
"Aww!" pekik Alina secara tiba-tiba di saat ia dan Erlan tengah tertidur pulas.
Mendengar Alina memekik, Erlan pun ikut terbangun dari tidurnya. "Ada apa, Sayang?" tanya Erlan dengan wajah panik menatap Alina yang tengah bersandar di sandaran tempat tidur mereka sambil memegang perutnya.
"Perutku sakit, Mas. Sepertinya aku harus segera ke kamar mandi," sahut Alina seraya bangkit dari tempat tidur.
Melihat hal itu, Erlan tidak tinggal diam. Ia segera membantu Alina yang terlihat kesusahan membawa perutnya berjalan menuju kamar mandi.
"Apa jangan-jangan kamu akan melahirkan, Sayang?" tanya Erlan kemudian menoleh ke arah jam dinding yang menggantung di dinding kamar mereka. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 01.00 di mana semua orang tengah tertidur dengan lelapnya.
"Tapi sepertinya bukan, Mas. Aku cuma mulas mau poop deh kayaknya," sahut Alina yakin.
Erlan menautkan kedua alisnya ketika Alina berkata seperti itu. Sejak kemarin sore, Alina sudah sering mengeluh bahwa perutnya sering mulas tanpa sebab dan setiap kali Erlan bertanya, jawabnya selalu sama 'ingin poop'. Padahal yang dia lakukan hanya duduk di atas closet sambil merasakan rasa mulas di perutnya.
"Serius, Sayang? Sejak kemarin sore jawaban kamu begitu terus. Apa tidak sebaiknya kita ke Rumah Sakit saja? Siapa tahu benar kalau sebentar lagi kamu akan melahirkan," tutur Erlan yang sudah mulai tidak nyaman melihat kondisi Alina.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja, kok." Alina tersenyum kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Sedangkan Erlan yang masih sangat mengkhawatirkan kondisi Sang Istri, memilih menunggu di depan pintu kamar mandi.
Setelah melepaskan celananya, Alina terkejut ketika melihat ada cairan yang membasahi celananya. "Loh, apa ini? Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Mas Erlan itu benar?" gumamnya sambil memeriksa cairan tersebut.
"Alina sayang, kamu baik-baik saja?" panggil Erlan dari balik pintu kamar mandi.
"Sebentar, Mas!"
Setelah melepaskan celana kotornya, Alina bergegas menemui Erlan. "Mas, Mas! Coba lihat," ucap Alina yang berjalan tergopoh-gopoh menuju Erlan yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Erlan yang sudah sejak tadi merasa tidak nyaman, bergegas masuk ke dalam ruangan itu kemudian menghampiri Alina. "Ada apa, Sayang?!" tanya Erlan panik.
"Ada cairan yang keluar dari area pribadiku, Mas. Coba lihatlah!" sahut Alina sembari mengangkat pakaiannya hingga batas paha.
"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit," sambung Erlan seraya mengangkat tubuh mungil Alina dan membawanya ke tempat tidur.
Setelah meletakkan Alina dengan perlahan ke atas tempat tidur, Erlan pun segera menghubungi Sean dan meminta bantuan asistennya itu untuk membawa mereka ke Rumah Sakit. Walaupun sebenarnya Sean masih mengantuk berat, tetapi demi Erlan dan Istri kecilnya, Sean pun rela melakukan apa saja yang diminta oleh Big bossnya itu.
Selesai menelpon Sean, Erlan meraih koper yang berisi barang-barang keperluan Alina dan juga bayi mereka, yang sudah mereka persiapkan beberapa hari sebelumnya.
"Tahan sebentar ya, Sayang!" ucap Erlan ketika melihat wajah Alina yang memucat. Rasa sakit yang Alina rasakan saat itu sudah mulai teratur, hampir dalam setiap 5 menit rasa sakit itu kembali menderanya.
Dengan tergesa-gesa, Erlan menyeret koper yang akan ia bawa ke Rumah Sakit ke depan pintu apartemen kemudian ia menghampiri kamar Bibi pelayan.
"Bi! Bibi!" panggil Erlan yang mencoba membangunkan Bibi pelayan yang sedang tertidur pulas di kamarnya.
"I-iya, Tuan?!" sahut Bibi, membuka pintu kamar seraya mengucek matanya yang masih terasa berat.
"Bi, bantu bawakan koper itu, ya! Sepertinya istriku akan segera melahirkan dan aku harus membawanya ke Rumah Sakit," ucap Erlan seraya menunjuk koper yang sudah ia letakkan tak jauh dari pintu utama apartemen.
"Ba-baik, Tuan!" sahut Bibi yang juga tampak panik setelah mendengar bahwa Alina akan segera melahirkan.
Erlan bergegas kembali ke kamar dan menghampiri Alina yang masih duduk di tepian tempat tidur sambil mengelus perutnya.
"Sakit sekali, Mas!" lirih Alina dengan mata terpejam menahan rasa sakit yang amat sangat pada perutnya.
"Tahan sebentar lagi ya, Sayang! Kita berangkat sekarang," sahut Erlan yang segera membopong tubuh Alina kemudian membawanya keluar dari kamar tersebut.
...***...