
Perlahan Alina membuka pintu dan apa yang ia pikirkan ternyata benar. Ada beberapa orang Ibu-Ibu yang sedang berdiri tepat di depan rumahnya. Ekspresi wajah mereka terlihat mengerikan, seolah-olah siap untuk menerkam Alina.
"Heh, sini kamu!" titah salah satu dari mereka dengan wajah memerah menatap Alina.
Alina pun mendekat dan berdiri tak jauh dari mereka. "Ada apa ya, Bu?" tanya Alina yang kebingungan menatap satu-persatu wajah Ibu-Ibu yang sedang berdiri di hadapannya.
"Ada apa, ada apa! Heh, di mana lelaki itu? Suruh dia keluar! Kamu ini ya, bikin kampung sial aja!"
"Maksud Ibu apa? Demi Tuhan kami tidak melakukan apapun. Dia datang ke sini hanya untuk membeli nasi udukku, Bu," jawab Alina sembari menggelengkan kepala, mencoba mengelak semua tuduhan yang diberikan oleh mereka kepadanya.
"Huh, bohong! Nasi uduk itu hanya kedok. Itu semua hanya untuk menutupi profesimu yang sebenarnya, bukan? Sebaiknya kamu mengaku saja bahwa kamu itu jual diri, 'kan!? Jika itu tidak benar, lalu bagaimana kamu bisa mendapatkan perut buncit ini!" kesal salah seorang Ibu-ibu saembari menepuk perut Alina dengan kasar.
"Singkirkan tanganmu, Bu!" Alina menepis tangan Ibu-Ibu tersebut karena ia tidak suka bayinya yang tidak berdosa disangkut pautkan dengan kesalahannya.
Samar-samar Erlan mendengar suara keributan dari luar dan membuat ia menjadi penasaran. Ia menghentikan makannya dan berjalan menghampiri pintu.
Baru saja pintu terbuka, Erlan sudah disambut dengan hardikkan para Ibu-Ibu julid.
"Nah, kebetulan sekali. Akhirnya lelaki ini keluar juga. Heh, kalian ngapain saja tadi di dalam? Kalian pasti habis bercinta ya, 'kan?! Sudah akui saja, sebelum kami memanggil lebih banyak lagi warga kampung untuk menggerebek kalian!"
"Ya, itu benar! Dasar pasangan mesum, bikin sial kampung saja!" sambung yang lain, yang sudah tersulut emosi.
Ucapan-ucapan kasar yang dilontarkan oleh Ibu-Ibu tersebut membuat Erlan bingung sekaligus marah. Ia menatap Alina yang berdiri di samping tubuhnya. Gadis itu menundukkan kepala menghadap lantai karena merasa malu. Ya, Alina malu kepada Erlan yang akhirnya ikut-ikutan dituduh oleh warga.
"Alina, ada apa ini?" tanya Erlan.
"Heh, gak usah sok lugu deh! Pura-pura tidak tahu lagi," celetuk seorang Ibu yang sangat kesal mendengar pertanyaan Erlan kepada Alina.
Wajah Erlan memerah, ia benar-benar marah karena ucapan yang dilontarkan Ibu-Ibu tersebut begitu tidak enak didengar dan sangat kasar.
"Dengar ya, Ibu-Ibu! Aku tidak tahu apa masalah kalian di sini. Tapi demi Tuhan! Apa yang kalian tuduhkan kepada kami itu semua tidak benar! Aku ke sini untuk membeli nasi uduk buatan Alina dan jika kalian masih tidak percaya, kalian bisa lihat sendiri di dalam!" tegas Erlan sembari menunjuk ke dalam rumah Alina.
Ibu-Ibu itu sontak terdiam dan mereka pun saling pandang satu sama lain.
"Lain kali jika ingin menuduh seseorang yang tidak-tidak, kalian harus punya bukti dan jangan main hakim sendiri!" lanjut Erlan sembari mendengus kesal.
Deg!
Erlan kembali menoleh kepada Alina. Ia juga memperhatikan perut Alina yang membesar. "Astaga, ternyata benar dugaanku bahwa Alina tengah hamil," batin Erlan.
"Baiklah, hari ini kami melepaskan kalian karena kami tidak punya bukti yang kuat! Tapi ingat, Alina! Ini adalah yang terakhir kalinya. Jika kamu kembali membawa tamumu ke kampung ini, maka kami tidak akan segan-segan membawa seluruh warga kampung untuk menggerebek kalian! Camkan itu!"
Para Ibu-Ibu itupun segera pulang dan kini tinggal Erlan dan Alina yang masih berada di depan rumah.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Tuan. Aku tidak ingin mereka melakukan sesuatu kepadamu akibat kesalahanku," ucap Alina seraya melangkah masuk ke dalam rumahnya.
"Tapi kenapa, Alina? Kenapa mereka menuduhmu seperti itu?" Erlan mengikuti Alina dari belakang hingga memasuki rumah gadis itu.
"Ceritanya panjang, Tuan. Dan aku benar-benar malu jika harus menceritakannya," sahut Alina sembari menjatuhkan dirinya di kursi kayu, di tempat ia duduk sebelumnya.
"Ceritakan padaku, Alina." Dengan wajah penuh harap, Erlan menatap wajah kusut Alina. Ia begitu penasaran bagaimana kisah versi Alina yang sebenarnya.
Alina menghela napas berat kemudian menatap lelaki itu. "Tapi, berjanjilah padaku bahwa Tuan tidak akan menceritakannya kepada siapapun," pinta Alina.
"Ya, aku berjanji!" Erlan duduk tak jauh dari Alina dan ia pun bersiap mendengarkan cerita versi gadis itu.
Alina mulai menceritakan kisahnya, di mana Imelda menjebak kemudian menjualnya dengan seorang laki-laki yang ia sendiri tidak tahu siapa orangnya. Hingga kehamilan serta meninggalnya Bu Nadia karena shok setelah tahu bahwa ia tengah hamil.
"Maafkan aku, Tuan. Seharusnya aku tidak menceritakan aibku ini kepadamu. Aku memang benar-benar menjijikkan, mereka pantas membenciku," lirih Alina sambil terisak.
"Ja-jadi bayi yang kamu kandung saat ini adalah milik lelaki yang sudah menidurimu pada malam itu?" tanya Erlan dengan bibir bergetar menatap Alina.
"Ya, Tuan.Tapi demi Tuhan, aku tidak pernah menjual diri sama seperti yang dituduhkan oleh warga selama ini. Bayi ini milik lelaki itu dan sayangnya dia sudah meninggal dunia, sebelum aku sempat meminta pertanggung jawaban."
"Bukan, Alina! Bukan lelaki tua itu! Aku lah yang sudah menidurimu, aku lah Ayah dari bayimu," teriak Erlan dalam hati.
"Ya Tuhan, bagaimana caranya aku menceritakan semua itu kepada Alina? Aku takut dia marah kemudian membenciku," batin Erlan.
...***...