
Erlan terus menuntun Alina hingga ke suatu tempat. Mereka memasuki sebuah halaman yang cukup luas dengan sebuah bangunan megah berdiri kokoh di hadapan mereka.
Selain Erlan dan Alina, Nyonya Afiqa pun tidak mau ketinggalan. Setelah sadar bahwa bayi tampan itu seratus persen adalah cucunya, Nyonya Afiqa seolah enggan berada jauh-jauh dari Baby Arkana. Bahkan hampir setiap hari Nyonya Afiqa berkunjung ke apartemen hanya untuk menemani bayi tersebut.
"Sudah siap?" bisik Erlan lagi. Membuat Alina terkekeh pelan karena ia merasa geli.
"Siap untuk apa?" tanya Alina.
Perlahan Erlan membuka penutup mata Alina dan memperlihatkan sebuah bangunan mewah di hadapan mereka. "Kejutan!" seru Erlan sambil tersenyum lebar.
Alina nampak kebingungan melihat bangunan megah itu. Entah berapa kali lipat dari rumahnya yang ada di kampung, yang baru saja selesai direnovasi oleh Erlan.
"Rumah siapa ini, Mas?" tanya Alina yang masih nampak bingung.
"Rumah kita. Bagaimana menurutmu?" tanya Erlan lagi.
Alina tidak menjawab. Ia masih terpelongo memperhatikan sekeliling bangunan mewah tersebut. Erlan menarik pelan tangan Alina kemudian menuntunnya memasuki bangunan mewah itu.
Lagi-lagi Alina membulatkan matanya dengan sempurna ketika memasuki ruangan tersebut. "Wah, besar sekali! Benar ini rumah kita, Mas?" pekiknya.
"Ya, mulai hari ini kita akan tinggal di sini," sahut Erlan yang masih menuntun Alina mengelilingi bangunan itu dari ujung ke ujung.
Jika Erlan dan Alina sedang asik menjelajahi kediaman baru mereka, Nyonya Afiqa malah lebih tertarik menemani Baby Arkana.
"Lan, jangan lupa kasih satu kamar spesial untuk Mommy, ya! Ya, siapa tahu Mommy ingin menginap di sini untuk menemani cucu kesayangan Mommy," ucapnya dengan tatapan masih tertuju pada bayi mungil yang sejak tadi berada di pelukannya.
"Siap, Mom!" jawab Erlan.
"Mas, kamu ingin aku encok setiap hari, ya?" tanya Alina sambil menatap wajah Erlan dengan serius.
"Apaan, sih?" Erlan terkekeh pelan setelah mendengar ucapan istri kecilnya itu. Apalagi tatapan wanita mungil itu tampak begitu serius.
"Yang suruh kamu membersihkan tempat ini siapa coba? Kan nantinya ada pelayan yang bertugas membersihkannya. Lagian, di apartemen juga sudah sering aku bilang bahwa itu tugas Bibi, tapi kamunya 'kan yang bersikeras ingin membersihkannya?" balas Erlan.
Alina tersenyum kecut. Apa yang diucapkan oleh suaminya itu benar. Selama ini ia yang,bersikeras melakukan pekerjaan itu padahal Erlan dan Pelayan itu sendiri sudah sering melarangnya.
"Oh ya, Sayang. Apa kamu ingin mendengar berita yang begitu mengejutkan?" tanya Erlan seraya membuka pintu kamar utama. Kamar yang akan ia tempati bersama Alina.
"Wah, ini kamar kita?" pekik Alina.
"Ya, ini kamar kita. Bagus 'kan? Eh, kamu belum menjawab pertanyaanku barusan."
"Baiklah. Berita apa?" Alina memperhatikan keluar jendela dan ternyata dari tempat itu ia bisa melihat sebuah taman kecil yang berada di samping bangunan mewah tersebut. Alina bahkan sampai terkagum-kagum dibuatnya.
"Berita tentang Imelda dan Sean," jawab Erlan yang kini berdiri di samping Alina dan ikut memperhatikan taman tersebut.
"Imelda?" Alina sontak berbalik dan kini menatap Erlan dengan wajah serius.
"Sean dan Imelda memutuskan untuk segera menikah."
"Benarkah?! Kamu tidak sedang bercanda 'kan, Mas?" tanya Alina dengan mata membulat.
Alina menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku serius."
"Akh!" jerit Alina seraya memeluk tubuh Erlan karena saking bahagianya mendengar berita tersebut. "Aku senang mendengarnya, Mas. Karena aku yakin Tuan Sean pasti bisa membahagiakan Imelda. Sudah cukup penderitaan yang ia rasakan selama ini dan sekarang sudah saatnya ia dan bayinya bahagia,"
"Kamu benar, Sayang."
***