My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pernikahan Sean Dan Imelda



"Mas Erlan, ayo bangun!" Alina yang sudah terlihat cantik dengan dress semata kaki, menarik tangan kekar Erlan yang masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya yang nyaman.


"Hemm," gumam Erlan yang enggan membuka matanya.


"Ayolah, Mas. Buka matamu, apakah kamu lupa bahwa hari ini adalah hari pernikahan asisten pribadimu?" tutur Alina yang mulai kesal karena lelaki itu masih enggan melepaskan selimut serta gulingnya.


"Lima menit lagi," jawabnya, masih dengan mata terpejam.


Alina melepaskan tangan Erlan kemudian menatap jam dinding yang terpajang di dinding kamarnya. Menurut Alina mereka sudah terlambat dan lelaki itu masih meminta waktu lima menit lagi untuk melanjutkan tidurnya.


"Tidak bisa, Sayang. Belum lagi mandi dan berpakaian, itu akan memakan waktu berjam-jam lagi. Jadi kapan kita berangkatnya," kesal Alina sambil menatap Erlan yang terlihat begitu tampan dengan wajah bantalnya.


"Cium dulu," bujuk Erlan sambil mempererat pelukannya di guling kesayangannya.


"Tapi janji harus bangun beneran, ya?" ucap Alina.


"Hmm."


Alina mendekatkan wajahnya ke wajah Erlan yang masih berpura-pura tertidur dan ketika jarak mereka hanya beberapa centi, Erlan langsung menyerang bibir istri mungilnya itu.


"Ehm, Mas! Eummpp ...."


Cukup lama mereka beradu ciuman panas di atas tempat tidur hingga akhirnya Alina melerainya. Ia mendorong pelan tubuh Erlan yang tengah mengungkung tubuhnya.


"Sudah 'kan?" tanya Alina dan dibalas dengan anggukan oleh Erlan. Alina bergegas bangkit dari tempat tidur kemudian menarik tangan suaminya tersebut agar segera ikut dengannya.


Erlan menurut saja dan mengikuti Alina yang kini menuntunnya ke kamar mandi. Setelah membukakan pintu kamar mandi tersebut, Alina mendorong pelan tubuh Erlan agar lelaki itu segera masuk kemudian melakukan ritual mandinya.


"Mandi yang benar, ya!" goda Alina sembari menutup kembali pintu ruangan tersebut.


"Ish, dasar!" Erlan tertawa pelan kemudian segera melakukan ritual mandinya. Sementara suaminya tengah mandi, Alina kembali merapikan penampilannya yang agak berantakan setelah di ganggu oleh suaminya.


Satu jam kemudian.


"Ayo, Sayang! Kita sudah terlambat," ucap Erlan dengan langkah cepat menghampiri Alina yang sudah menunggunya di ruang utama bersama Babysitter dan Baby Arkana.


"Nah 'kan, baru sadar bahwa kalau kita sudah terlambat," goda Alina sambil tertawa pelan.


"Iya, Sayang. Maafkan aku," jawab Erlan yang membiarkan Alina merapikan dasi serta jasnya.


Setelah selesai, mereka pun segera berangkat menuju hotel, di mana Erlan dan Alina juga mengadakan acara pernikahannya di tempat itu. Setibanya di sana, ternyata benar. Mereka sudah terlambat. Semua tamu sudah berkumpul bahkan Sean dan Imelda sudah bersanding di depan penghulu.


"Bagaimana para saksi, sah?!" tanya Pak Penghulu.


"Sah!" jawab para saksi.


"Huwah, tepat sekali!" gumam Erlan sembari tersenyum puas karena paling tidak ia sempat mendengar kata 'sah' yang di ucapkan oleh para saksi di pernikahan Sean dan Imelda.


Setelah acara ijab kabul selesai, Sean dan Imelda pun bersanding di pelaminan megah yang berdiri kokoh di hadapan seluruh tamu undangan. Imelda terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin modern berwarna gold, selaras dengan setelan jas yang dikenakan oleh Sean.


"Mari, Sayang. Kita hampiri mereka," ajak Erlan seraya menarik pelan tangan Alina. Tidak lupa, ia juga mengajak Baby Arkana bersamanya.


"Wah, Sean! Akhirnya kamu melepaskan masa lajangmu juga," goda Erlan seraya mengulurkan tangannya kepada Sean.


"Terima kasih, Tuan." Sean menyambut uluran tangan Erlan dengan mata berkaca-kaca.


"Baby Arkana tampan sekali," ucap Imelda sambil mencolek pipi chubby Baby Arkana yang sedang berada di pelukan Erlan.


"Di mana bayimu, Imelda?" tanya Alina.


"Di sana, bersama Ibuku," sahut Imelda sembari menunjuk ke arah Bu Dita yang sedang menggendong Baby Rendra.


"Baiklah, selamat sekali lagi, ya! Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi," tutur Alina seraya mendorong pelan tubuh Erlan yang berada di depannya agar segera pergi dan memberikan kesempatan untuk tamu lain yang juga ingin memberikan selamat untuk pasangan itu.


"Ya, nanti kita sambung lagi!" sahut Imelda dengan wajah semringah.


...***...