My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Penjelasan Edgar



"Ini semua salahmu, Edgar! Kenapa malam itu kamu renggut kesucianku dan dengan bangganya, kamu malah merekam kejadian itu!" Olivia tidak bisa menahan kekesalannya. Wanita itu terisak sambil memukul-mukul dada Edgar dengan kedua tangannya.


Edgar terdiam sejenak sambil menahan rasa sakit dari pukulan Olivia yang bertubi-tubi menyerang dada bidangnya. Ia pasrah apapun yang akan di lakukan oleh wanita itu kepadanya.


Flash Back On


Malam itu Erlan dan Olivia bertengkar hebat. Olivia mengajak Erlan untuk melakukan hubungan yang memang tidak seharusnya mereka lakukan. Erlan terus menolak karena ia ingin melakukannya setelah hubungan mereka benar-benar sah.


Olivia yang kecewa terhadap penolakan Erlan, pergi begitu saja meninggalkan lelaki itu. Untuk meluapkan kekesalannya, Olivia mengajak teman-temannya ke club malam dan menghabiskan waktu mereka di tempat itu sambil meminum minuman memabukkan. Ketika masih dalam keadaan setengah mabuk, Olivia memilih pulang.


Namun, tiba-tiba saja Olivia mengurungkan niatnya. Tidak mungkin ia pulang ke kediaman orang tuanya dengan kondisi mabuk seperti itu. Bisa-bisa ia di marahi habis-habisan oleh Mommy dan Daddy-nya.


Setelah berpikir sejenak, Olivia memilih mengunjungi kediaman Edgar, teman sekaligus lelaki yang selama ini begitu tergila-gila padanya. Namun, sayangnya Edgar bukanlah tipe Olivia.


Lelaki itu hanya seorang pekerja biasa dan tidak sehebat Erlan yang merupakan pewaris harta kekayaan mendiang sang Daddy. Hal itu membuat Olivia berpikir ulang beribu-ribu kali menerima cinta lelaki itu. Ya, walaupun sebenarnya Edgar termasuk lelaki yang memiliki paras rupawan.


Setibanya di kediaman Edgar, kedatangan Olivia segera disambut hangat oleh lelaki itu. Kondisi Olivia yang sudah setengah mabuk membuat wanita itu melakukan hal-hal aneh yang di luar kendalinya.


Olivia melepaskan pakaian yang dikenakannya kemudian melemparkannya ke sembarang arah. Tidak cukup sampai di situ, Olivia juga merebahkan dirinya di atas tempat tidur Edgar. Sebagai lelaki normal, hal itu tentu saja membangkitkan hasrattnya sebagai seorang laki-laki.


"Apa yang kamu lakukan, Olivia?" Edgar menghampiri Olivia dan mencoba menutupi tubuh polos wanita itu dengan menggunakan selimut.


Namun, Olivia menolaknya. Ia yang sudah tidak sadarkan diri, menepis selimut tersebut kemudian melemparkannya lagi. Wanita itu tersenyum hangat menatap Edgar dan mengajak lelaki itu ke dalam pelukannya.


"Ayolah, Sayang! Kita lakukan hal itu, ya?" ajak Olivia sembari meletakkan tangan Edgar ke salah satu bulatan kenyal miliknya.


Tubuh Edgar panas dingin dan juniornya pun sudah mulai bangkit di bawah sana. "Kamu serius, Olivia?!" tanya Edgar sembari menatap lekat kedua bola mata wanita itu.


"Ya, Sayang. Aku serius, sangat serius!"


Malam itu dengan penuh semangat Edgar melakukan semua keinginan Olivia dan tidak lupa, ia juga merekam kegiatan panas mereka dengan menggunakan kamera ponsel. Edgar dengan sengaja merekam adegan panas tersebut untuk dijadikan kenang-kenangan.


Permainan mereka berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Edgar mengerang di atas tubuh Olivia dan begitu pula sebaliknya. Olivia menegang sambil mencengkeram erat punggung lelaki itu, hingga meninggalkan jejak kemerahan.


"Uuhghh! Erlan ...." Di sela desahann yang keluar dari bibir Olivia, terdengar nama Erlan di sebutkan oleh wanita itu dan seketika membuat hati Edgar menciut.


"Erlan?!" gumam Edgar. Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata Olivia menganggapnya sebagai Erlan dan bukanlah sebagai Edgar.


"Sayang! Kenapa menjauh? Kemarilah, kumohon," lirih Olivia.


Edgar menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Maafkan aku, Olivia. Aku harus segera ke kamar mandi."


Cukup lama Edgar berada di dalam kamar mandi. Setelah beberapa saat, ia pun keluar dari ruangan itu dan ternyata Olivia sudah tertidur di atas tempat tidur dengan sangat nyenyak. Edgar menghampirinya kemudian menutupi tubuh polos Olivia dengan selimut.


"Selamat tidur, Olivia. Semoga mimpi indah." Edgar melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala wanita itu.


Keesokan paginya, Olivia menjerit ketika sadar bahwa dirinya tidur di sebuah kamar yang terlihat begitu asing baginya. Apalagi saat itu kondisi tubuh Olivia polos, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh indahnya.


"Aaakkhhh!!!" jerit Olivia.


Flash Back Off


"Maafkan aku, Olivia. Namun, salahkah jika saat itu aku tidak bisa mengendalikan hasratku sebagai seorang laki-laki? Kamu datang dan menawarkan kehangatan kepadaku, Olivia. Sedangkan kamu sendiri tahu bahwa sudah lama aku tergila-gila padamu," tutur Edgar mencoba menjelaskan semua yang terjadi di malam itu.


"Tapi ini tidak adil, Edgar! Padahal kamu tahu saat itu pernikahanku dengan Erlan hanya tinggal beberapa minggu lagi. Namun, dengan teganya kamu hancurkan impianku dalam sekejab mata. Sekarang aku tanya padamu! Pasti kamu 'kan yang mengirimkan video tersebut kepada Erlan tepat di hari pernikahan kami! Kamu tidak senang melihat aku dan Erlan bahagia, makanya kamu lakukan hal menjijikan itu padaku," kesal Olivia.


"Jika kamu bertanya apakah aku yang mengirimkan video panas itu kepada Erlan? Jawabannya adalah 'ya'. Aku lah yang mengirimkan video tersebut kepada Erlan. Kenapa? Karena aku tidak ingin dia terjebak olehmu, Olivia. Dan jika kamu katakan bahwa aku memang sengaja melakukan hal menjijikan itu kepadamu, maka jawabannya adalah 'tidak'. Aku tidak pernah berniat melakukan hal itu padamu, Olivia. Tapi, kamu sendirilah yang menawarkannya secara suka rela kepadaku," jelas Edgar dengan wajah serius menatap Olivia.


"Kurang ajar!" Olivia tidak bisa membendung kekesalannya. Ia kembali memukul dada Edgar berkali-kali sambil menangis histeris.


"Sudah cukup, Olivia!" Edgar meraih kedua tangan wanita itu kemudian menahannya agar berhenti memukuli tubuhnya. "Bukankah sudah aku katakan padamu, bahwa aku siap bertanggung jawab atas perbuatanku?! Kenapa kamu masih tidak mengerti, Olivia?"


"Menikah denganmu?! Memangnya kamu siapa? Perusahaan apa yang kamu miliki hingga berani menghayal mempersuntingku sebagai seorang istri? Jika kamu memiliki perusahaan yang lebih besar dari Erlan, maka datanglah padaku. Dengan senang hati aku akan menerima lamaranmu," sahut Olivia dengan kasar.


Edgar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis. "Ternyata semua ini hanya tentang kekayaan dan jabatan, Olivia?! Astaga, aku tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya," ucap Edgar.


"Sudah, diam! Karena kamu yang menciptakan masalah ini, maka kamu harus selesaikan semuanya, Edgar! Beritahu Erlan, jelaskan kepada lelaki itu agar ia mengerti dan kembali padaku, bagaimanapun caranya!" titah Olivia.


Edgar kembali tersenyum sinis. "Maafkan aku, Olivia. Tapi, aku tidak akan pernah melakukannya," sahut lelaki itu.


Jika ada banyak typo mohon di maklumi ya, reader. Hp Author lagi ngehank sejak tadi pagi. Susah diajak ngetik, 🙏🙏🙏


...***...