
Sementara itu di kediaman Pak Heri.
Bu Dita duduk di tepian tempat tidur Imelda sambil mengelus puncak kepalanya. Setelah penolakan kasar yang dilakukan oleh keluarga Chandra hari itu, Imelda jatuh sakit. Bahkan hingga sekarang gadis itu tak ingin menyentuh makanan sedikitpun.
"Nak, makan dulu, ya. Apa kamu tidak kasihan sama bayimu? Dia pasti kelaparan, Nak. Apa yang dia serap dari tubuhmu, jika kamu saja tidak ingin menyentuh makananmu sedikitpun," tutur Bu Dita dengan mata sembab menatap Imelda.
"Biarkan, Bu. Biarkan Imelda dan bayi ini mati biar Chandra menyesali perbuatannya," jawab Imelda dengan suara yang begitu lemah. Matanya bahkan masih terpejam dengan sempurna.
Bu Dita terisak mendengar penuturan Imelda. Perasaannya sebagai seorang Ibu hancur lebur setelah mendengar kata-kata yang keluar dari bibir anak semata wayangnya itu. Walaupun Imelda sudah berbuat kesalahan yang begitu besar karena sudah mencoreng nama baik keluarganya. Namun, ia tetap tidak bisa membenci anaknya sendiri.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Nak. Tidak boleh, kasihan bayimu." Tangis Bu Dita makin pecah, wanita paruh itu bahkan sampai sesenggukan dibuatnya.
"Sudah, Bu. Ibu tidak usah mengkhawatirkan Imelda dan bayi ini. Lagipula Chandra saja tidak peduli akan nasib kami," lirih Imelda.
Bu Dita hanya bisa menangis sesenggukan. Ia sudah tidak sanggup berkata-kata lagi. Malam itu Bu Dita terus menemani Imelda yang masih enggan menyentuh makanannya sedikitpun padahal kondisinya sudah sangat lemah.
Wanita paruh baya itu terus berjaga. Hampir semalaman penuh ia tidak tidur dan yang ada di pikirannya saat itu hanya satu, bagaimana caranya agar Imelda bisa kembali ceria sama seperti dulu.
Ceklek!
Bu Dita mendengar suara pintu kamar yang dibuka oleh seseorang. Wanita paruh baya itu segera menoleh ke arah pintu dan ternyata Pak Heri masuk ke kamar tersebut kemudian menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya, Bu?" tanya Pak Heri sembari merengkuh pundak Sang Istri.
"Beginilah keadaannya, Yah. Ayah lihat sendiri 'kan, bahkan makanan favoritnya pun tidak ia sentuh," lirih Bu Dita sambil terisak.
Pak Heri menghembuskan napas berat. Ia pun sebenarnya sangat sedih melihat keadaan Imelda yang seperti itu. Namun, mau bagaimana lagi. Keluarga besar Pak Agung yang sombong itu bahkan tidak ingin bertanggung jawab kepada putri semata wayangnya.
"Sebaiknya Ibu beristirahat. Ayah tidak ingin Ibu ikut sakit hanya gara-gara menjaga Imelda." Pak Heri membelai puncak kepala Bu Dita.
"Lalu bagaimana dengan Imelda?"
"Kan masih ada Bibi, Bu. Biarkan Bibi yang menggantikan Ibu untuk sementara."
"Baiklah, Ayah."
Sebelum pergi dari kamar tersebut, Bu Dita sempat melabuhkan ciuman hangatnya di kening Imelda. Setelah itu ia segera keluar dari kamar tersebut dan diikuti oleh Pak Heri dari belakang.
Wanita paruh itu mencoba mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah. Walaupun tubuh wanita itu sudah sangat lelah, tetapi matanya enggan untuk diajak tidur. Dengan susah payah Bu Dita mencoba menutup mata agar ia bisa tertidur barang sejenak, tetapi tetap tidak bisa.
. . .
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Pak Heri sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Setelah meminta bantuan pelayan untuk menjaga Imelda, Bu Dita pun bersiap untuk pergi ke kediaman Pak Agung dan Bu Kirana.
Bu Dita meminta Pak Sopir untuk mengantarkannya ke kediaman Pak Agung dan Pak Sopir itu pun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang dituju.
"Semoga Bu Kirana bisa mengerti karena dia juga seorang wanita. Mustahil dia tidak mengerti bagaimana posisi Imelda saat ini," batin Bu Dita.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang membawa Bu Dita tiba di depan pintu gerbang rumah mewah milik Bu Kirana.
"Pak, tunggu sebentar di sini, ya," ucap Bu Dita sebelum ia pergi keluar dari mobilnya.
"Baik, Bu."
Perlahan Bu Dita menghampiri gerbang yang berdiri kokoh di hadapannya. Salah seorang penjaga keamanan yang kemarin sempat mengusir keluarga kecilnya, segera menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Mau apa lagi Anda ke sini? Bukankah sudah terdengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan oleh Tuan dan Nyonya kami kemarin? Atau Anda ingin kami mengingatkannya lagi?" ketusnya.
"Tidak usah, aku masih ingat. Tapi ... aku mohon, tolong katakan pada Bu Kirana bahwa aku ingin bicara padanya. Kali ini aku berjanji tidak akan membuat keributan di rumah ini lagi. Kumohon ...." Bu Dita bahkan sampai menyatukan kedua tangannya di hadapan para penjaga keamanan tersebut.
Para penjaga keamanan pun mulai luluh. Salah satu dari mereka bersedia menyampaikan keinginan Bu Dita kepada majikannya. Lelaki itu berlari kecil memasuki rumah megah tersebut dan menemui Bu Kirana yang sedang bersantai sambil mengetik ponsel mahalnya.
"Nyonya Kirana, di luar ada Bu Dita. Istri dari Pak Heri yang kemarin mengamuk-ngamuk di sini."
"Apa?!" pekik Bu Kirana. "Mau apa lagi dia ke sini, mau menghina kami lagi? Dasar wanita tidak tahu diri," lanjutnya dengan wajah kesal.
"Dia bilang ingin bicara dengan Anda, Nyonya, dan ia juga berjanji tidak akan membuat keributan."
Bu Kirana nampak berpikir keras. Ia masih kesal dengan wanita itu, apalagi Pak Heri yang sudah menghina keluarganya. Bu Kirana menghampiri jendela kaca rumahnya kemudian mengintip Bu Dita yang masih berdiri di depan gerbang rumahnya dengan wajah kusut.
"Baiklah, izinkan dia masuk. Tetapi kalian harus tetapi berjaga-jaga. Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi," titahnya.
"Baik, Nyonya."
...***...