My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Melahirkan



Erlan tiba di lobby dengan keringat bercucuran di pelipisnya sedangkan Alina masih berada di dalam gendongan lelaki itu.


"Di mana Sean? Apa dia sudah tiba?!" gumam Erlan sambil memperhatikan sekelilingnya, mencoba mencari keberadaan Sean. Namun, sepertinya Sean belum juga tiba karena jarak kediaman Sean dan Apartemen Erlan lumayan jauh.


"Ya, Tuhan! Tahan sebentar lagi ya, Sayang," lirih Erlan dengan mata berkaca-kaca menatap Alina yang sedang menahan rasa sakit pada perutnya.


Semakin sakit yang Alina rasakan, semakin erat ia mencengkram piyama tidur yang dikenakan oleh Erlan. Dan dari situ Erlan tahu bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh istri kecilnya itu.


"Oh, Sean cepatlah!" kesal Erlan.


"Mas, turunkan aku! Aku sudah tidak tahan lagi!" pekik Alina sambil menarik piyama yang dikenakan oleh Erlan dengan lebih keras lagi sehingga membuat piyamanya robek.


"Sebentar lagi, Sayang! Ya," sahut Erlan yang semakin panik.


Tepat di saat itu, Sean tiba. Dengan langkah cepat, Erlan membawa Alina menghampiri mobil Sean. Begitupula Sean, lelaki itu dengan cepat menyambut kedatangan Erlan dan membukakan pintu untuknya.


"Cepat, Sean! Alina sudah tidak tahan lagi."


"Baik, Tuan!" Setelah Erlan masuk ke dalam mobilnya, Sean meletakkan barang-barang keperluan Alina beserta bayinya ke dalam bagasi dan setelah itu ia pun bergegas membawa majikannya tersebut ke Rumah Sakit.


Walaupun hanya berjarak 15 menit dari Apartemen ke Rumah Sakit. Namun, bagi Erlan perjalanan ini adalah perjalanan paling lama yang pernah ia tempuh di sepanjang hidupnya. Ditambah lagi, perjalanannya dipenuhi dengan rintihan dari Sang Istri yang sedang kesakitan.


"Ya, Tuhan! Tidak bisakah lebih cepat lagi, Sean?!" ucap Erlan dengan setengah kesal.


"Sebentar lagi kita akan tiba di Rumah Sakit, Tuan," sahut Sean yang sebenarnya juga sangat panik.


Benar kata Sean, mereka pun akhirnya tiba di depan Rumah Sakit terbaik di kota tersebut. Di mana Erlan memilih dan mempercayakan kelahiran anak pertamanya di tempat ini.


Setelah Erlan membawa Alina keluar dari mobilnya, para tim medis pun berbondong-bondong menghampiri lelaki itu kemudian membawa Alina ke ruang observasi untuk melakukan pemeriksaan serta mengganti pakaiannya.


Salah seorang perawat yang ingin mengecek bukaan Alina saat itu membulatkan matanya dengan sempurna. Ia dikejutkan dengan kepala bayi mungil yang sudah terlihat jelas di depan area pribadi Alina.


Tanpa pikir panjang, Dokter pun segera memerintahkan para Perawat untuk segera membawa Alina ke ruang bersalin. Tak mau ketinggalan, Erlan pun mengikuti para perawat yang membawa istrinya ke ruang tersebut.


Erlan berdiri di samping Alina yang tengah berbaring sambil menggenggam erat tangannya.


"Jangan jauh-jauh dariku ya, Mas!" lirih Alina sambil menitikkan air matanya.


Entah mengapa perasaanya saat itu tidak menentu. Ada rasa bahagia dan sedih yang bercampur menjadi satu. Alina terus terbayang-bayang wajah Ibunya, di mana ia selalu berharap wanita itu dapat menemaninya di saat-saat seperti ini.


"Ya, Sayang! Aku berjanji akan selalu berada di sampingmu!" jawab Erlan.


Setibanya di ruangan bersalin, para Perawat dengan sigap meletakkan tubuh Alina ke atas tempat tidur yang ada di ruangan tersebut. Setelah itu merekapun bergegas menyiapkan peralatan medis yang mereka butuhkan untuk membantu proses persalinan Alina.


Sedangkan Erlan memilih duduk di samping tempat tidur Alina setelah ia mendapatkan izin dari Dokter untuk menemani istri kecilnya itu melahirkan. Bibir Erlan terus berkomat-kamit, mendoakan yang terbaik untuk Alina sambil terus mengusap lembut puncak kepala istri kecilnya itu.


Dokter yang baru saja tiba di ruangan itu segera menghampiri Alina dan ingin memeriksanya. Namun, baru saja ia menyingkap pakaian Alina, tiba-tiba saja matanya terbelalak. "Ya Tuhan, bayinya sudah hampir keluar!"


Erlan yang masih setia duduk di samping Alina, terlihat gugup setelah mendengar ucapan Sang Dokter. Dokter mengajak Alina berbicara dan memberikan instruksi cara mengejan yang baik dan benar kepada Alina secara singkat dan jelas.


Walaupun Dokter menjelaskannya secara singkat dan jelas, tetapi Alina mengerti apa yang dimaksud oleh Dokter tersebut. Ketika rasa sakit itu muncul kembali, Alina pun segera mengejan sesuai petunjuk yang dikatakan oleh Dokter barusan.


"Ya, bagus, Nona! Sedikit lagi!" pekik Dokter.


Hingga akhirnya, Oeee ... Oeee ... Oeee ...


Terdengar suara tangisan bayi Alina dan Erlan, memecahkan ketegangan di ruangan itu. Semua orang tersenyum bahagis menyambut kelahiran bayi tersebut. Terlebih Alina dan Erlan.


...***...