My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pernikahan Imelda



Malam itu, setelah mendapatkan tugas tersulit dari Bossnya, Sean pun bergegas mengemudikan mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Beruntung saat itu masih buka dan Sean pun bisa bernapas lega.


Ketika memasuki sebuah toko khusus menjual pakaian wanita, keraguan sempat menguasai hati lelaki itu. Ia menghentikan langkah kakinya sembari memperhatikan tempat itu dengan seksama. Hingga akhirnya seorang karyawan toko menghampirinya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya dengan sebuah senyuman hangat yang terus mengambang di wajahnya.


"Aku butuh beberapa potong pakaian wanita lengkap dengan braa serta celana dalamm dengan size M. Oh ya, ingat pilih yang kualitasnya paling bagus dan trend saat ini. Soalnya ini untuk Istri dari Bossku dan soal harga, berapa pun itu akan aku bayar."


Mendengar penuturan Sean barusan, wanita itu pun senang bukan main. Ia segera menghampiri atasannya kemudian menceritakan permintaan Sean.


Wanita yang merupakan pemilik dari toko tersebut tidak kalah senang mendengarnya. Bagai ketiban durian runtuh, mereka pun bergegas mengobrak-abrik toko mereka dan memberikan yang terbaik, yang mereka miliki untuk Sean.


Setelah beberapa saat, acara belanja Sean pun selesai dan berjalan dengan lancar. Setelah membayar total belanjaannya, Sean pun segera pulang dengan membawa banyak barang belanjaan yang akan ia berikan kepada Alina besok pagi.


***


Keesokan harinya.


Di kediaman Pak Heri dan Bu Dita terlihat ramai dengan orang-orang. Para tetangga sebelah rumahnya sibuk membantu mereka, mempersiapkan makanan, minuman dan sebagainya, sebelum para tamu undangan berdatangan.


Di dalam kamar Imelda. Gadis itu tengah dirias oleh seorang MUA yang sengaja disewa oleh Bu Dita untuk menyambut hari spesial anak kesayangannya itu. Ya, hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk seorang Imelda.


Hari ini ia akan bersanding dengan kekasih hatinya. Siapa lagi kalau bukan Chandra Putra Pratama, lelaki yang sudah menanamkan benih di rahim gadis itu.


"Bagaimana, Bu. Imelda sudah cantik, 'kan?" tanya Imelda dengan wajah semringah menatap Bu Dita yang masih berdiri di sampingnya.


Imelda memang terlihat sangat cantik dengan kebaya pengantin modern yang membalut erat tubuh indahnya. Penampilannya semakin terlihat sempurna setelah dipadukan dengan berbagai macam aksesoris cantik yang kini menghiasi telinga, leher dan juga lengannya.


"Kamu benar-benar cantik, Imelda." Bu Dita mengelus lembut wajah Imelda.


"Ih, Ibu! Jangan di sentuh, donk. Nanti Make Up-ku malah luntur," ucapnya dengan wajah menekuk karena Bu Dita baru saja menyentuh pipinya.


Bu Dita tersenyum. "Iya, maafkan Ibu. Tapi, kamu tenang saja, Imelda. Make Up-mu masih menempel sempurna, kok."


MUA yang sedang merias wajah Imelda sempat mencebikkan bibirnya setelah mendengar ucapan gadis itu. Ia merasa sedikit kesal karena sifat Imelda yang kurang sopan terhadap Bu Dita.


Setelah beberapa saat, gadis itu pun selesai dirias. Bu Dita menuntun Imelda menuju pelaminan dengan wajah semringah. Wanita paruh baya itu pun turut bahagia menyaksikan kebahagiaan putri kesayangannya. Walaupun sebenarnya ia harus menjatuhkan harga dirinya untuk memperoleh kebahagiaan itu.


Berbanding terbalik dengan Bu Dita, Pak Heri malah terlihat tidak bahagia. Wajahnya kusut, sekusut hati dan pikirannya. Sebenarnya ia tidak menginginkan Imelda menikah dengan lelaki itu. Namun, karena Bu Dita terus mendesaknya, dengan sangat terpaksa Pak Heri pun menuruti keinginan Sang Istri demi kebahagiaan Imelda sendiri.


Di tempat terlaksananya acara tersebut, ternyata tamu undangan sudah berdatangan dan kebanyakan dari mereka adalah keluarga, teman dekat, sahabat, kerabat jauh, serta rekan bisnis Bu Dita dan Pak Heri.


Namun, di antara banyaknya tamu undangan, tak ada satupun tamu dari pihak Pak Agung dan Bu Kirana. Karena Pak Agung dan Bu Kirana memang tidak mengundang siapapun. Mereka tidak ingin keluarga, kerabat, serta rekan bisnis mereka tahu bahwa besan dan menantu mereka bukanlah orang yang selevel dengan mereka.


Kini Imelda duduk bersanding di pelaminan bersama Chandra. Chandra pun terlihat sangat gagah dengan setelan jas yang berwarna senada dengan kebaya pengantin yang dikenakan oleh Imelda.


Walaupun Chandra terlihat sangat tampan, tetapi sayang tak ada sedikitpun senyuman menghiasi wajah tampannya. Wajahnya terus menekuk, bahkan tidak sekali-dua kali lelaki itu berdecak kesal.


"Sayang, terima kasih karena sudah bersedia menerimaku kembali." Imelda meraih tangan Chandra kemudian memeluknya.


Chandra menoleh ke arah gadis itu sambil menekuk wajahnya. "Seandainya ini bukan permintaan Ibumu, mungkin kamipun tidak akan pernah berada di tempat ini!" ketusnya.


Imelda menautkan kedua alisnya sembari menatap lekat wajah tampan Chandra. "Apa maksudmu, Sayang?"


"Apa kamu tidak tahu bahwa Ibumu sudah mengemis dan bersimpuh di hadapan kami hanya untuk menyelamatkan dirimu yang putus asa, Imelda. Kasihan! Hanya demi kebahagiaan dirimu, Ibumu harus menangis dan bersimpuh di depan keluargaku," sahut Chandra sambil tersenyum sinis.


Imelda menelan salivanya dengan susah payah. Ia baru tahu sekarang kalau ternyata semua ini terjadi karena adanya campur tangan dari Bu Dita.


"Ja-jadi Ibuku ke tempat kalian dan memohon agar kalian bisa menerimaku, begitu?" tanya Imelda dengan terbata-bata.


"Ya, miris sekali, bukan?" Chandra tersenyum sinis sembari membuang muka.


Setelah mengetahui hal itu, ekspresi Imelda berubah. Yang tadinya ia begitu bersemangat menyambut hari pernikahannya, kini semangat itu hilang entah kemana.


"Dan satu lagi yang harus kamu ingat, Imelda. Setelah kita menikah, jangan coba-coba mengatur hidupku. Jangan pernah ikut campur dalam urusanku. Kamu mengerti?!" ucap Chandra dengan setengah mengancam.


"Ya, aku mengerti."


Di sepanjang acara pernikahannya, Imelda hanya diam. Begitupula Chandra, lelaki itu bahkan tak pernah menampakkan senyumnya sedikitpun. Bahkan hingga di saat sesi pemotretan, lelaki itu tetap memasang wajah malasnya.


Fotografer yang bertugas memotret moment-moment bahagia mereka, sampai bosan meminta Chandra untuk tersenyum. Hingga akhirnya, lelaki itu mengalah dan membiarkan apapun yang dilakukan oleh mempelai pria.


"Sekarang kita berfoto bersama, ya!" ucap Fotografer sembari memanggil Pak Agung dan Bu Kirana yang berdiri di samping kanan kedua mempelai. Namun, pasangan suami-istri tersebut menolaknya dengan keras.


"Tidak usah, biar mereka saja," ketus Pak Agung.


"Loh, nanti mereka tidak punya foto kenang-kenangan bersama kalian donk, Pak." Fotografer menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ini adalah acara pernikahan yang paling aneh yang pernah ia temui selama menjadi Fotografer.


"Tidak masalah. Lanjutkan saja," titah Pak Agung dengan wajah angkuhnya.


Pak Heri dan Bu Dita saling tatap setelah mendengar dan melihat ekspresi kedua orang tua Chandra dan mereka pun menghembuskan napas panjang.