My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Negatif



Beberapa hari kemudian.


"Bagaimana hasilnya, Dok?!" tanya Bu Dita yang sudah tidak sabaran ingin tahu bagaimana hasilnya. Rasa penasaran Bu Dita bahkan melebihi rasa penasaran Imelda saat itu.


Dokter tersebut tersenyum hangat. "Selamat ya, Bu, hasilnya negatif. Baik itu Nona Imelda ataupun Bayinya, aman," jawab Dokter dengan wajah semringah.


Karena saking bahagianya, Imelda bahkan tidak sadar berteriak histeris di ruangan itu kemudian memeluk tubuh Bu Dita yang duduk di sampingnya dengan erat sambil menitikkan air mata.


"Terima kasih banyak ya, Tuhan!" seru Imelda.


"Syukurlah, Nak. Akhirnya Tuhan mendengarkan doa Ibu," sahut Bu Dita seraya membalas pelukan Imelda.


"Ya, Bu. Aku sangat bersyukur sekali karena yang paling aku khawatirkan di sini adalah bayiku. Aku tidak bisa membayangkan jika penyakit itu menjangkiti tubuh kecilnya," lirih Imelda seraya melerai pelukannya bersama Sang Ibu.


"Tuhan itu adil, Mel. Dia tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya," sahut Bu Dita.


Sang Dokter tidak hentinya tersenyum melihat kebahagiaan Ibu dan anak yang sedang duduk di hadapannya itu. Ia pun turut bahagia dengan hasil tes tersebut.


"Maafkan kami, Dok. Kami terlalu bahagia sampai lupa tempat," ucap Bu Dita dengan wajah merona malu.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya pun turut bahagia," jawab Dokter.


Bu Dita dan Imelda segera kembali ke ruangan NICU setelah urusan mereka selesai di ruangan Dokter tersebut. Dengan wajah semringah, kedua wanita beda generasi itu melangkahkan kaki mereka menghampiri Pak Heri yang sejak tadi sudah menunggu.


"Bagaimana, Bu?" tanya Pak Heri yang juga begitu penasaran.


"Negatif, Yah!" sahut Bu Dita dengan sangat antusias.


"Oh, syukurlah." Pak Heri menghampiri Imelda kemudian memeluknya dengan erat.


Sementara itu, di tempat lain.


"Astaga, kamu lagi!" pekik Olivia sambil memutarkan bola matanya ketika melihat sosok Edgar berdiri di depan pintu rumahnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu manis.


"Maaf jika aku mengganggumu, Olivia."


"Mau apa?" tanya Olivia seraya memperhatikan penampilan Edgar yang terlihat berbeda dari biasanya. Menurut Olivia, lelaki itu terlihat jauh lebih tampan.


Saat itu Edgar mengenakan celana jeans model teranyar serta baju kaos polos berwarna putih yang melekat erat di tubuh kekarnya. Kemudian ditutupi oleh jaket jeans berwarna biru malam, senada dengan warna celana jeans yang sedang ia kenakan.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu, Olivia. Sesuatu yang sangat penting bagiku. Ya, walaupun bagimu hal ini sangatlah tidak penting," lirih Edgar sambil tersenyum getir menatap Olivia.


"Katakanlah," sahut Olivia yang masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.


"Tidak bisakah tamumu ini dipersilakan masuk dan duduk di kursi mewahmu?" ucap Edgar.


"Tidak!" sahut Olivia dengan cepat, singkat dan jelas.


"Ya, sudah kalau begitu." Edgar kembali tersenyum kemudian duduk di lantai tepat di hadapan Olivia.


"Eh, kamu ngapain?!" pekik Olivia ketika melihat Edgar duduk di lantai depan pintu, di mana ia berdiri saat ini. Dan hal itu membuat Olivia merasa sangat tidak nyaman. "Bagaimana jika ada tetanggaku yang melihat hal ini, bisa-bisa mereka akan beranggapan jelek tentangku!" seru Olivia dengan wajah panik.


Olivia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia membuka pintu yang sejak tadi menjadi tempatnya bersandar kemudian mempersilakan Edgar untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Masuklah," ucap Olivia dengan intonasi suara yang terdengar sangat terpaksa.


Edgar tersenyum puas karena akhirnya wanita itu kalah strategi darinya. Ia berhasil masuk ke dalam rumah mewah itu walaupun ia tahu bahwa Olivia terpaksa melakukannya.


"Duduklah dan segera katakan apa maksud dan tujuanmu datang ke sini?!" ucap Olivia seraya menjatuhkan dirinya di sofa yang ada di ruang tamu.


Edgar duduk di sofa tersebut kemudian mulai merogoh saku jaketnya di bagian dalam. Ia meraih sebuah kotak kecil berwarna merah hati dengan list berwarna gold.


Sekarang kotak cantik berukuran kecil itu sudah berada di tangannya. Ia memperlihatkan benda tersebut kepada Olivia sambil tersenyum hangat.


"Maukah kamu menikah denganku, Olivia?" ucap Edgar seraya membuka kotak berwarna merah tersebut. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah cincin berlian berharga mahal yang dipesan khusus oleh Edgar untuk Olivia.


Olivia memperhatikan cincin itu dengan seksama kemudian memperhatikan ekspresi wajah Edgar. Begitu terus hingga berulang-ulang dan pada akhirnya wanita itu pun tergelak.


"Menikah?!" pekiknya.


"Ya Olivia, menikah. Aku ingin melamarmu hari ini. Kalau perlu, aku akan datang ke kediaman kedua orang tuamu untuk menyampaikan keinginanku yang memang terdengar sangat menggelikan ini," sahut Edgar.


Sontak Olivia menghentikan tawanya dan kini menatap Edgar dengan tatapan serius. "Kamu serius?"


"Ya, sangat serius!"


...***...