
Jerat Asmara Sang Mafia
Author : Komalasari
Love is blind. Sebuah quote paling terkenal dan mungkin sesuai untuk Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di benua Eropa. Dia telah jatuh cinta kepada wanita bersuami yaitu Florecita Mia. Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu.
Adriano memilih untuk menghilang dan menutup masa lalunya. Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan sang wanita pujaan. Bedanya, saat itu Mia telah menjadi janda. Wanita yang dulu pernah mencoba menghabisi nyawanya, kini menghadap dan meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.
Cuplikan Bab 1
Adriano yang saat itu duduk sambil menyilangkan kaki, menatap tajam ke arah Mia. Kedua tangannya dia letakan lurus mengikuti lengan kursi kayu. Adriano mencengkeram erat ujung dari lengan kursi tersebut. Dia seakan tengah menahan sebuah gejolak amarah yang teramat kuat. “Apa maksud dari semua ini, Mia? Kau ingin bermain-main denganku?” pertanyaan yang sederhana tapi terdengar sangat menakutkan bagi Mia, karena diiringi nada bicara yang terasa begitu tajam dan menusuk hati kecil wanita itu. Mia tak segera menjawab. Dia memikirkan rangkaian kata yang dirasa pantas untuk diungkapkan kepada seroang Adriano, agar pria itu dapat memahami maksudnya. “Kenapa kau diam? Apa kau tak memiliki cukup alasan selain untuk kembali melarikan diri atau ….” Adriano tak melanjutkan kata-katanya. Tatapan tajam itu masih terus menyerang Mia, membuat wanita yang tengah dilanda kegalauan tersebut semakin terlihat gelisah.
Sesaat kemudian, Adriano menyunggingkan sebuah senyuman simpul. Tanpa mengubah posisi duduknya, pria itu kembali berkata, “Jangan memulai sesuatu yang sekiranya hanya akan membuatmu semakin merasa terbebani. Ingatlah bahwa akan selalu ada harga yang harus dibayar dalam sebuah perjanjian. Kau pikir aku tidak paham atas maksudmu ini?” ucapan Adriano lagi-lagi membuat Mia seperti kehilangan kata-kata. Dia semakin tak dapat berbicara dan mengungkapkan maksud yang ada dalam hatinya.
Namun, Mia harus memaksakan dirinya untuk berbicara. “Memangnya berapa harga yang harus kubayar?” tanya Mia pada akhirnya. Dia memberanikan diri untuk melawan tatapan tajam pria tampan itu.
“Jangan menawarkan sesuatu yang tidak bisa kau penuhi. Kau tahu sedang berurusan dengan siapa, Mia? Aku mahir dalam berisnis dan juga melakukan negosiasi. Adriano D'Angelo tak ingin melakukan sesuatu yang sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi dirinya,” Adriano menarik tangan kanan yang sejak tadi terulur lurus mengikuti lengan kursi, kemudian dia tekuk ke atas. Pria itu mengusap-usap dagunya yang dihiasi janggut tipis.
Sementara Mia masih merasa bingung. Entah bagaimana Adriano bisa menebak apa yang telah dia rencanakan. Sungguh bahwa pria di hadapannya itu bukanlah seseorang yang sembarangan. Adriano begitu sulit untuk ditebak. Entah seperti apa karakter asli dari pria tersebut. Dia dapat berubah menjadi sosok yang lain dalam waktu yang sangat cepat.
“Kau harus tahu bahwa aku sangat membutuhkan bantuanmu,” ucap Mia lagi mencoba membujuk dan meyakinkan Adriano.
“Aku pasti akan membantumu tanpa harus kau minta,” jawab Adriano datar dan terlihat seriusm
“Sungguh?” Mia meyakinkan lagi.
Namun, Adriano malah memalingkan wajahnya seraya mendengus kesal. Napas pria itu terdengar memburu. “Kenapa kau harus menawarkan sesuatu yang menjadi keinginanku, Mia!” tegasnya dengan penekanan yang cukup dalam, seraya mengepalkan tangannya.
“Pada akhirnya aku tetap akan merasa berutang budi padamu,” ujar Mia resah.
“Lalu apa yang akan kau lakukan jika menjadi istriku?” nada bicara Adriano terdengar semakin tegas. Dia kembali mengarahkan pandangannya kepada Mia. “Aku tidak yakin kau akan mampu menjalani hal itu, Florecita Mia,” ucap pria itu lagi ragu.
Mia tak segera menjawab. Untuk sesaat, wanita bermata cokelat itu kembali merenungkan jalan yang akan diambilnya. “Mari kita buat sebuah kesepakatan,” ucapnya kemudian. Nada bicaranya terdengar pelan tapi cukup tegas. Mia tampaknya sudah benar-benar yakin dengan keputusannya.
“Bantu aku mengungkap pembunuh Matteo. Aku yakin kau bisa melakukan hal itu dengan mudah, mengingat betapa besarnya pengaruh dan jaringan yang kau miliki di daratan Eropa. Kekuasaanmu begitu luas, kau bisa melakukan segalanya tanpa ada hambatan apa pun ” jelas Mia dengan nada bicara dan sorot mata yang dipenuhi oleh keyakinan.
“Satu tahun sudah berlalu. Akan tetapi, pihak yang berwajib belum juga mampu mengungkap kasus ini. Begitu pula dengan Marco yang terus bekerja keras. Namun, semuanya seakan sia-sia,” tutur Mia lagi dengan penuh sesal. “Aku sering mendengar percakapan antara paman Damiano dengan Ricci dan juga Marco. Hatiku sakit karena hingga saat ini suamiku belum mendapatkan keadilannya. Aku berjanji, setelah kau dapat menemukan siapa pelaku dari pembunuh Matteo ... maka ... maka aku akan menyerahkan diriku padamu seutuhnya,” Mia menatap Adriano dengan tegas meskipun tubuhnya bergetar hebat saat mengatakan hal itu.
Adriano terdiam. Dia terlihat tidak nyaman setelah mendengar penjelasan dari Mia. Tampak pria itu menelan ludah beberapa kali demi membasahi tenggorokannya yang terasa kering, hingga dia tak mampu berkata apa-apa. Adriano kembali mere•mas kencang pegangan kursi kayu itu. “Kau ... bersedia menyerahkan dirimu padaku?” tanyanya seakan meyakinkan penawaran yang Mia berikan.
“Ya,” jawab Mia yakin.
“Sampai kapan?” tanya Adriano lagi.
“Selama yang kau inginkan,” jawab Mia tanpa ada rasa ragu. Apapun akan dia lakukan demi mendapatkan keadilan bagi sang suami, yang haknya telah terenggut paksa oleh seseorang yang bahkan tidak dia ketahui dengan jelas.
Mendengar jawaban demikian dari Mia, Adriano segera beranjak dari tempat duduknya. Dia menghampiri wanita yang masih duduk dengan anggun, di atas kursi yang berada tak jauh dari tempat duduknya tadi. Dengan segenap kekuatan yang dia miliki, Adriano memutar kursi itu hingga menghadap padanya. Pria bertubuh tegap tersebut lalu sedikit membungkuk dengan bertumpu pada kedua tangan yang dia letakan di sisi kiri dan kanan pegangan kursi yang Mia duduki. Adriano kemudian semakin mendekat, sehingga membuat Mia sedikit mendongak dan menatap pria itu. “Kalau begitu mari kita menikah, karena aku ingin memilikimu selamanya. Aku berjanji padamu, akan segera menemukan pembunuh Matteo de Luca,” ucap Adriano tegas dan penuh penekanan. Suara beratnya menggema di depan wajah Mia.
Seakan tercekik saat Mia mendengar ucapan dari Adriano. Namun, itulah harga yang harus dia bayar dalam kesepakatan tersebut. “Baiklah. Kita akan segera menikah. Akan tetapi, kau harus ingat dengan perjanjian kita. Jangan pernah menyentuhku, sebelum kau dapat membawa pembunuh Matteo ke hadapanku,” tegas Mia menahan rasa bergejolak dalam dirinya. Tak terbayangkan apa yang akan terjadi seandainya Adriano dapat melakukan hal itu. Mia harus bersiap untuk menyerahkan dirinya.
Adriano menunjukan seringainya kepada Mia. “Aku akan mengingat hal itu, Mia. Aku tak akan menyentuhmu sebelum mempersembahkan mayat dari pembunuh Matteo ke hadapanmu, kecuali ... jika kau sendiri yang datang padaku untuk menyerahkan dirimu dengan sukarela,” hangat napas Adriano Mia rasakan di permukaan wajahnya. Pria itu tampak sangat berbeda kali ini. Dia kembali terlihat menakutkan, sama seperti saat memberikan ancamannya kepada Mia beberapa hari yang lalu. Namun, Mia berusaha untuk tetap terlihat tenang. Wanita cantik itu semakin mengatupkan kakinya. Dia tersenyum canggung, meskipun saat itu dadanya terasa bergemuruh kencang.
“Ibu ....” suara lembut Miabella terdengar di ruangan itu dan seakan menjadi penyelamat bagi Mia yang akhirnya dapat bernapas lega. Seketika Adriano menegakan tubuhnya dan menoleh pada gadis kecil itu. Sementara Mia sibuk mengatur napasnya.
“Bella,” sapa Adriano diiringi senyuman hangat. Dengan langkah tegap, pria berkemeja putih itu berjalan menghampiri Miabella yang berdiri di dekat pintu. Adriano pun menurunkan tubuhnya di hadapan gadis kecil berambut cokelat tersebut. “Tadinya aku ingin melihatmu bermain piano, tapi sepertinya aku terlambat. Tak apa, kita akan memiliki banyak waktu,” ujar Adriano yang segera mengangkat tubuh mungil Miabella dan mengendongnya dengan sebelah tangan saja. Bobot sekecil Miabella, bukanlah hal yang terlalu berarti untuk si pemilik tubuh tegap itu.
“Lihatlah, aku membawakan sesuatu untukmu,” Adriano meraih paper bag yang diletakannya di atas meja. Dia lalu mendudukan Miabella pada salah satu kursi. Melihat hal itu, Mia segera bangkit dan menghampiri mereka. Diperhatikannya raut wajah Adriano yang seketika terlihat berbeda ketika sedang berhadapan dengan putrinya. Pria itu mengeluarkan sepasang sepatu cantik dengan merk ternama untuk gadis kecil bermata abu-abu tersebut. “Apa kau menyukainya, Bella?”
Miabella tersenyum seraya mengangguk. Dia lalu mendongak kepada Mia yang kemudian mengelus rambut panjangnya. “Ibu menyukainya?” tanya Miabella polos.
Mia menanggapi pertanyaan gadis kecil itu dengan sebuah anggukan setuju. “Itu sepatu yang sangat cantik, Sayang,” ucap Mia seraya mengecup pucuk kepala putrinya. Dia lalu melirik Adriano yang ternyata tengah menatapnya. Namun, Mia tak ingin melawan tatapan itu. Dia lebih memilih untuk menghindar dan kembali mengalihkan perhatiannya kepada Miabella. “Apa kau ingin kubuatkan sesuatu untuk makan siang, Bella?” tawar Mia lembut.
“Aku ingin mengajak paman tampan untuk bermain. Bolehkah, Bu?” tanya Miabella membuat kedua orang dewasa itu saling pandang setelah mendengar sebutan gadis kecil tersebut untuk Adriano.
...****************...