My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Maafkan Mommy



"Maafkan Mommy, Erlan. Mommy memang sengaja tidak meminta izin kepadamu melakukan tes ini. Mommy tahu, walaupun Mommy meminta izin kepadamu, kamu pasti tidak akan pernah mengizinkannya."


"Tapi kenapa Mommy harus melakukan ini? Apakah kemiripan Baby Arkana denganku masih belum cukup untuk meyakinkan Mommy bahwa dia adalah anakku?" tutur Erlan dengan wajah kecewa menatap Nyonya Afiqa. Ya, Erlan benar-benar kecewa karena ternyata Mommy masih meragukan Baby Arkana sebagai anak kandungnya.


"Sebenarnya bukan seperti itu, Nak. Setelah Mommy melihat wajah Baby Arkana dengan mata kepala Mommy sendiri, Mommy yakin bahwa dia adalah cucu Mommy. Namun, keyakinan itu belum cukup, Erlan. Mommy butuh bukti, bukti bahwa dia memang benar-benar anak kandungmu, cucu Mommy," tutur Nyonya Afiqa dengan mata berkaca-kaca.


Erlan mengacak rambutnya kasar kemudian menghembuskan napas berat. "Ya, Tuhan!"


Hanya satu yang dikhawatirkan oleh Erlan saat ini. Bagaimana reaksi jika Alina tahu bahwa ternyata diam-diam Mommy-nya sudah melakukan tes DNA kepada bayi mereka. Ia yakin Alina pasti sangat kecewa.


Sementara itu di dalam kamar, selesai menyusui Baby Arkana, Alina kembali meletakkan bayi mungilnya tersebut ke tempat tidur kemudian memutuskan untuk menyusul Erlan dan Nyonya Afiqa yang masih berbincang di ruang tamu.


Melihat dari ekspresi Erlan ketika memanggil Nyonya Afiqa saat itu, Alina tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi pada Erlan dan wanita paruh baya itu. Ternyata apa dipikirkan oleh Alina benar. Di ruangan itu tampak Erlan dan Nyonya Afiqa tengah berdebat dengan serius.


Alina sempat menghentikan langkahnya setelah mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka di ruangan itu. Ia terkejut dan benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Nyonya Afiqa masih belum yakin seratus persen bahwa Baby Arkana adalah cucunya.


Alina menghembuskan napas panjang sebelum ia meneruskan langkahnya menghampiri Erlan yang masih tampak kecewa.


"Mas," sapa Alina seraya menyentuh punggung Erlan yang berdiri membelakanginya.


Erlan begitu terkejut. Ia segera berbalik kemudian menatap Alina dengan wajah sendu. "Sayang, kamu ...." Erlan tidak berani melanjutkan kata-katanya.


"Aku sudah dengar semuanya, Mas." Walaupun sejujurnya Alina merasa sangat kecewa, tetapi ia tetap berusaha tersenyum dan menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


"Maafkan Mommy, Alina," sela Nyonya Afiqa sambil menghiba.


Erlan meraih tubuh mungil Alina ke dalam pelukannya kemudian melabuhkan ciuman di puncak kepala istri mungilnya itu berkali-kali.


"Kamu tidak marah?" tanya Erlan setelah puas mencium istri kecilnya itu.


Alina yang masih berada di dalam pelukan Erlan, menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Mas."


Erlan menghembuskan napas panjang sembari melerai pelukannya bersama Alina. Sekarang tatapannya tertuju pada Nyonya Afiqa yang terlihat murung karena merasa bersalah kepada Erlan dan Alina.


Erlan berjalan menghampiri Nyonya Afiqa kemudian segera memeluk tubuh Sang Mommy. "Maafkan Erlan juga ya, Mom. Tidak seharusnya Erlan sekesal itu kepada Mommy," ucap Erlan.


Nyonya Afiqa terisak di dalam pelukan Erlan. Ia terharu karena Erlan dan Alina bersedia memaafkan kesalahannya. "Maafkan Mommy, Erlan."


"Nah, begitu 'kan enak," ucap Alina yang ikut menyandarkan kepalanya di lengan kekar Erlan.


Erlan yang masih memeluk tubuh Sang Mommy, mengacak pelan puncak kepala Alina sambil tersenyum bangga. Ia bangga karena memiliki seorang istri dengan hati seluas samudera. Jangankan hanya kesalahan sepele seperti ini, kesalahan besar pun bisa Alina lupakan.


Nyonya Afiqa yang masih menangis penuh haru, menyentuh wajah Alina dengan lembut. "Maafkan Mommy ya, Alina."


"Sama-sama, Mom," jawab Alina dengan senyuman hangat yang terus tersungging di wajah cantiknya.


...***...