
"Kami setuju dan kami menerima lamaranmu, Nak Edgar!" sahut Daddy dengan sangat antusias.
"No! No! No! Tidak bisa begitu, Dad! Aku bahkan belum mengiyakan lamaran Edgar," sahut Olivia dengan wajah kesal. Ia berdiri di hadapan kedua orang tuanya sambil menyilangkan tangan ke dada dan wajahnya masih menekuk sempurna.
"Jawabanmu itu tidak penting, Olivia. Lagi pula kami semua sudah tahu apa jawabanmu," sahut Daddy.
"Tapi, Dad! Saat ini aku belum resmi bercerai dari suamiku! Hakim bahkan belum selesai ketuk palu," sahut Olivia.
Melihat aksi Olivia yang menurut Edgar kurang sopan, segera meraih tangan wanita itu dan mengajaknya untuk kembali ke posisi semula. "Duduklah, Olivia. Tidak baik bersikap seperti itu kepada kedua orang tuamu."
Olivia yang masih kesal, ternyata bersedia menuruti keinginan Edgar dan kembali ke posisinya yang tak jauh dari tempat Edgar duduk. Melihat Olivia yang tampak patuh kepadanya, Edgar pun tersenyum.
"Apalagi yang kamu harapkan dari perkawinanmu yang gagal itu, Olivia? Minta rujuk?" Daddy menghembuskan napas kasar.
"Apa kamu sudah lupa bahwa Erlan sudah sering mengatakan bahwa dia sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadamu. Kamu bahkan sudah diserahkan oleh lelaki itu kepada kami," kesal Daddy dengan sorotan mata tajam menatap Olivia.
Apa lagi saat ini Erlan sudah menikah dengan gadis pilihannya. Jadi sebaiknya kamu pun begitu, lupakan saja lelaki itu dan mulailah kehidupan barumu bersama Edgar!" lanjut Daddy.
Olivia terdiam dan ia tampak sedang memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Daddy-nya.
"Dengarkan Daddy-mu sekali ini saja, Olivia. Jadilah anak baik yang mau mengikuti nasehat orang tua. Selama ini kami selalu mengalah kepada setiap keinginan-keinginan anehmu yang kadang-kadang tidak masuk akal itu. Termasuk mempertahankan pernikahanmu ini. Apa kamu tidak capek, Olivia?! Kami yang hanya melihatnya saja capek, apa lagi kamu yang merasakannya?! Hanya saja, kamu terlalu keras kepala," tutur Mommy dengan nada kesal.
Olivia menghembuskan napas berat. "Beri aku waktu untuk berpikir. Aku tidak bisa menjawabnya sekarang," sahut Olivia pada akhirnya.
Mommy dan Daddy saling tatap dan saling melemparkan senyum. Paling tidak, hari ini Olivia tidak menolak lamaram Edgar, melainkan hanya meminta waktu untuk berpikir.
"Olivia!" Edgar bangkit dan berdiri beberapa langkah dari Olivia berada.
Olivia menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Edgar. "Ada apa?"
Lelaki itu berjalan menghampiri Olivia sambil tersenyum kecut. Setelah berada tepat di hadapan Olivia, ia pun kembali mengeluarkan kotak perhiasan berisi cincin berlian itu kepada Olivia.
"Ambillah, Olivia. Jika kamu menerima lamaranku, pakailah cincin ini. Tetapi jika kamu menolak lamaranku kamu bisa membuangnya, atau kamu bisa memberikannya kepada seseorang yang lebih membutuhkannya."
Olivia memperhatikan kotak perhiasan yang berada di atas telapak tangan Edgar dengan seksama.
"Aku berjanji padamu, Olivia. Ini adalah usaha terakhirku untuk mendapatkanmu. Jika kamu menolak, maka setelah ini aku tidak akan pernah menampakkan batang hidungku lagi di hadapanmu," lanjut Edgar dengan wajah sendu menatap Olivia.
Kini tatapan Olivia beralih pada lelaki tampan yang sedang mengemis cinta di hadapannya. Setelah beberapa saat kemudian, Olivia meraih kotak perhiasan tersebut dan membawa benda mungil itu bersamanya meninggalkan ruangan tersebut tanpa berkata sepatah katapun.
"Kamu tenang saja, Nak Edgar. Kami pastikan setelah ini dia pasti akan menerima lamaranmu," ucap Mommy yang kini berdiri di samping lelaki itu sambil mengelus pundaknya dengan lembut.
"Semoga saja, Mom." Edgar masih tersenyum kecut.
Sebenarnya Edgar masih ragu bahwa Olivia bersedia menerima lamarannya. Namun, seperti yang sudah ia katakan kepada Olivia sebelumnya, bahwa ini adalah usaha terakhirnya untuk meluluhkan hati wanita itu.
Dan jika Olivia tetap menolaknya, maka Edgar berjanji tidak akan pernah muncul di hadapan Olivia apalagi mengganggu kehidupan wanita itu.
...***...