
Setelah selesai melakukan pengambilan sampel darah dan air liur, Chandra dan Bu Kirana pun segera pamit kepada Dokter tersebut. Kata Dokter hasil pengecekan darah tersebut akan keluar setelah beberapa hari. Itu artinya Chandra dan Bu kirana harus sabar menunggu hasilnya.
"Ya, Tuhan! Semoga saja hasilnya negatif," gumam Bu Kirana dengan raut wajah tegang, sembari melangkahkan kakinya menelusuri sebuah lorong yang ada di Rumah Sakit tersebut.
Saat itu Chandra hanya diam sambil melangkah gontai di belakang Sang Mami. Jauh di lubuk hati Chandra yang paling dalam, ia pun berharap hasilnya negatif.
Di saat Bu Kirana tengah asik berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba saja tatapannya tertuju pada pasangan paruh baya yang sedang berjalan ke arahnya.
Mereka adalah kedua orang tua Imelda, Pak Heri dan Bu Dita. Pasangan paruh baya tersebut baru saja selesai berbelanja di luar untuk membeli barang-barang keperluan Imelda dan bayinya.
"Bukankah itu Ayah dan Ibunya Imelda, Chandra?!" pekik Bu Kirana.
Chandra mengangkat kepalanya kemudian menatap ke arah yang ditunjukkan oleh Bu Kirana kepadanya. "Ya Tuhan, kenapa aku harus bertemu mereka di sini," gumam Chandra sembari menundukkan kepalanya kembali seolah ia tidak melihat keberadaan kedua mertuanya itu.
Bukan hanya Bu Kirana yang menyadari keberadaan mereka di ruangan tersebut, ternyata Bu Dita dan Pak Heri pun menyadari keberadaan menantu serta besannya tersebut.
"Bukankah itu Bu Kirana dan Chandra, Yah?" tanya Bu Dita kepada Sang Suami yang sedang berjalan di sampingnya.
Ekspresi wajah Pak Heri mendadak berubah. Lelaki paruh baya itu menampakkan tatapan tidak suka kepada kedua orang yang sedang berjalanan di hadapannya.
"Ya, Ibu benar. Entah mau apa mereka ke sini," sahut Pak Heri dengan nada kesal.
"Kebetulan kita bertemu mereka di sini, sebaiknya kita bicarakan soal hubungan Chandra dan Imelda sekarang. Kalau perlu, biar Chandra menceraikan Imelda saat ini juga," lanjut Pak Heri yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Ketika mereka sudah saling berhadapan, Bu Kirana membuang muka dan tidak ingin bersitatap dengan pasangan itu. Begitu pula Chandra, lelaki itu terus saja melangkah sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai.
"Chandra!" panggil Pak Heri, masih dengan wajah kesalnya.
Sontak Chandra mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Pak Heri. Lelaki itu menghentikan langkahnya dan kini ia berdiri dengan posisi saling berhadapan dengan mertuanya itu.
"Ya?!"
"Sebaiknya kamu ikut kami menemui Imelda," ajak Pak Heri.
"Ada apa lagi, sih?" tanya Bu Kirana dengan wajah heran menatap kedua orang tua Imelda secara bergantian.
Walaupun tampak malas, Chandra dan Bu Kirana tetap bersedia mengikuti langkah kaki Pak Heri dan Bu Dita dari belakang.
"Memangnya ada apa sih, Chandra?" tanya Bu Kirana dengan setengah berbisik kepada Chandra.
Chandra mengangkat kedua bahunya sambil mencebikkan bibir. "Mana aku tahu, Mi."
Setibanya di depan ruangan Imelda dirawat, Pak Heri dan Bu Dita segera membuka pintu ruangan tersebut kemudian mempersilakan Bu Kirana dan Chandra untuk masuk bersama mereka.
"Imelda?!" pekik Bu Kirana.
Wanita itu terkejut setelah tahu siapa yang sedang duduk di atas tempat tidur pasien di ruangan tersebut. Sedangkan Chandra tampak biasa-biasa saja, ia bahkan tidak peduli apapun yang terjadi pada Imelda saat itu.
Imelda pun begitu terkejut karena tiba-tiba saja kedua orang tuanya datang bersama suami dan Ibu mertuanya.
"Chandra, kami hanya ingin bertanya padamu tentang Putri kami, Imelda." Pak Heri mulai membuka suaranya.
"Ya, tanyakanlah," sahut Chandra dengan wajah malas menatap Pak Heri.
"Apa kamu masih mencintai Putri kami, Chandra? Jika seandainya kamu sudah tidak lagi mencintainya, sebaiknya kamu lepaskan saja dia dan kembalikan Imelda kepada kami sebagai orang tuanya."
Imelda menundukkan kepala karena saat itu matanya kembali berkaca-kaca dan ia tidak ingin orang-orang yang ada di ruangan itu melihatnya. Bu Dita menghampiri Imelda kemudian merengkuh puncak anak perempuannya itu agar lebih tenang.
Chandra sempat terdiam seraya memperhatikan Imelda yang tengah tertunduk di atas tempat tidur pasien. Lelaki itu tampak berpikir keras hingga akhirnya ia pun menjawab pertanyaan Pak Heri.
"Baiklah, Pak Heri. Hari ini saya akan berkata jujur di hadapan kalian semua."
Imelda yang tadinya tertunduk, kini mengangkat kepalanya kemudian menatap Chandra yang sedang berdiri di hadapan tempat tidurnya.
"Sebenarnya saya sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi terhadap Imelda bahkan sebelum kami menikah. Saya bersedia menikahinya hanya karena bujukan Mami," tutur Chandra.
...***...