My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pertemuan Dua Sahabat 2



"Jadi ... Tuan Sean itu asisten pribadi suami kamu, Lin?" tanya Imelda dengan mata membulat setelah tahu siapa sebenarnya Erlan.


Alina terkekeh pelan. "Ya, Mel. Tuan Sean adalah asisten pribadi Mas Erlan."


Imelda mendadak terdiam dan tatapannya berubah menjadi sendu. Tiba-tiba ia teringat akan kejadian di mana Sean menyelamatkan dirinya dari amukan Chandra saat itu.


"Aku berhutang budi pada Tuan Sean, Alina. Seandainya saat itu Tuan Sean tidak menolongku dari amukan Chandra, mungkin saat ini aku dan bayiku sudah tenang di sisi Tuhan."


"Ya ampun, Mel. Kenapa tidak di laporkan kepada pihak berwajib? Chandra patut dihukum karena dia sudah melakukan tindak KDRT kepadamu," tutur Alina.


Imelda tersenyum kecut sembari membalas tatapan Alina yang kini menatapnya dengan tatapan serius.


"Aku rasa, aku memang pantas mendapatkan perlakuan yang seperti itu, Lin. Selama ini aku sadar, perbuatan jahat yang aku lakukan terhadapmu bahkan lebih menyakitkan dari pada hukuman yang aku dapatkan saat ini. Dan aku rasa hukuman ini pun belum setimpal dari perbuatan jahatku," lirih Imelda dengan mata yang kembali berkaca-kaca menatap Alina.


Alina meraih tangan Imelda kemudian menggenggamnya dengan erat. "Jangan berkata seperti itu, Mel. Jangan terus-terusan menghukum dirimu. Aku sudah ikhlas dan aku harap kamu pun bisa melupakan masalah itu. Sekarang, lebih baik kita fokus pada masa depan kita. Kamu dengan bayi mungilmu dan aku bersama keluarga kecilku," tutur Alina.


"Terima kasih, Alina. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi," sahut Imelda yang kini kembali memeluk tubuh mungil Alina dengan erat.


"Ya, sudah-sudah. Apa kamu tidak merasa bahwa si kecilku protes lagi karena terjepit," goda Alina.


"Ehm, iya. Maafkan aku." Imelda segera melepaskan tubuh Alina sambil terkekeh pelan.


Setelah puas berbincang bersama Imelda, Alina memohon diri kemudian menghampiri Bu Dita yang masih berbicara bersama suaminya dan juga Erlan masih di sudut lain ruangan tersebut.


"Bu Dita," sapa Alina seraya meraih tangan wanita paruh baya tersebut.


Bu Dita tersentak kaget dan segera menoleh kepada Alina kemudian memeluk tubuh mungil gadis itu sambil menangis lirih. "Maafkan Ibu, Nak. Selama ini Ibu sudah tidak mempercayai ucapanmu."


Alina tersenyum dan membalas pelukan hangat Bu Dita yang sudah sangat lama tidak pernah ia rasakan lagi. "Tidak apa-apa, Bu. Bu jangan lerai pelukanmu ya, karena aku masih kangen pelukan Ibu."


"Ya, Nak. Tentu saja," sahut Bu Dita sembari menciumi puncak kepala Alina berkali-kali.


Cukup lama Alina terdiam dalam pelukan hangat Bu Dita yang sudah lama tidak ia rasakan. Imelda menatap keduanya dari kejauhan sambil tersenyum kecil. Ia tahu bahwa hubungan Alina dan Ibunya memang sudah dekat sejak dulu. Namun, karena hasutannya, Bu Dita pun malah ikut-ikutan tidak mempercayai ucapan gadis itu.


"Sama-sama. Oh ya, apa kamu ingin melihat bayi Imelda? Biar Ibu anterin," ajak Bu Dita.


Alina menoleh kepada Erlan yang masih berbincang bersama Pak Heri. Erlan mengangguk kecil sebagai tanda bahwa ia mengizinkan istri kecilnya itu mengikuti Bu Dita ke ruang NICU untuk menjenguk cucu pertama mereka.


"Mari, Bu." Alina mengikuti langkah Bu Dita yang menuntunnya ke ruangan NICU, di mana bayi mungil itu masih tergolek lemah.


Setibanya di ruangan itu, Alina dan Bu Dita dikejutkan dengan keberadaan Sean di sana. Lelaki itu berdiri di depan inkubator sambil memperhatikan bayi mungil tersebut dengan wajah sendu.


"Tuan Sean?" sapa Bu Dita sambil tersenyum kecil menatap Sean.


Sean tersentak kaget setelah mendengar suara Bu Dita yang menyapanya. Ia berbalik sembari memasang senyum kepada Bu Dita yang ternyata tidak sendiri. Melainkan bersama Alina, istri kecil kesayangan Bossnya.


"Ehm, Bu Dita, Nona Alina." Sean tampak canggung ketika bersitatap bersama kedua wanita itu. "Maafkan saya, Bu Dita, karena tidak meminta izin terlebih dahulu kepada Ibu untuk menjenguknya," lanjut Sean.


"Ah, tidak apa, Tuan. Malah sebaliknya, saya sangat terharu sekali karena Anda bersedia menyempatkan waktu untuk menjenguk cucu saya," sahut Bu Dita dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Sean mengangguk pelan kemudian pamit kepada kedua wanita beda generasi tersebut. Setelah Sean meninggalkan ruangan itu, Alina segera menghampiri inkubator tersebut dengan raut wajah sedih.


Hatinya sakit ketika melihat bayi Imelda yang masih dalam kondisi kritis serta membutuhkan perawatan intensif yang lebih lama lagi di banding bayi lainnya.


"Beginilah keadaannya, Alina." Bu Dita kembali menitikkan air mata sambil menatap cucu mungilnya yang sedang berjuang bertahan hidup dengan dibantu berbagai macam peralatan medis yang menempel di tubuh mungilnya.


"Seandainya sehat pun, Dokter bilang ada kemungkinan besar bayi ini lumpuh. Sebab hingga saat ini kaki mungilnya tidak merespon ketika di sentuh," lanjut Bu Dita sambil terisak.


Alina mengelus lembut pundak Bu Dita yang bergetar. "Yang sabar ya, Bu. Semoga saja ada keajaiban untuk bayi tampan ini. Karena tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak," sahut Alina.


"Aamin. Kamu benar, Nak."


...***...