mas?"
"Kamu baik-baik saja 'kan, Sayang?" tanya Erlan sembari memperhatikan wajah Alina yang terlihat cemas dan memucat.
"Ya, aku baik-baik saja, Mas. Memangnya kenapa, Mas?" tanya Alina balik.
Erlan merengkuh pundak Alina kemudian menggiring wanita itu kembali ke kamar mereka. "Wajahmu terlihat berbeda hari ini? Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu, Sayang?" tanya Erlan sembari mendudukkan wanita itu di tepian tempat tidur mereka.
"Serius?!" Erlan menatap lekat kedua bola mata Alina dan dari situ ia tahu bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh istri mungilnya tersebut.
"Ya, Mas! Aku serius, sangat serius."
"Ya, sudah kalau begitu. Sebaiknya kita ke ruang makan. Mommy sudah menunggu kita di sana bersama Arkana." Erlan meraih tangan Alina kemudian menuntunnya keluar dari kamar mereka.
"Mas, apa pendapatmu jika seorang bayi yang usianya baru beberapa bulan seperti Arkana harus mempunya adik baru?" tanya Alina dengan wajah kusut.
Erlan menautkan kedua alisnya kemudian melirik Alina yang berjalan di samping tubuhnya. "Kamu sudah dengar kabar itu, ya?" tanya Erlan balik.
Alina tampak kebingungan, ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan suaminya barusan. "Loh, kabar apa, Mas?"
"Kabar tentang istri Sean yang kecolongan," sahut Erlan.
Alina menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung kemana arah pembicaraan mereka sekarang ini. Ia bertanya masalah A, suaminya malah menjawab dengan masalah B.
"Kecolongan apa sih, Mas? Aku tidak mengerti apa maksudmu," tanya Alina.
"Lah, bukannya kamu bertanya soal Baby Rendra yang akan segera punya adik baru? Imelda 'kan kecolongan dan sekarang ia harus sering cek kandungan ke Dokter karena jarak Baby Rendra yang begitu dekat dengan calon adik barunya," sahut Erlan.
"Hah, serius?!" pekik Alina dengan mata membulat sempurna. "Busyet, kenapa bisa jadi pas begini?!" gumam Alina.
"Loh, aku kira kamu membicarakan masalah Baby Rendra, ternyata bukan, ya?" sambung Erlan dengan wajah bingung.
"Ehm, iya benar! Ya, ini tentang Baby Rendra, Mas. Hanya saja aku agak kurang nyambung hari ini," sahut Alina sambil tersenyum kecut.
Erlan masih tampak bingung, tetapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh kepada istri mungilnya itu. Setibanya di ruang makan, mereka pun segera duduk dan bergabung bersama Mommy Afiqa yang sedang asik memberikan MP ASI untuk Baby Arkana.
...***...