My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Mommy Bisa Jelaskan



Cukup lama Nyonya Afiqa mengunjungi mereka hari itu. Bahkan Baby Arkana pun sudah beberapa kali terbangun dari tidurnya karena kehausan.


Seperti saat ini, Baby Arkana kembali membuka mata meminta haknya kepada Alina. Dengan sigap, Alina mengajak bayi mungil itu ke kamar kemudian menyusuinya.


Ternyata Nyonya Afiqa masih tidak ingin berada jauh-jauh dari cucu tampannya. Ia ikut masuk ke dalam kamar kemudian duduk di samping Alina sambil mengelus puncak kepala Baby Arkana.


"Lihatlah matanya, Mom. Aku sangat menyukai matanya, persis seperti milik Mas Erlan," ucap Alina sambil tersenyum lebar.


Nyonya Afiqa pun turut memperhatikan kedua biji manik milik Baby Arkana yang memang benar-benar seratus persen milik Sang Ayah dan ia pun ikut tersenyum. "Ya, Nak. Persis seperti Daddy-nya," sahut Nyonya Afiqa.


Sementara kedua wanita itu tengah asik membicarakan tentang Baby Arkana, Erlan lebih memilih menunggu di sofa sambil memainkan ponselnya. Saat itu ia sedang berbalas chat bersama Sean yang sedang ambil cuti beberapa hari.


Setelan selesai berbalas chat bersama asistennya itu, Erlan pun meletakkan ponselnya ke atas meja. Ketika ia meletakkan benda pipih tersebut ke atas meja, tidak sengaja tangan Erlan menyenggol tas milik Nyonya Afiqa yang memang sejak tadi berada di atas meja tersebut.


Akibatnya, tas milik Nyonya Afiqa pun terjatuh ke lantai ruangan. Barang-barang yang ada di dalam tas tersebut menghambur keluar dan berserak di bawah meja beserta tas mahalnya.


Kebetulan saat itu resleting tas Nyonya Afiqa memang tidak tertutup sempurna. Wanita itu lupa menutupnya kembali setelah ia meraih sesuatu dari dalam tas tersebut.


Erlan memutarkan bola matanya setelah menjatuhkan tas tersebut. Ia segera bangkit dari posisi duduknya kemudian berjongkok tepat di depan meja.


Erlan meraih barang-barang milik Sang Mommy yang berserak di bawah meja tersebut kemudian memasukkannya kembali ke dalam tas mahal milik wanita itu.


Ada beberapa macam lipstik dengan berbagai macam merk dan warna, bedak, dompet dan banyak lagi yang lainnya. Namun, ada satu benda yang menjadi perhatian Erlan saat itu. Sebuah amplop yang sudah dilipat-lipat oleh Nyonya Afiqa sendiri.


Erlan meraih amplop tersebut dan perlahan membuka lipatan amplop tersebut. "Apa ini?" gumam Erlan seraya kembali ke tempat duduknya.


Setelah lipatan amplop tersebut terbuka, tiba-tiba saja mata Erlan membesar ketika melihat sebuah tulisan yang tertera di depan amplop tersebut. Di sana tertulis nama sebuah Rumah Sakit, Rumah sakit terbesar di kota mereka. Di mana Alina melahirkan beberapa waktu yang lalu.


"Apa ini?" gumam Erlan yang semakin penasaran.


"Semoga saja feelingku salah."


Setelah berhasil membuka amplop tersebut, Erlan segera meraih selembar kertas yang ada di dalam amplop tersebut. Perlahan Erlan mulai membaca tulisan yang ada di kertas tersebut dengan seksama.


Namun, belum habis ia membacanya, Erlan sudah memekik kesal. "Apa-apaan ini?!"


Erlan segera bangkit dari tempat duduknya kemudian dengan langkah cepat ia menuju kamarnya. Wajah lelaki itu tampak menekuk kesal. Ada sesuatu dari berkas tersebut yang membuat ia benar-benar tidak bisa menahan rasa kesalnya.


Setibanya di depan pintu kamar, ia memanggil Nyonya Afiqa untuk ikut bersamanya. "Mom, kemarilah," ajak Erlan, masih dengan raut wajah kesal.


Nyonya Afiqa dan Alina saling tatap dengan wajah heran. Entah kenapa raut wajah Erlan saat itu membuat kedua wanita tersebut merasa tidak nyaman.


"Sebentar," sahut Nyonya Afiqa sembari bangkit dari posisi duduknya kemudian segera menghampiri Erlan.


"Ada apa, Nak?" tanya Nyonya Afiqa yang masih terheran-heran. Wanita paruh baya tersebut terus mengikuti Erlan yang menuntunnya hingga ke sofa ruang tamu dan ia pun segera duduk di sana.


"Lihatlah! Bisakah Mommy jelaskan ini kepadaku?" Erlan meletakkan berkas yang baru saja ia temukan ke atas meja dengan kasar dan tepat di hadapan Nyonya Afiqa.


Nyonya Afiqa yang masih kebingungan segera meraih berkas yang di letakkan oleh Erlan di atas meja. Ia memperhatikannya dengan seksama dan seketika tubuh wanita paruh baya tersebut bergetar setelah menyadari berkas apa itu.


"Mom-Mommy bisa jelaskan--"


"Ya, jelaskanlah!" tegas Erlan, masih menatap serius wajah Nyonya Afiqa.


...***...