
Brugkh!
Tubuh Imelda jatuh ke lantai ruangan itu dan tidak sadarkan diri. Bu Dita dan Pak Heri pun semakin panik. Pak Heri segera mengangkat tubuh Imelda yang tidak berdaya kemudian meletakkannya ke salah satu tempat tidur pasien dan mencoba menyadarkannya.
Kepergian Baby Rendra yang begitu tiba-tiba membuat mereka shok dan tidak bisa menerima kenyataan pahit tersebut. Terlebih Imelda yang begitu mengharapkan kesembuhan sang buah hati.
Di saat semua orang pasrah dengan keadaan mereka, Sean menghampiri tempat tidur di mana bayi mungil itu terbaring tanpa nyawa kemudian duduk di sampingnya. Sean meraih tangan Baby Rendra dan menyentuh jari-jemari kecilnya yang terasa dingin sambil mengelusnya dengan lembut.
"Baby Rendra, kenapa kamu menyerah di saat seperti ini, Nak? Sekarang kamu malah meninggalkan kami di saat harapan kami melambung tinggi," gumam Sean yang juga tidak bisa menutupi kesedihannya.
Di tengah kesedihannya, tiba-tiba Sean menautkan kedua alisnya. Saat itu ia seakan merasakan jari-jemari mungil itu mulai bergerak lagi.
"Apakah ini benar atau hanya perasaanku saja?" gumam Sean sembari memperhatikan jari-jari mungil milik Baby Rendra yang kini masih berada di dalam genggamannya.
Namun, selama ia memperhatikan jari-jari mungil tersebut, tak ada pergerakan sama sekali di sana. "Ah, ternyata benar, itu hanya perasaanku saja," gumamnya lagi.
"Apa kamu tahu, Nak. Temanmu sudah lahir dan dia sama sepertimu. Seorang bayi laki-laki tampan yang mungkin akan menjadi sahabatmu, tapi ... sayangnya kamu meninggalkannya lebih dulu, Baby Rendra. Mau tahu namanya? Namanya Arkana Ardi--"
Tiba-tiba ucapan Sean terhenti ketika ia kembali merasakan pergerakan dari jari-jemari mungil tersebut. Lagi-lagi Sean memperhatikannya dengan seksama dan kali ini ia benar. Jari-jemari mungil itu memang bergerak. Walaupun pergerakannya benar-benar lemah.
Sean meletakkan telinganya ke dada bayi mungil itu dan lagi-lagi ia benar. Jantungnya kembali berdetak walaupun masih terdengar sangat lemah.
Sontak Sean bangkit dari posisi duduknya kemudian memanggil salah seorang perawat yang masih berada di ruangan itu untuk membereskan alat-alat yang digunakan oleh Baby Rendra sebelumnya.
"Suster, Bayi ini bernapas lagi! Lihatlah!" pekik Sean.
Mendengar ucapan Sean, Perawat itu pun segera mengecek keadaan Baby Rendra saat itu dan ternyata benar. Bayi itu kembali bernapas walaupun napasnya pendek-pendek dan begitu lemah.
Perawat itu bergegas memanggil Dokter dan beruntung Dokter yang menangani Baby Rendra sebelumnya berada tidak jauh dari ruangan itu. Setelah mendengar penuturan dari perawat, Dokter itu pun bergegas menuju ruangan tersebut.
Pak Heri seolah mendapatkan semangat hidupnya kembali setelah mendengar bahwa cucunya kembali bernapas. Ia bahkan tidak bisa menyembunyikan tangis kebahagiannya.
"Imelda, bangunlah, Nak! Bayimu bernapas lagi, dia butuh dirimu saat ini," ucap Bu Dita mencoba membangunkan Imelda yang masih tidak sadarkan diri.
Sementara itu, Dokter dan para perawat kembali berjuang untuk menyelamatkan nyawa Baby Rendra di ruangan tersebut. Berbagai peralatan medis yang tadinya dilepas, kini dipasangkan kembali ke tubuh mungil itu.
Cukup lama Dokter dan perawat berjuang menstabilkan detak jantung serta pernapasan bayi mungil tersebut, hingga akhirnya mereka pun berhasil.
Dokter bahkan langsung bersujud syukur setelah berhasil menyelamatkan nyawa bayi Rendra setelah sempat kehilangan nyawanya untuk beberapa saat.
"Terima kasih, Dok! Terima kasih," ucap Bu Dita kepada Dokter hingga berkali-kali.
"Sama-sama, Bu. Namun, saya di sini hanyalah sebagai perantara, Bu Dita. Berterima kasihlah kepada Tuhan sang pemilik hidup, yang ternyata masih memberikan kesempatan untuk Baby Rendra kembali bernapas seperti sekarang," sahut Dokter.
Sementara itu, Imelda menggeliatkan tubuhnya dan mulai sadar. Ia kembali terisak karena ia belum tahu bahwa Baby Rendra kini kembali bernapas lagi.
"Imelda, anakku! Bangunlah, lihatlah bayimu!" ucap Bu Dita sembari menujuk ke arah Bayi Rendra.
Imelda membulatkan matanya ketika melihat tubuh mungil Baby Rendra yang kembali dihiasi dengan berbagai peralatan medis. "Bu, anakku?"
"Ya, Nak. Bayimu kembali lagi bersama kita," sahut Bu Dita.
Imelda segera memeluk tubuh Bu Dita dan ia tidak bisa menahan tangis bahagianya setelah tahu bahwa putranya telah kembali bersama mereka. Setelah melerai pelukannya dengan Bu Dita, Imelda segera menghampiri tempat tidur Baby Rendra.
"Ya Tuhan, Baby Rendra ... jangan prank Ibu seperti ini lagi, Nak. Tidak lucu," ucap Imelda sembari menyeka air matanya.
...***...
Tungguin bab selanjutnya ya, untuk sekarang satu bab dulu. Semoga nanti sore/malam bisa nyusul 3 bab berikutnya 🙏 Soalnya hari ini Author ada kesibukan di dunia nyata 😆😆😆