
"Sebaiknya kita pulang saja, Daddy malu lama-lama berada di sini," ucap Pak Agung kepada Bu Kirana yang masih mematung menatap Baby Rendra dari kejauhan. Ia menarik pelan tangan Sang Istri agar mengikuti langkahnya meninggalkan tempat itu.
Namun, Bu Kirana malah menarik tangannya kembali. Ia masih ingin berada di tempat itu. Tiba-tiba permintaan aneh mencuat dari bibir wanita itu. "Dad, apa tidak sebaiknya kita temui cucu kita? Sebentar saja," pinta Bu Kirana kepada Pak Agung.
Pak Agung menghembuskan napas berat sambil memijit pelipisnya. "Apa kamu tidak malu, Mih? Bukankah dulu kita pernah menolak dan menginginkan bayi itu untuk segera disingkirkan? Dan sekarang, tiba-tiba saja kamu ingin menghampiri mereka kemudian memohon agar diberikan kesempatan untuk melihat bayi itu kembali? Apa tidak salah?!" pekik Pak Agung.
Bu Kirana menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli apapun yang akan dikatakan oleh mereka. Yang aku inginkan saat ini hanya satu, melihat cucu pertama dan juga cucu satu-satunya kita," jawabnya acuh.
Bukannya mendengarkan ucapan Sang Suami, Bu Kirana malah berjalan ke arah Bu Dita dan Pak Heri. Pak Agung yang masih ingat malu, mencoba menghentikan aksi nekat Bu Kirana saat itu.
"Mih, berhentilah! Sebaiknya kita pulang. Biarkan bayi itu bersama mereka. Daddy yakin mereka pasti merawatnya dengan baik bahkan lebih baik dari pada kita," ucap Pak Agung yang mencoba membujuk Bu Kirana.
"Aku tidak akan mengambil bayi itu dari mereka, Daddy. Aku hanya ingin melihatnya saja. Syukur-syukur mereka mengijinkan aku untuk menyentuh bayi mungil itu," jawab Bu Kirana yang masih nekat berjalan ke arah Pak Heri dan Bu Dita.
"Tolonglah, Mih. Sebaiknya kita pulang saja! Jangan bikin malu," ucap Pak Agung lagi.
Jangankan peduli, Bu Kirana terus saja melangkahkan kakinya. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Bu Dita yang sedang asik menggendong Baby Rendra.
Bu Dita membulat mata dengan sempurna ketika sadar siapa yang sedang berada di hadapannya. "Kalian? Sedang apa kalian di sini? Ingin mengacaukan pernikahan anakku?" ucap Bu Dita dengan wajah memerah menatap Bu Kirana dan Pak Agung secara bergantian.
Setelah menyadari kedatangan Bu Kirana dan Pak Agung, Pak Heri pun bergegas merangkul tubuh Bu Dita dan mencoba melindungi istri serta cucunya dari pasangan itu.
"Maafkan saya, Pak Heri, Bu Dita. Sedikit pun saya tidak memiliki niat buruk kepada kalian, apalagi kepada Imelda yang tengah berbahagia. Malah sebaliknya, kami ikut bahagia setelah tahu bahwa ternyata Imelda adalah wanita yang dipilih oleh Tuan Sean untuk menjadi pasangan hidupnya. Namun--"
Bu Kirana menghentikan ucapannya sembari menatap Pak Agung yang masih setia berada di sampingnya.
"Namun, apa?!" sahut Bu Dita, masih memasang ekspresi wajah kesal dan marah kepada pasangan yang berdiri di hadapannya dengan wajah menyedihkan.
"Sebenarnya tujuan saya ke sini hanya ingin melihat wajah cucu kami lebih dekat lagi, boleh 'kan?!" tanya Bu Kirana dengan ragu-ragu.
Bu Dita dan Pak Heri tertawa sinis setelah mendengar ucapan Bu Kirana. Mereka tertawa karena merasa lucu. Jika dulu keluarga sombong Pak Agung selalu menertawakan dan bahkan menganggap remeh keluarganya. Sekarang berbanding terbalik karena roda kehidupan akan terus berputar.
"Apa kami tidak salah dengar, Bu Kirana? Cucu kalian? Mana, di mana?!" sahut Bu Dita yang masih menggendong Baby Rendra.
Pak Agung hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia benar-benar malu dan seandainya Bu Kirana tidak keras kepala, mungkin saat ini mereka sudah di perjalanan pulang dan bukan dipermalukan seperti sekarang.
"Sudahlah, Mih. Sebaiknya kita pulang saja," ajak Pak Agung lagi sembari menarik tangan Bu Kirana dengan perlahan.
Namun, lagi-lagi Bu Kirana menolak ajakan Pak Agung karena ia masih ingin berada di sana sambil memperhatikan wajah tampan Baby Rendra.
...***...