
"kamu lihat, Sayang! Akhirnya bayi kita lahir," pekik Erlan sambil menitikkan air mata penuh haru. Ia masih setia duduk di samping tempat tidur Alina sambil menciumi tangan Alina yang ada di genggamannya.
Bukan hanya Erlan, Alina pun ikut menangis karena bahagia. Rasa sakit yang tadi mendera seluruh tubuhnya, kini berganti menjadi rasa bahagia yang tiada tara.
"Suara tangisnya kencang sekali ya, Mas." ucap Alina di balas dengan anggukan oleh Erlan.
Setelah selesai dibersihkan, seorang perawat membawa bayi mungil tersebut kepada Erlan dan Alina sambil tersenyum hangat.
"Selamat ya, Tuan Erlan. Bayinya sehat dan sangat tampan," ucap Pelayan itu seraya menyerahkan bayi mungil dengan berat 3,5 kg dan panjang 53 cm, tersebut kepada Sang Daddy.
"Tampan?" tanya Erlan sambil tersenyum lebar setelah mendengar kata 'tampan'. Itu artinya bayi pertamanya tersebut berjenis kellamin laki-laki. Dengan tangan bergetar, Erlan menyambut bayi tersebut dari tangan perawat kemudian menatapnya dengan seksama.
"Ya, Tuan. Dia sangat tampan."
Setelah menyerahkan bayi mungil tersebut kepada Erlan, Perawat itu pun kembali melanjutkan tugasnya.
Kini tatapan Erlan kembali fokus pada bayi mungil yang sedang tertidur di dalam pelukannya.
"Ya Tuhan, Sayang! pekik Erlan sambil tertawa pelan ketika memperhatikan wajah bayi mungil tersebut. "Coba kamu lihat!" Erlan memperlihatkan bayi mungilnya kepada Alina yang masih kelelahan.
Tiba-tiba saja Alina terkekeh setelah melihat wajah tampan bayi mungil mereka. "Ah, curang! Aku mengandungnya selama sembilan bulan, lah wajahnya full milikmu, hu ... hu ...." ucap Alina sambil berpura-pura menangis.
Erlan tidak bisa menahan tawanya melihat reaksi Alina saat itu. "Sabar ya, Sayang," sahut Erlan sambil mengacak pelan puncak kepala Alina dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lain, masih memeluk bayi mungil tersebut.
"Eh, ngomong-ngomong siapa namanya, Mas?" tanya Alina kepada Erlan.
"Aku sudah lama mempersiapkan nama ini untuknya, Arkana Ardinasa Harrison."
"Wow, namanya bagus. Aku suka!" pekik Alina sambil tersenyum lebar menatap Erlan dan juga bayinya.
Sementara itu di kota X, beberapa jam setelah kelahiran bayi mungil yang diberi nama Arkana Ardinasa Harrison tersebut.
"Akh! Akhirnya," pekik Rara di pagi-pagi buta ketika mendapatkan pesan chat dari Erlan.
"Istri Erlan sudah melahirkan, Mas! Coba lihat," sahut Rara dengan sangat antusias memperlihatkan foto Baby Arkana kepada suaminya.
Abimanyu mengucek matanya kemudian menatap layar ponsel milik Rara dengan serius. "Yakin ini foto bayinya Erlan? Atau jangan-jangan kamu malah di-prank sama Erlan dengan mengirimkan fotonya ketika masih bayi," celetuk Abimanyu.
Rara sempat terdiam sejenak sambil menatap Abimanyu dengan wajah menekuk. "Eh, mana bisa! Jika benar itu foto Erlan ketika masih bayi, pastinya foto sudah terlihat jadul, Mas!" kesalnya.
"Bisa saja, 'kan. Sekarang aplikasi edit foto itu semakin canggih, loh," sahut Abimanyu yang sengaja ingin menggoda Rara.
"Ah, sudahlah. Bicara sama kamu itu melelahkan!"
Abimanyu pun terkekeh pelan. "Iya, iya! Maafkan aku, aku hanya bercanda, kok. Ngomong-ngomong, kamu sudah kasih tahu Mommy belum kalau istrinya Erlan sudah melahirkan?" tanya Abimanyu.
Rara menggelengkan kepalanya perlahan. "Belum sih, Mas. Apa harus aku kasih tau Mommy? Tapi menurutku walaupun Mommy tahu tentang kelahiran bayi pertama Erlan, ia tetap tidak akan peduli juga," sahut Rara.
"Tapi, tidak ada salahnya dicoba 'kan, Sayang. Mungkin saat ini Mommy masih tidak bisa menerima kehadiran bayi mungil itu, tetapi nanti, siapa yang tahu? Tuhan itu dengan mudah membolak-balikkan hati seseorang." Abimanyu mencoba meyakinkan Rara.
Rara tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia pun setuju dengan pendapat Abimanyu saat itu. "Baiklah. Aku rasa kamu benar, Mas."
Akhirnya Rara memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Nyonya Afiqa yang masih tertidur pulas di tempat tidurnya yang nyaman serta empuk tersebut.
Ia menggeliatkan badannya ketika mendengar suara ponsel miliknya yang berdering di atas nakas. "Siapa sih yang menelpon pagi-pagi begini?!" gumam Nyonya Afiqa dengan wajah masam.
Setelah meraih ponsel tersebut, ia pun melihat nama Rara terpampang jelas di layar ponselnya. "Rara?! Tumben," gumamnya.
"Ya, Ra?!"
"Mommy ... Mommy sudah tahu belum kalau Alina sudah melahirkan tadi malam pukul 02.00 pagi?" tanya Rara.
"Apa?! Alina sudah melahirkan?!" pekik Nyonya Afiqa.
...***...