
Keesokan harinya.
"Maafkan aku karena aku tidak bisa mengajakmu ke tempat Mommy, Alina. Aku harap kamu mengerti," ucap Erlan sembari menyentuh kedua pipi Alina dan membelainya dengan lembut.
Alina tersenyum, "Ya, Mas. Aku mengerti, kok."
"Terima kasih," ucap Erlan.
Setelah berpamitan kepada Sang Istri, Erlan pun segera berangkat. Namun, sebelum pergi ke kantor, Erlan ingin berkunjung ke kediaman Nyonya Afiqa terlebih dahulu. Selain untuk melihat bagaimana kondisinya sekarang, Erlan juga ingin memberikan nasi uduk buatan Alina langsung kepada Sang Mommy.
"Selamat pagi, Tuan." Masih dengan senyuman hangatnya, Sean menyambut kedatangan Erlan.
"Selamat pagi, Sean. Oh ya, tolong antar aku ke rumah Mommy terlebih dahulu. Aku ingin memberikan ini untuk Mommy," ucap Erlan sembari memperlihatkan sebuah bungkusan besar yang ia tenteng di tangannya kepada Sean.
Sean menautkan alisnya sembari menatap bungkusan yang di bawa oleh Erlan. Dari dalam bungkusan itu tercium aroma yang begitu menggugah selera. Sean yang sudah sarapan pun, rasanya ingin ikut mencicipi sesuatu yang ada di dalam sana.
"Wangi sekali, Tuan. Saya yakin itu pasti buatan Nona Alina," sahut Sean.
"Ya, ini nasi uduk buatan Alina. Sama sepertiku, ternyata Mommy juga kecanduan sama nasi uduk buatan Istri kucilku itu." Erlan tersenyum dengan bangga menatap Sean.
"Ya, pasti karena rasanya yang enak."
"Kamu benar, Sean. Dan kamu tenang saja, sebagai ucapan terima kasihnya kepadamu, Alina juga memberikan nasi uduk spesialnya untukmu. Ini, ambilah!"
Erlan meraih satu kotak bekal yang ada di dalam bungkusan besar tersebut kemudian menyerahkannya kepada Sean. Sean segera menyambut kotak bekal tersebut sambil tersenyum.
"Ya sudah, jika sosoknya tidak bisa di gapai seperti bintang di langit. Paling tidak hari ini aku masih bisa menikmati masakan gadis itu," batin Sean, masih dengan senyumannya.
"Wah, sebenarnya saya agak takut mencicipi nasi uduk buatan Nona Alina, Tuan. Saya takut kecanduan dan kalau sudah seperti itu, saya bingung harus kemana membelinya. Masa iya saya harus meminta Nona Alina membuatkannya untuk saya," tutur Sean.
Erlan tergelak mendengar penuturan Sean. "Kamu bisa saja, Sean. Lagian kenapa juga kamu kecanduan, kamu tidak sedang ngidam 'kan?!" goda Erlan sembari masuk ke dalam mobilnya.
Sean pun ikut tertawa dan ia segera menyusul Erlan yang sudah siap untuk di antar ke rumah Sang Mommy. Setelah meletakkan kotak bekal yang di berikan oleh Erlan ke tempat yang aman, Sean pun segera melajukan mobilnya.
"Ya, Tuan."
"Baguslah kalau begitu."
Rencananya Sean akan berangkat ke kota X besok pagi. Selain untuk mengecek renovasi rumah milik Alina, Sean pun ingin melakukan pengintaian terhadap Imelda. Walaupun anak buahnya sudah melakukan penyelidikan terhadap gadis itu, tetapi Sean ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Setibanya di depan kediaman Nyonya Afiqa, Erlan pun segera masuk ke dalam rumah tersebut. Sedangkan Sean memilih menunggu Big Bossny tersebut di dalam mobil.
Sean kembali tersenyum saat ia menatap kotak bekal yang tadi ia simpan. Sean meraih kotak bekal tersebut kemudian membukanya. Ketika kotak bekal tersebut terbuka, aroma wanginya memenuhi indera penciuman lelaki itu.
"Ya ampun, pantas saja Tuan Erlan kecanduan, wanginya saja sudah membuat aku kembali merasa lapar padahal aku sudah sarapan tadi pagi," gumam Sean.
Sementara itu di dalam kamar mewah Nyonya Afiqa. Wanita paruh baya tersebut tersenyum lebar ketika Erlan tiba dengan membawa bungkusan besar di tangannya. Bak orang yang sedang 'ngidam', Nyonya Afiqa bahkan sampai terbawa mimpi menikmati nasi uduk buatan Alina.
"Sini, Lan. Mana nasi uduknya?" Nyonya Afiqa mengulurkan tangannya kepada Erlan.
"Iya sebentar, Mom."
Erlan pun tersenyum kemudian duduk di samping tempat tidur Nyonya Afiqa. Setelah membuka bungkusan tersebut, Erlan segara menyerahkan kotak bekal yang disiapkan khusus untuk Mommy-nya.
"Ini punya Mommy dan sisanya untuk Kak Rara, Kak Abimanyu dan Arsilla," ucap Erlan sembari menyerahkan bungkusan besar itu kepada Rara.
"Wah, terima kasih banyak! Kakak tidak menyangka bahwa ternyata Kakak kebagian juga," sahut Rara sembari bangkit dari posisinya kemudian segera pergi dengan membawa bungkusan tersebut dan membaginya untuk suami dan anak perempuannya.
Tanpa pikir panjang, Nyonya Afiqa langsung menikmati nasi tersebut dengan lahapnya. Wanita paruh baya itu bahkan sampai lupa bahwa Erlan masih duduk di sampingnya dan memperhatikan dirinya yang sedang menikmati makanan tersebut seperti orang yang sedang 'ngidam'.
"Enak 'kan, Mom?"
Nyonya Afiqa menganggukkan kepalanya dengan cepat tanpa menjawab pertanyaan dari Erlan karena mulutnya yang masih penuh.
...***...