My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Olivia VS Mom And Dad



"Maksud Mommy apaan sih?!" Olivia menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


Ekspresi wajah Mommy dan Daddy-nya terlihat agak berbeda dari biasanya. Jika selama ini mereka selalu nampak murung ketika berhadapan dengan anak perempuannya itu. Namun, berbeda dengan hari ini. Ekspresi wajah mereka terlihat lebih ceria dan membuat Olivia sedikit merasa curiga.


"Kami ingin menjodohkanmu dengan seorang lelaki tampan, baik, dan kariernya pun lumayan bagus. Ya, walaupun dia bukan seorang pengusaha sukses seperti Erlan. Tetapi Mommy dan Daddy yakin, lelaki itu bisa membuat kamu bahagia. Benar 'kan, Dad?!" Sang Mommy melemparkan sebuah senyuman hangat kepada Sang Suami yang masih setia berdiri di samping tubuhnya.


"Ya, Olivia. Apa yang dikatakan oleh Mommy-mu benar. Kami berencana ingin menjodohkanmu dengan seorang lelaki yang menurut kami sangat cocok untukmu," lanjut Sang Daddy.


"Siapa?" Olivia mulai memasang wajah malas saat bersitatap dengan kedua orang tuanya. Ia mulai tahu ke mana arah pembicaraan mereka kali ini.


"Edgar!" seru kedua orang tua Olivia secara bersamaan. Mereka saling melempar senyum satu sama lain dan pasangan itu tampak bahagia ketika menyebutkan nama Edgar.


Olivia menghembuskan napas kasar sembari memutarkan bola matanya. "Sudah kuduga! Jadi, orang yang mengantarkan aku ke tempat ini si Edgar?! Dan apa yang sudah dijanjikan oleh lelaki itu kepada kalian, hingga kalian begitu bersemangat ingin menjodohkan kami!?" tanya Olivia dengan wajah kesal menatap kedua orang tuanya.


"E-eh! Jangan salah ya, Nona! Edgar adalah lelaki yang baik. Kami tidak butuh iming-iming ataupun janji dari lelaki itu. Cukup dengan melihat keseriusan dan sikap bertanggung jawab dari lelaki itu, kami sudah yakin bahwa dia memang lelaki yang cocok buatmu, Nak," sahut Sang Daddy.


"Ah, sudahlah. Kalian teruslah bermimpi karena aku tidak ingin dan tidak akan pernah membuka hatiku untuk lelaki itu! Tidak akan pernah!"


Olivia bangkit dari posisinya kemudian melangkah menuju pintu kamar. Namun, wanita itu sempat menghentikan langkahnya sejenak karena tiba-tiba saja kepalanya kembali berputar akibat pengaruh minuman yang ia tenggak tadi malam.


"Uhh!" gumam Olivia sembari memijit kepalanya yang masih sakit.


"Olivia, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Kamu bisa kembali ke kediamanmu jika kondisi kamu sudah mulai baikan," bujuk Sang Mommy.


"Tidak, terima kasih. Aku harus kembali karena masih ada hal penting yang harus aku lakukan," sahut Olivia yang kembali melanjutkan langkahnya keluar dari kamar tersebut.


Mommy dan Daddy Olivia hanya bisa saling tatap kemudian menggelengkan kepala mereka. Mereka tahu bagaimana sikap keras kepala putri semata wayang mereka tersebut.


"Ya, kamu benar, Dad," sahut Sang Istri sembari memperhatikan kepergian Olivia yang semakin menjauh kemudian menghilang dari pandangan mereka.


Sementara itu, Olivia terus saja menggerutu di sepanjang ruangan yang ia lewati. Ia masih kesal karena tiba-tiba saja kedua orang tuanya tersebut begitu bersemangat menjodohkan dirinya dengan Edgar.


"Aku yakin Edgar pasti sengaja menceritakan sebuah kebohongan tentang dirinya agar Mommy dan Daddy percaya bahwa dia adalah lelaki yang hebat dan mampu menggantikan posisi Erlan di sampingku. Heh, yang benar saja!" gumamnya dengan wajah menekuk.


Setibanya di halaman depan kediaman kedua orang tuanya, Olivia segera memanggil sopir pribadi milik sang Daddy dan meminta lelaki itu untuk mengantarkannya kembali ke kediamannya.


"Mang, antarkan aku kembali ke kediamanku," titahnya sembari masuk ke dalam mobil milik sang Daddy.


"Baik, Nona." Lelaki itu bergegas menyusul anak perempuan majikannya tersebut, kemudian mereka pun segera berangkat menuju kediaman milik Olivia.


Di perjalanan, Olivia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya tadi malam di kamar Edgar.


"Ayolah, Olivia! Ingat, apa saja yang sudah kamu lakukan tadi malam bersama lelaki itu!" Olivia memukul-muluk kepalanya agar dapat mengingat kejadian yang ia lalui bersama Edgar tadi malam.


Tiba-tiba saja Olivia membulatkan matanya dengan sempurna. Bahkan mulutnya pun ikut-ikutan menganga. "Ya, Tuhan! Jangan sampai hal bodoh itu kembali terulang!" pekiknya.


Olivia memeriksa keadaan tubuhnya, ia ingin mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan apa yang telah terjadi padanya. Namun, ia tidak menemukan apapun yang aneh pada dirinya dan hal itu membuat Olivia merasa lega.


"Ah, syukurlah!"


...***...