
"Tapi apa, Dok?!" pekik Bu Dita dengan wajah kusut membalas tatapan Dokter.
"Kemungkinan kami hanya bisa menyelamatkan Ibunya saja, Pak, Bu. Seandainya selamat pun, kemungkinan besar bayi tersebut akan mengalami kecacatan. Selain akibat benturan itu, usia janin pun masih terlalu dini untuk dilahirkan sehingga organ bagian dalam sang bayi masih belum berkembang dengan sempurna," tutur Dokter.
Bu Dita menangis histeris di ruangan tersebut. Pak Heri pun tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat itu. Matanya terlihat berkaca-kaca ketika memeluk Bu Dita yang kini menangis di pelukannya.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Sekarang semuanya kami percayakan kepada Anda," sahut Pak Heri sambil menarik napas dalam kemudian menghembuskannya.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu kami akan mengatur jadwal operasi cesar untuk pasien. Sebaiknya Bapak dan Ibu banyak-banyak berdoa untuk keselamatan Ibu dan bayinya," ucap Dokter cantik itu sembari mengelus punggung lengan Bu Dita yang masih terisak.
"Ya, Dokter. Pasti, kami akan terus mendoakan yang terbaik untuk keselamatan Putri dan juga cucu kami," sahut Bu Dita di sela isak tangisnya.
Walaupun bayi itu milik Chandra dan mereka sempat tidak menginginkan bayi tersebut. Namun, seiring waktu berjalan, Bu Dita dan Pak Heri pun turut menyayangi bayi tersebut dan berharap bayi tak berdosa itu selamat dan bisa berkumpul bersama mereka bagaimana pun keadaannya.
Setelah selesai berbicara dengan Dokter, Pak Heri dan Bu Dita pun kembali ke ruangan sebelumnya, di mana Sean ternyata masih berada di tempat itu.
"Tuan Sean? Saya kira Anda sudah pulang," ucap Pak Heri seraya menjatuhkan tubuhnya di samping Sean. Sementara Bu Dita masuk ke dalam ruangan, di mana Imelda masih tergolek lemah.
"Sebenarnya saya memang ingin pamit, tetapi karena di sini tak ada seorangpun yang menjaga Putri Anda maka saya pun berinisiatif berjaga-jaga di sini. Siapa tahu Putri Anda, Dokter atau perawat butuhkan sesuatu."
Pak Heri tersenyum kecut mendengar jawaban Sean. Saat itu ia merasa senang sekaligus malu. Senang, karena masih ada yang peduli dengan nasib Putrinya padahal mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun. Malu, karena Chandra yang notabenenya sebagai suami dari Imelda dan Ayah dari janin yang ada di kandungan Imelda, malah tidak kelihatan batang hidungnya.
"Terima kasih banyak, Tuan Sean. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Kami sekeluarga berhutang budi pada Anda," lirih Pak Heri sembari menepuk pelan pundak Sean.
"Jangan bicara seperti itu, Pak Heri. Sesama manusia kita memang harus saling tolong-menolong, bukan?" Sean tersenyum hangat dan sesaat kemudian ia pun melirik jam tangan mewahnya.
"Sepertinya saya harus kembali, Pak Heri. Senang bisa berkenalan dengan Anda," lanjut Sean seraya bangkit dari posisi duduknya kemudian kembali mengulurkan tangannya kepada Pak Heri dan segera disambut oleh lelaki itu.
"Dengan senang hati, Pak." Sean merogoh saku celananya kemudian meraih dompet yang ia simpan di sana. Setelah mengambil selembar kartu nama miliknya, Sean pun segera menyerahkan kartu nama tersebut kepada Pak Heri.
"Terima kasih, Tuan Sean." Dengan wajah semringah, Pak Heri menyambut kartu nama milik Sean kemudian segera menyimpannya agar tidak hilang.
"Sama-sama, Pak."
Setelah berpamitan kepada Pak Heri, Sean pun kembali ke hotel, di mana ia akan tinggal untuk sementara waktu di kota ini.
Sementara itu di dalam ruangan Imelda.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa yang sakit?" tanya Bu Dita sembari mengelus lembut puncak kepala Imelda yang terlihat sangat lemah.
"Tadi perutku sakit sekali, Bu. Tapi sekarang sudah mulai berkurang rasa sakitnya. Mungkin ini karena obat yang di berikan oleh Dokter."
"Sebenarnya apa yang terjadi, Imelda. Ibu mohon katakan yang sejujurnya dan jangan mencoba melindungi lelaki sialan itu!" Bu Dita menatap lekat wajah Imelda yang terlihat memucat.
Imelda menarik napas dalam kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Pagi tadi aku dan Chandra bertengkar, Bu. Dan secara tidak sengaja, Chandra mendorong tubuhku hingga aku terjengkang di tanah," lirih Imelda sambil membuang tatapannya ke arah lain.
"Sengaja atau tidak sengaja, Imelda?! Katakan yang sejujurnya!" tegas Bu Dita dan tepat di saat itu Pak Heri masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia sempat mendengar pembicaraan Imelda dan Bu Dita saat itu.
"Ya, Ibumu benar, Imelda! Untuk apa kamu berkata bohong jika hanya untuk menutupi kesalahan lelaki yang tidak bertanggung jawab itu?!" sambung Pak Heri yang juga sama kesalnya seperti Bu Dita.
...***...