
"Sean, percepat jadwal rapat hari ini. Barusan Pelayan di rumah Mommy menelpon katanya Mommy sedang sakit."
"Nyonya sakit?" gumam Sean sambil menautkan kedua alisnya. "Ehm, baiklah, Tuan."
***
Setelah rapat selesai, Sean pun bergegas mengantarkan Erlan ke kediaman Nyonya Afiqa. Setibanya di sana, ternyata Rara juga sudah tiba di tempat itu.
Rara tersenyum hangat menyambut kedatangan adik lelakinya itu. Ia menghampiri Erlan kemudian segera memeluknya.
"Loh, kok sendirian, Lan? Alina tidak ikut?" tanya Rara.
"Aku baru dikasih tau sama pelayan ketika sudah berada di kantor, Kak. Selesai rapat, aku pun segera ke sini, jadi tidak sempat menjemput Alina. Lagi pula aku ragu Mommy sudi bertemu dengannya," sahut Erlan sembari membalas pelukan dari Rara.
Rara mengerucutkan bibir sembari melerai pelukannya bersama Erlan.
"Kamu lihat Daddy-nya Arsilla?" Rara menunjuk ke arah taman, di samping rumah mewah milik Sang Mommy. Tampak Abimanyu tengah mengajak Arsilla bermain di taman itu.
"Mas Abimanyu hanya sebentar menemaniku menemui Mommy dan setelah itu ia lebih memilih mengajak Arsilla bermain di sana. Pengalaman terakhirnya bertemu Mommy, mungkin membuat Mas Abimanyu merasa minder. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana mulut Mommy kalau sudah mau ngomong," tutur Rara
.
"Ya, aku tahu, Kak. Makanya aku harus berpikir dua kali mengajak Alina bersamaku."
"Ya, untuk sekarang mungkin lebih baik seperti itu. Kita berdoa saja, semoga suatu saat nanti Mommy bisa membuka hatinya untuk menerima kehadiran kedua menantu miskinnya, Alina dan Mas Abimanyu." Rara terkekeh pelan sembari menuntun Erlan memasuki ruangan mewah tersebut.
"Ya, semoga saja."
Erlan dan Rara pun segera melangkah menuju bangunan mewah tersebut. Erlan sempat menyapa Abimanyu sebelum ia memasuki kediaman Sang Mommy.
"Kak," sapa Erlan.
Erlan dan Rara pun kembali melanjutkan langkah mereka memasuki rumah tersebut dan berjalan menuju sebuah kamar mewah yang di tempati oleh Nyonya Afiqa. Sementara Erlan dan Rara menemui Mommy mereka, Sean lebih memilih bergabung bersama Abimanyu dan Arsilla di taman tersebut.
"Mom," sapa Erlan yang baru saja tiba di kamar tersebut.
Ia segera duduk di samping tempat tidur Nyonya Afiqa kemudian mengelus puncak kepala wanita paruh baya tersebut dengan lembut. Suhu tubuh Nyonya Afiqa saat itu sudah mulai kembali normal dan ia pun tampak berkeringat. Sedangkan Rara, Kakak perempuan Erlan tersebut memilih duduk di sisi lain tubuh Nyonya Afiqa.
"Erlan sayang, kamu kah itu?" tanya Nyonya Afiqa seraya membuka matanya yang masih terasa berat. Ia tersenyum ketika melihat sosok Erlan sudah berada di sampingnya.
"Ya, Mom. Erlan sudah berada di sini. Apa Mommy sudah makan? Kalau belum, biar Erlan suapin, ya?" bujuk Erlan.
Nyonya Afiqa menggelengkan kepalanya pelan. "Mommy tidak mau, Erlan. Makanan yang masuk ke mulut Mommy terasa pahit semua," ungkapnya.
"Tidak boleh begitu, Mom. Mommy harus tetap makan biar cepat sembuh dan bisa beraktivitas lagi seperti sebelumnya. Ayo, bilang sama Erlan, Mommy mau makan apa, biar nanti Erlan yang belikan."
Nyonya Afiqa terdiam sejenak sambil memperhatikan kedua anaknya secara bergantian. Sepertinya ada yang ingin ia katakan kepada Erlan, tetapi ia ragu untuk mengatakannya.
Erlan mengangkat kedua alisnya. Ia tahu ada sesuatu yang ingin di ucapkan oleh Sang Mommy kepadanya. "Ada apa, Mom? Katakan saja, jangan malu."
Sekarang tatapan Nyonya Afiqa fokus kepada Rara dan hal itu membuat Rara bingung. "Kenapa Mommy menatap Rara seperti itu?" tanya Rara dengan wajah heran. Namun, sedetik berikutnya Rara pun mengerti bahwa Mommy-nya hanya ingin bicara berdua saja dengan anak lelakinya.
"Oh, baiklah!" Rara menghembuskan napas kasar kemudian segera beranjak dari kamar tersebut dengan wajah menekuk. Setelah Rara keluar dari kamarnya, sekarang Nyonya Afiqa fokus kepada Erlan.
"Ada apa, Mom?" tanya Erlan sekali lagi.
"Erlan, sebenarnya Mommy ingin makan sesuatu tapi ...." Nyonya Afiqa kembali terdiam. Sedangkan Erlan dengan sabar menunggu lanjutan kata-kata yang akan melengkapi ucapan Sang Mommy.
...***...