
Kita kembali ke ceritanya Imelda ya, Readers.
"Ayo Imelda, kita berangkat." Bu Dita menarik pelan tangan Imelda kemudian menuntunnya menuju bagasi mobil, di mana Pak Heri sudah menunggu mereka.
"Bagaimana jika menolak untuk bertanggung jawab, Bu? Dan bagaimana jika Chandra tidak mau mengakui perbuatannya?" tanya Imelda dengan bibir bergetar. Cairan bening itu bahkan hampir lolos dari kelopak matanya.
"Kamu yakin itu anak Chandra 'kan, Mel?" tanya Bu Dita balik dengan alis yang saling bertaut.
Imelda mengangguk pelan. "Ya, Bu. Hanya Chandra yang pernah menyentuh Imelda," lirih Imelda.
"Kalau begitu apa yang kamu khawatirkan? Jika Chandra tidak mengakui perbuatannya, kita bisa buktikan kepada mereka dengan melakukan tes DNA."
Setibanya di depan rumah, di mana mobil yang akan dikemudikan oleh Pak Heri sudah siap membawa mereka menuju kediaman Chandra. Wajah Pak Heri masih kusut.
Sejak ia mengetahui bahwa Imelda hamil, tak sekalipun tersungging senyuman di wajah lelaki itu. Ia benar-benar kecewa dan sulit untuk menerima kenyataan pahit itu.
Setelah Imelda dan Bu Dita masuk ke dalam mobil, Pak Heri pun segera melajukan benda beroda empat tersebut ke tempat tujuan mereka.
Di perjalanan, tak satupun di antara mereka bertiga yang bersedia memulai percakapan, walaupun hanya sekedar berbasa-basi. Mobil tersebut hening, hanya deru mesin mobil yang terdengar dengan jelas.
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di depan kediaman Tuan Agung Lesmana, Ayah kandung Chandra. Pak Heri menghampiri penjaga keamanan dan meminta izin kepada lelaki tersebut agar mereka diperbolehkan masuk.
"Baiklah, kalian tunggu di sini," sahut Penjaga Keamanan seraya melangkah pergi, masuk ke dalam rumah megah tersebut.
Cukup lama Imelda dan kedua orang tuanya berdiri di depan pagar rumah mewah milik Chandra, hingga akhirnya penjaga keamanan itu kembali dan segera menghampiri mereka bertiga.
"Silakan masuk," ucap Penjaga keamanan.
Mereka pun segera masuk dan mengikuti langkah kaki penjaga keamanan yang menuntun mereka menemui Pak Agung dan Bu Kirana. Ternyata pasangan itu sedang bersantai di ruang utama sembari menunggu kedatangan tamu mereka.
Tuan Agung dan Nyonya Kirana menatap ketiga tamunya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dan dari tatapan keduanya, nampak jelas bahwa mereka tidak menyukai keluarga Pak Heri.
"Silakan duduk, keluarga Pak ...."
"Pak Heri," sahut Pak Heri sembari melemparkan sebuah senyuman walaupun sebenarnya ia benar-benar malas melihat tingkah sombong keluarga Pak Agung.
"Ya, silakan duduk."
Pak Agung pun segera duduk kemudian disusul oleh Bu Dita dan Imelda. Ketika Imelda duduk di sofa mahalnya, Bu Kirana mengenali sosok Imelda, gadis aneh yang berteriak-teriak di depan rumahnya beberapa hari yang lalu.
"Bukankah kamu gadis yang semalam membuat keributan di sini? Berteriak-tetiak tidak jelas, hingga mengganggu tidur siangku," ketus Bu Kirana dengan wajah menekuk menatap Imelda.
"Sebaiknya langsung saja, Pak Heri. Sebenarnya apa maksud kedatangan Anda menemui kami di sini?" sela Pak Agung.
Pak Heri menghembuskan napas berat. "Sebenarnya saya ke sini ingin meminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah dilakukan oleh putra Anda, Chandra Putra Pratama. Yang sudah menghamili anak perempuan saya, Imelda."
Pak Heri ingin berkata panjang lebar kepada Pak Agung. Namun, lelaki paruh baya itu tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Suaranya seakan tersekat di tenggorokan, begitu sulit untuk diucapkan.
Namun, bukannya terkejut ataupun marah, reaksi pasangan itu terlihat datar. Mereka saling tatap sejenak kemudian kembali memperhatikan keluarga Pak Heri.
"Bagaimana Anda bisa yakin bahwa bayi itu adalah milik Putra kami, Chandra. Bisa saja 'kan bayi itu milik orang lain?" Masih dengan ekspresi datarnya, Pak Agung mengucapkan hal itu dan membuat Pak Heri meradang setelah mendengarnya.
"Jadi maksud Anda anak perempuan kami suka gonta-ganti pasangan begitu?!" pekik Pak Heri dengan wajah memerah menatap Pak Agung.
"Kami tidak bilang begitu. Tapi, bisa saja 'kan?! Siapa tahu bayi itu milik orang lain."
Pak Heri kesal bukan kepalang. Sikap acuh yang ditampakkan oleh pasangan itu membuat hatinya semakin panas.
"Begini saja, Pak Agung. Panggil putra kesayanganmu itu ke sini, biar dia mengakui semua perbuatannya, agar Anda percaya bahwa kami tidak sedang berbohong!" kesal Pak Heri.
Bu Kirana memutarkan bola matanya kemudian meminta seorang pelayan untuk memanggil Chandra yang masih bersembunyi di kamarnya. Tidak butuh waktu lama, Chandra pun turun dari lantai dua, di mana kamarnya berada.
Chandra sempat bertatap mata dengan Imelda dan lelaki itu langsung memasang wajah malas. Ia benar-benar sudah malas berurusan dengan gadis itu.
"Ada apa sih, Dad?" tanya Chandra sembari menjatuhkan tubuhnya di samping Sang Ayah.
"Benarkah kamu sudah menghamili gadis ini, Chandra? Katakan dengan jujur!"
"Aku menghamili gadis ini? Yang benar saja! Tidak level," sahut Chandra sambil memalingkan wajahnya.
"Kurang ajar kamu, Chandra! Kita sudah sering melakukannya dan ini adalah bayimu!" teriak Imelda seraya bangkit dari posisi duduknya. Gadis itu sangat kesal karena Chandra masih tidak mau mengakui bahwa bayi itu adalah miliknya.
"Kita lakukan tes DNA! Dan jika kami benar, maka aku tidak akan segan-segan melaporkan kalian ke Polisi!" ancam Pak Heri. Lelaki paruh baya tersebut sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.
Bu Kirana segera bangkit dari posisi duduknya kemudian melenggang menuju kamar utama. Tidak berselang lama, wanita itupun kembali dengan sebuah tas kecil berisi uang.
"Gugurkan bayi itu dan lupakan semuanya! Dan aku rasa uang itu sudah lebih dari cukup!" ucap Bu Kirana seraya melemparkan tas tersebut ke hadapan keluarga Pak Heri.
...***...