
Akhirnya acara pernikahan Alina dan Erlan pun selesai. Sebuah kamar VIP sudah dipersiapkan oleh pihak hotel khusus untuk pasangan Erlan dan Alina yang akan melewati malam pengantin mereka di hotel mewah tersebut.
Perlahan Erlan membopong tubuh mungil Alina memasuki kamar kemudian meletakkannya ke atas tempat tidur berukuran size king tersebut.
"Apa kamu menyukai kamar ini, Sayang?" Erlan turut menjatuhkan tubuh lelahnya di samping Alina dengan pandangan lurus menuju langit-langit ruangan tersebut.
Alina mengubah posisinya, ia memiringkan tubuhnya ke arah Erlan kemudian memeluk tubuh lelaki itu dari samping. "Ya, kamarnya sangat bagus dan juga wangi."
Jawaban Alina membuat Erlan terkekeh pelan. Ia membalas pelukan istri kecilnya itu kemudian melabuhkan ciuman hangat di keningnya. "Syukurlah kalau kamu menyukainya."
Untuk sesaat pasangan itu larut dalam perasaan mereka. Pelukan hangat yang mereka lakukan membuat keduanya merasa nyaman berada di posisi seperti itu.
Hingga akhirnya Alina melerai pelukan mereka. Ia ingin melepaskan kebaya pengantin yang masih melekat di tubuh mungilnya. Pakaian itu membuat tubuhnya terasa lengket dan sangat tidak nyaman.
"Aku ingin membersihkan diriku dulu, Mas." Alina mencoba bangkit dari posisinya dengan perlahan.
"Biar kubantu." Erlan segera menyusul dan membantu Alina bangkit dari tempat tidur mereka. Perutnya yang besar membuat Alina sedikit kesusahan untuk bergerak bebas.
"Aku benar-benar merepotkan ya, Mas." Alina terkekeh pelan sembari menatap Erlan yang sedang membantunya berdiri.
"Eh, kenapa bicara seperti itu? Kamu jadi seperti ini 'kan gara-gara aku, Sayang," sahut Erlan. Setelah membantunya berdiri, Erlan juga membantu istri kecilnya itu melepaskan seluruh aksesoris yang menempel di kepalanya.
Setelah berbagai aksesoris yang menghiasi Alina terlepas, Erlan membiarkan rambut indah milik istrinya itu tergerai dengan indah. "Biar aku bantu melepaskan gaun pengantinmu, ya," bujuk Erlan.
Erlan mengubah posisinya dan kini ia berdiri tepat di belakang Alina. Lelaki itu tersenyum tipis ketika melihat tengkuk Alina yang putih bersih dan begitu menggoda untuk diberikan kecupan hangat.
Sebelum membuka kancing kebaya milik Alina, Erlan sempat-sempatnya membelai tengkuk yang sejak tadi sudah menggodanya. Alina bergidik, ia merasa geli ketika Erlan menyentuh tengkuknya. Bahkan bulu-bulu halus di tubuh gadis itu terlihat berdiri tegak setelah Erlan melakukan hal itu.
Erlan melepaskan kancing kebaya yang melekat di tubuh Alina satu-persatu hingga akhirnya kebaya itu pun meluncur dan jatuh hingga ke kaki gadis itu. Kini tinggal braa serta celana dallam yang masih menutupi area pribadi Alina.
Tidak cukup sampai di situ, Erlan juga melepaskan pengait braa milik Alina dan hal itu sempat membuatnya terkejut dan sontak membalikkan badan menghadap Erlan.
"Kenapa?" Erlan terkekeh pelan menatap Alina yang berdiri di hadapannya sambil menutupi kedua aset kembarnya dengan menggunakan kedua tangan.
"Tidak perlu ditutupi, Sayang." Erlan tersenyum kemudian meraih tangan Alina yang menutupi kedua aset kembarnya. Apa yang dilakukan oleh Erlan, membuat Alina refleks memeluk tubuh lelaki itu.
"Aku malu, Mas," pekik Alina sembari mempererat pelukannya kepada Erlan dan membuat dua aset kembarnya menempel sempurna di dada lelaki itu.
"Ya, sudah. Sebaiknya kita ke kamar mandi sekarang, karena aku sudah tidak tahan lagi," ucap Erlan.
Alina membulatkan matanya dengan sempurna. Ia menengadah dan menatap biji manik berwarna abu-abu tersebut dengan seksama. "Ja-jadi Mas ingin kita melakukannya di dalam kamar mandi?"
Erlan menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, tentu saja, Sayang. Memangnya mau di mana lagi? Bukankah tadi kamu bilang ingin membersihkan tubuhmu? Aku juga sama, tubuhku sudah terasa lengket dan aku ingin segera berendam di Bath Up bersamamu," sahut Erlan sembari mencolek hidung Alina.
Huft! Alina menghembuskan napas lega. "Kirain," gumamnya.
Erlan menuntun Alina menuju kamar mandi dan ternyata semuanya sudah di persiapkan oleh pihak hotel. Bath Up sudah terisi air dan tinggal di gunakan oleh pasangan itu.
Sementara Erlan melepaskan setelan jasnya, Alina masuk ke dalam Bath Up terlebih dulu dan menunggu suaminya menyusul. Setelah seluruh pakaiannya terlepas, Erlan pun segera menyusul kemudian duduk di belakang istri mungilnya itu.
"Sayang," panggil Erlan yang sedang memeluk tubuh Alina dari belakang.
"Ya?"
"Ada sebuah pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadamu. Sejak kita tinggal bersama, aku sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya terhadapku. Sekarang aku mau tanya padamu, Alina. Apakah kamu mencintaiku?" tanya Erlan dengan raut wajah serius.
Alina tersipu malu, wajahnya terlihat merona saat itu. "Sebelumnya aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapmu, Mas. Selain karena aku tidak berani berharap lebih, aku juga merasa tidak pantas untuk berada di sampingmu. Tapi kali ini aku sudah yakin dengan perasaanku. Bahwa saat ini aku benar-benar sudah jatuh cinta pada sosok Ayah dari bayiku. Kasih sayang serta perhatian yang kamu berikan untukku dan juga bayi ini, membuat aku yakin membuka hatiku untukmu," tutur Alina sembari menuntun tangan Erlan menelusuri perutnya yang sedang bergerak-gerak.
Erlan tersenyum lebar mendengar jawaban yang keluar dari bibir Alina. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas kepercayaanmu dan aku berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaanmu terhadapku," sahut Erlan.
"Ngomong-ngomong, bayi kita ini lincah sekali. Kira-kira dia cewek atau cowok, ya?" sambung Erlan yang masih penasaran dan terus menelusuri pergerakan bayinya di perut Alina.
"Mas maunya apa?" tanya Alina penasaran.
"Terserah saja, yang penting itu kamu dan bayi kita lahir dengan selamat tanpa kurang apapun. Itu sudah lebih dari cukup."
"Oh iya, hampir saja aku lupa-memberitahumu. Setelah melahirkan nanti, aku berencana mengadakan pesta syukuran di perusahaan. Aku ingin memperkenalkan dirimu dan calon generasi penerus kita kepada seluruh karyawan serta staff kantor agar mereka tahu bahwa kamu adalah istriku, satu-satunya istriku." Erlan mempererat pelukannya sembari mengecup puncak kepala Alina saat itu.
"Mas serius? Ya Tuhan, bagaimana jika aku hanya membuatmu malu di sana? Aku 'kan hanya gadis kampung, Mas. Aku bahkan tidak tahu bagaimana seluk beluk sebuah perusahaan," tutur Alina.
Erlan tertawa pelan. "Memangnya apa yang ingin kamu lakukan di sana? Kamu ratunya di sana, Alina sayang. Kamu tidak perlu melakukan apapun, tetapi merekalah yang melakukan sesuatu untukmu," sahut Erlan sembari mengacak pelan puncak kepala Alina.
...***...