My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pertempuran Panas



Setelah puas mandi bersama, kini Erlan mengajak Alina kembali ke kamar mereka.


"Duduklah di sini, biar aku keringkan rambutmu," ucap Erlan sembari mendudukkan Alina di depan cermin rias.


Alina tidak hentinya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Erlan terhadapnya. Hari ini lelaki itu memperlakukan dirinya seperti ratu. Mandi, dimandikan dan sekarang rambut pun di keringkan olehnya.


Erlan meraih sebuah handuk kemudian mulai mengeringkan rambut Alina yang tergerai panjang dengan benda lembut tersebut. Sesekali ia melirik ekspresi gadis itu dari balik kaca yang ada di hadapan mereka.


"Kamu kenapa, Mas? Kamu tidak sedang sakit 'kan?" tanya Alina sembari membalas tatapan Erlan di cermin.


Erlan kembali menyunggingkan sebuah senyuman. "Tidak, Sayang. Sebenarnya sudah lama aku ingin melakukan hal ini, tetapi sayangnya kita belum sah menjadi suami istri. Tapi karena sekarang kita sudah sah menjadi suami istri, aku bisa memperlakukan dirimu sebagai ratuku tanpa dilarang oleh siapapun. Benar, 'kan?"


Alina mengerucutkan bibirnya sambil memasang ekspresi wajah menggemaskan. "Ya Tuhan, manisnya dirimu, Tuan Erlan."


"Hei, jangan pasang wajah menggemaskan itu. Aku jadi pengen cepat-cepat naik ke atas tempat tidur," gumam Erlan dengan mata membulat menatap Alina.


"Ah, iya, maaf."


"Ah, terlambat." Erlan melemparkan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut panjang Alina ke sembarang arah.


"Loh! Rambutku belum kering sempurna lo ini," pekik Alina karena tiba-tiba saja Erlan kembali membopong tubuhnya dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Siapa suruh bikin wajah menggemaskan seperti itu. Wajah menggemaskanmu membuat juniorku bangkit, Alina sayang."


"Hah? Mas ada-ada saja, masa si junior bangkit gara-gara lihat wajah menggemaskan," sahut Alina dengan alis yang saling bertaut.


Perlahan Erlan meletakkan Alina ke atas tempat tidur kemudian menarik ikatan kimono mandi yang masih digunakan oleh Alina. Setelah berhasil melepaskan ikatan kimono mandi gadis itu, ia pun segera melepaskan kimono mandi tersebut dan melemparkannya ke samping tempat tidur.


"Sebenarnya bukan hanya wajah menggemaskanmu, Alina, tetapi semua yang ada pada dirimu membuat aku dan juniorku penasaran," sahut Erlan sembari melepaskan kimono mandinya.


Alina yang masih merasa canggung, kembali menutupi kedua bulatan kenyal miliknya dengan kedua tangan. Sedangkan aset pribadinya yang lain di bawah sana ia coba tutupi dengan menyilangkan kedua kakinya.


Erlan kembali tersenyum ketika melihat aksi Alina yang mencoba melindungi aset berharganya dari mata nakal lelaki itu. "Apa aku masih belum boleh melihat dan juga menyentuhnya?"


Akhirnya Alina mengalah karena lelaki yang sedang mengungkung dirinya saat ini adalah lelaki yang sudah berstatus sebagai suami sahnya. Perlahan Alina membuka kedua tangannya yang masih menutupi kedua bulatan kenyal tersebut.


"Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut," ucap Erlan sambil menatap lekat kedua bola mata indah milik Alina.


"Ya, jangan keras-keras, Mas. Takutnya bayimu marah kemudian menggigit juniormu yang sudah menjenguknya tanpa izin." Alina tertawa sambil membayangkan bayinya menggigit junior milik sang Daddy.


Erlan ikut terkekeh dan kini tangannya menelusuri perut buncit tersebut dengan lembut.


Penuturan Erlan di atas perutnya membuat Alina tergelak. "Ya ampun, kasihan Daddy! Ternyata Daddy kamu pasrah sekali, Nak."


"Nah, aku sudah minta izin sama si mungil ini dan sekarang saatnya minta izin sama pemiliknya. Bolehkah malam ini aku menyentuhmu, Nyonya Erlan Ardinasa Harrison?" tanya Erlan seraya menjamah kedua bulatan kenyal yang sejak tadi menggodanya.


Alina menganggukkan kepalanya perlahan dan anggukan dari gadis itu membuat Erlan begitu bahagia. "Terima kasih, Sayang."


Dengan begitu bersemangat, Erlan pun mulai melakukan pemanasan. Hal pertama yang sangat ingin ia sentuh adalah bibir mungil milik gadis itu. Sejak pertama mereka bertemu, bibir mungil itu terus saja membuat Erlan penasaran. Ia ingin sekali menyentuh, melumatt kemudian menyesappnya hingga puas.


Perlahan Erlan mendekatkan bibirnya kepada bibir istri mungilnya itu. Alina yang masih sangat polos, hanya terdiam saat Erlan mulai mengecup kedua bibirnya secara bergantian. Namun, perlahan ia mulai belajar dan membalas kecupan demi kecupan yang dilancarkan oleh Erlan kepadanya.


Di saat Erlan masih menikmati bibir mungil tersebut, tangan nakal lelaki itu mulai bergentayangan di atas kedua bulatan kenyal milik Alina. Ia memainkan kedua bulatan kenyal gadis itu dengan meremass dan memainkan puncaknya.


Suara desaahan yang keluar dari bibir Alina membuat Erlan bersemangat melakukan pemanasan dan ia pun sudah tidak sabar ingin meluncurkan juniornya ke tempat seharusnya.


"Kita mulai saja, ya?" ajak Erlan setelah memastikan bahwa milik Alina sudah siap menerima serangan dari juniornya.


Alina pun menganggukkan kepalanya. Walaupun sebenarnya ia masih gugup dan takut, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Setelah mendapatkan lampu hijau dari sang pemilik lapangan, Erlan pun mulai mengarahkan juniornya ke area pribadi milik Alina.


Perlahan Erlan mendorong senjatanya ke dalam area pribadi milik Alina. Walaupun ini bukan yang pertama bagi mereka berdua, tetapi ini adalah yang pertama kalinya mereka melakukannya secara sadar. Erlan dan Alina akhirnya bisa merasakan kenikmatan itu bersama-sama.


Erlan terus memompa tubuhnya. Pergerakan junior keluar masuk sarang, membuat tubuh Alina beberapa kali bergelinjangg, sebagai petanda bahwa ia benar-benar merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Erlan pun mencapai puncak kenikmatannya. Ia mengerang di atas tubuh Alina sambil melakukan pelepasan dengan tubuh penuh cucuran keringat. Begitu pula sebaiknya, Alina bahkan tidak sadar sudah mencengkeram erat kedua lengan kekar milik Erlan di saat ia mencapai puncak kenikmatannya.


Setelah selesai melakukan pelepasan, tubuh Erlan pun jatuh ke samping tubuh Alina dengan napas yang masih tersengal-sengal. Ia tersenyum puas sambil bertatap mata dengan Alina yang juga sedang kelelahan setelah pertempuran panas mereka.


"Untung si mungil tidak marah, jadi Juniorku tidak digigit olehnya," ucap Erlan sambil tertawa pelan di sela tarikan napasnya yang masih terdengar sangat cepat.


"Ya, ampun, Mas. Kamu lucu," sahut Alina.


Erlan segera meraih tubuh mungil Alina ke dalam pelukannya kemudian memeluknya dengan erat. Tak lupa ciuman hangat yang selalu ia labuhkan di puncak kepala istri kecilnya itu.


"Aku mencintaimu, Alina. Dan aku harap kita akan selalu seperti ini hingga akhir hayat kita," ucapnya.


Alina begitu terharu mendengar ucapan Erlan. Ia membalas pelukan lelaki itu sembari membenamkan wajahnya di dada bidang milik Erlan. "Ya, aku juga mencintaimu, Mas. Dan aku pun memiliki keinginan yang sama seperti dirimu. Karena saat ini kamu lah satu-satunya harapanku."


...***...