
"Sean, maafkan aku. Aku masih belum bisa kembali. Mungkin liburanku akan kuperpanjang untuk beberapa hari lagi," ucap Erlan kepada Sean, asisten pribadinya via telepon.
Sean mengerutkan kedua keningnya. Ini pertama kalinya Erlan begitu betah menikmati hari liburannya. Ya, Erlan adalah sosok lelaki yang begitu mencintai pekerjaannya. Bahkan lelaki itu tidak pernah mengambil cuti hingga selama ini.
"Baik, Tuan. Tentu saja," jawab Sean.
Sean sebenarnya sangat penasaran, apa yang membuat lelaki itu betah tinggal di kota kakak perempuannya. Padahal biasanya paling lama tiga hari ia berada di tempat itu. Walaupun penasaran, tetapi Sean tidak berani mempertanyakan hal itu lebih jauh lagi kepada Erlan.
Setelah memutuskan panggilannya bersama Sean, Erlan pun segera menyimpan ponsel tersebut ke dalam saku celana. Ia bangkit dari posisi duduknya kemudian bergegas keluar dari kamar tersebut.
Karena begitu penasaran dengan sosok Alina, Erlan rela bangun pagi-pagi sekali. Setelah melakukan ritual paginya seperti membereskan tempat tidur, mandi dan berpakaian yang rapi, ia pun bersiap untuk mengunjungi kediaman Alina.
Ya, hari ini jadwal kegiatan Erlan adalah mengunjungi kediaman Alina kemudian ikut menjajakan nasi uduk buatan gadis itu berkeliling kampung. Itupun jikalau Alina mengijinkan dirinya untuk melakukan itu.
"Erlan, tumben sudah rapi aja. Eh, kamu gak pulang hari ini 'kan?" sapa Rara yang sedang membantu pelayan mempersiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Wanita itu kebingungan melihat Erlan yang sudah kelihatan rapi.
"Tidak, Kak. Aku belum ingin pulang bahkan rencananya aku ingin memperpanjang liburanku dua atau tiga hari lagi. Itupun kalau Kakak tidak keberatan aku berada di sini," sahut Erlan sembari tersenyum manis.
Rara terkekeh pelan mendengar ucapan Erlan. Bukan hanya Rara, bahkan suaminya pun ikut tersenyum mendengarnya.
"Tumben, Lan. Biasanya malah kamu yang gak betah tinggal berlama-lama di sini," goda Abimanyu Kusumah, suami Rara (Kakak Ipar Erlan).
"Nah, barusan Kakak ingin ngomong gitu. Kami sih tidak masalah, Lan. Malah sebaliknya, kami senang kalau kamu betah berada di sini. Benar 'kan, Daddy?" sambung Rara.
"Ya, benar." Abimanyu mengangguk pelan.
"Ya, sudah. Aku pamit dulu ya, Kak. Ada yang harus aku lakukan hari ini," ucap Erlan sembari melangkahkan kakinya.
"Loh, loh, loh, gak sarapan dulu, Lan?!" pekik Rara.
"Aku sarapan di luar aja, Kak. Sudah telat soalnya." Tanpa berpaling sedikitpun, Erlan melangkahkan kakinya menuju halaman depan rumah Rara, di mana mobilnya sedang terparkir.
"Eh, anak itu! Telat katanya, memangnya dia mau kemana, sih?" gumam Rara seraya duduk di salah satu kursi, bergabung bersama Arsilla dan juga suaminya yang sudah memulai sarapan mereka di ruangan itu.
"Silla tau, Mom, kemana Om Erlan pergi," celetuk Arsilla sambil tersenyum lebar serta dengan mata yang membesar menatap sang Mommy.
"Hssttt! Tapi, jangan bilang-bilang ya, Mom!" Dengan wajah serius Arsilla menatap Mommy dan Daddy-nya secara bergantian.
Rara dan Abimanyu saling tatap kemudian tertawa pelan melihat ekspresi bocah kecilnya itu. "Baiklah, baiklah. Mommy dan Daddy tidak akan bilang sama siapa-siapa. Emangnya Om Erlan mau kemana, sih? Jangan bikin Mommy dan Daddy penasaran donk, Silla."
"Ke tempat Kak Alina, Kakak cantik penjual nasi uduk itu loh, Mom!" Lagi-lagi Arsilla membulatkan matanya saat memberitahu hal itu kepada orang tuanya.
Rara menautkan kedua alisnya, begitupula Abimanyu. Antara percaya dan tidak percaya dengan penuturan Arsilla saat itu.
"Alina siapa sih, Mom?" tanya Abimanyu kepada Sang Istri yang masih terdiam dengan wajah bingung.
"Alina, gadis penjual nasi uduk yang kemarin menyelamatkan Arsilla, Dad. Tapi, apa itu benar?"
"Benar donk, Mom! Silla tidak bohong. Om Erlan sendiri yang cerita sama Silla bahwa Om Erlan pengen bantu Kak Alina jualan nasi uduk. Aduh, mulut Silla nakal, deh! Padahal Silla udah janji sama Om Erlan gak akan bilang-bilang masalah ini kepada siapapun, termasuk Mommy dan Daddy," sambung Arsilla sambil menepuk-nepuk bibirnya pelan.
Rara terdiam sejenak dan nampak wanita itu tengah berpikir. Raut wajahnya pun terlihat sedikit berbeda dari sebelumnya.
Sementara itu, Erlan terus melajukan mobilnya menuju kediaman Alina. Hingga beberapa saat kemudian, ia pun tiba di depan rumah Alina yang pintunya masih tertutup rapat.
Tanpa Erlan sadari, para tetangga julid sudah ramai mengintip dirinya sambil berceloteh ria dengan sesama mereka dari kejauhan.
"Eh, apa sebaiknya kita usir saja gadis itu dari kampung kita ini? Kalau terus dibiarkan seperti ini, bisa-bisa kita semua kena sialnya!" celetuk salah seorang Ibu yang memang sering menyebar gosip tentang Alina.
"Ih, Ibu benar! Lagipula saja kok jijik lihat gadis itu gonta-ganti lelaki seperti itu. Takutnya anak gadis kita malah ikut-ikutan seperti dia lagi," sambung yang lainnya.
"Baiklah kalau begitu, kita kumpulkan dulu para warga dan bicarakan masalah ini. Jika semua setuju, maka secepatnya kita usir saja dia!"
Tok ... tok ...tok ....
Alina yang sedang merapikan susunan nasi uduk di dalam keranjang, terkejut setelah mendengar suara ketukan di pintu depan rumahnya.
"Siapa yang mengetuk pintu, ya?" gumam Alina sambil berpikir. Ada rasa cemas di hatinya karena setelah Bu Nadia meninggal, tak ada satupun warga kampung yang sudi mengunjunginya.
...***...