My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Pengakuan Imelda Kepada Bu Dita



"Apa yang Anda ucapkan itu tidak benar! Kalian bahkan tidak tahu cerita yang sebenarnya tentang Alina! Jadi, jangan pernah mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya!" sambung Imelda sembari menujuki wajah Ibu-Ibu tersebut.


Ibu-Ibu tersebut menggelengkan kepalanya sambil menatap Imelda. "Heh! Kenapa kamu yang sewot? Oh, jangan-jangan benar kalau kalian itu sama. Iya 'kan?!"


"Cukup! Anda sudah memfitnah Alina tanpa tau cerita yang sebenarnya! Kalian benar-benar sudah keterlaluan!"


Imelda yang sudah tidak bisa menahan emosinya segera pergi meninggalkan tempat itu.


"Siapa gadis itu?" tanya salah satu Ibu-Ibu lainnya yang baru saja tiba di tempat itu setelah mendengar suara keributan antara Imelda dan wanita tadi.


"Entahlah! Dia marah-marah setelah aku menceritakan tentang Alina. Mungkin dia juga sama seperti Alina, makanya dia tidak terima ketika Alina dikatakan seperti itu," sahutnya.


Sementara itu, Imelda terus melangkahkan kakinya menjauhi tempat itu sambil bergumam ria. Ia tidak habis pikir kenapa para warga kampung tersebut bisa mengambil kesimpulan seperti itu terhadap Alina.


"Mereka sungguh keterlaluan! Tanpa mencari tahu kebenarannya, mereka tega mengusir Alina!" kesal Imelda dengan wajah memerah.


Namun, sedetik kemudian raut wajahnya kembali murung. "Ini semua akibat dari perbuatanku. Jika seandainya aku tidak melakukan itu, mungkin Alina masih berada di sini bersama Bu Nadia," lirih Imelda yang kembali menitikkan air matanya.


"Alina ... kamu di mana? Ya, Tuhan! Di mana pun Alina berada, kumohon lindungi dia," lanjutnya.


Imelda melangkah gontai menuju tanpa tahu arah dan tujuan. Ia bingung kemana harus mencari keberadaan Alina. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba mata Imelda tertuju pada sebuah tempat pemakaman umum.


Ia ingat bahwa Bu Nadia dimakamkan di tempat itu. Imelda menghentikan langkahnya sambil menatap sebuah makam yang letaknya tak jauh dari jalan ramai. Ia tahu bahwa makam tersebut adalah makam Ibunya Alina.


"Bu Nadia," lirih Imelda.


Akhirnya Imelda memilih mengunjungi makam Bu Nadia. Ia menghampiri makam tersebut sambil memperhatikannya. Makam Bu Nadia terlihat sangat bersih dan juga terawat. Imelda duduk di sana kemudian membaca doa untuk mendiang Bu Nadia.


"Bu Nadia, aku tahu bahwa kesalahan yang aku lakukan terhadap Ibu dan juga Alina sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa dimaafkan. Tapi, aku benar-benar menyesal, Bu. Aku akan melakukan apa saja agar bisa mendapatkan maaf dari kalian."


Setelah puas mencurahkan isi hatinya di depan makam Bu Nadia, Imelda pun memutuskan untuk menemui Ibunya. Kali ini ia memilih naik ojek untuk mengantarkannya menuju kediaman kedua orang tuanya tersebut.


Tidak berselang lama, ia pun tiba di depan kediaman orang tuanya. Setelah membayar tukang ojek tersebut, Imelda pun segera masuk dan mencari keberadaan Bu Dita.


"Bu?! Ibu di mana?" panggil Imelda sembari mencari keberadaan Ibunya ke segenap ruangan.


"Imelda sayang, kamu kenapa tidak menghubungi Ibu? Kan Pak Sopir bisa menjemputmu?" ucap Bu Dita sembari menghampiri Imelda.


"Ehm, Bu. Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama Ibu dan ini sangatlah penting," sahut Imelda.


Bu Dita semakin bingung. Ia memperhatikan wajah kusut Imelda kemudian menuntunnya menuju sofa yang ada di ruang utama rumah mereka. "Sebaiknya kita duduk dulu ya, Nak. Baru setelah itu kamu ceritakan semuanya."


"Bu ...," lirih Imelda dengan wajah sendu menatap Bu Dita ketika mereka berdua sudah duduk di sofa tersebut.


"Ada apa sih, Nak? Kenapa wajahmu kusut begitu? Jangan buat Ibu khawatir, apa ini ada hubungannya dengan suamimu? Apa suamimu berbuat jahat padamu? Apa yang sudah dilakukannya padamu, Imelda?! Katakan sama Ibu." Bu Dita cemas, ia memeriksa tubuh Imelda dengan seksama. Ia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada anak perempuannya itu.


"Bukan, Bu. Ini bukan soal Chandra, ini soal yang lain. Ini tentang ...." Imelda kembali terdiam. Saat itu ia benar-benar takut dan butuh nyali yang begitu besar untuk mengakui seluruh kesalahan yang sudah ia lakukan terhadap Alina.


"Bukan? Oh, syukurlah. Lalu ini tentang siapa? Katakan lah, Nak." Bu Dita sedikit lega karena ini bukanlah tentang Chandra. Namun, ia masih bingung apa yang ingin dibicarakan oleh Imelda kepadanya.


Imelda menarik napas panjang kemudian menghembuskannya lagi dengan perlahan. "Sebenarnya ini tentang Alina, Bu."


"Alina? Ada apa dengan Alina?!" Rasa penasaran Bu Dita semakin menjadi apalagi setelah nama gadis itu disebutkan. Selama ini Bu Dita merasa sangat bersalah karena sudah memecat Alina tanpa alasan dari pekerjaannya. Sedangkan ia sendiri tahu bahwa gadis itu masih sangat membutuhkan pekerjaan tersebut.


"Semua yang dikatakan oleh Alina itu benar, Bu. Aku lah yang salah. Aku sudah melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan terhadap Alina dan sekarang Alina harus menanggung semuanya. Maafkan aku, Bu!" Imelda menjatuhkan dirinya sambil terisak di hadapan Bu Dita dan ia pun bersimpuh di depan kaki wanita paruh baya tersebut.


Bu Dita mencoba mengingat kata-kata gadis itu di saat terakhir kali mereka bertemu dan setelah mengingat semuanya, Bu Dita pun mulai meradang dan wajahnya memerah seketika.


"Apa?! Ja-jadi apa yang dikatakan oleh Alina itu benar, Imelda?!" Pekik Bu Dita dengan terbata-bata.


"Iya, Bu! Maafkan Imelda," Imelda menangis histeris di hadapan Bu Dita.


Bu Dita begitu shok mendengarnya. Suaranya serasa tercekat di kerongkongan. Bahkan untuk menelan salivanya pun terasa sangat sulit.


Perlahan air mata Bu Dita jatuh di kedua pipinya. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Imelda bisa berbuat sejahat itu kepada orang lain. Apalagi orang itu adalah Alina, sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri.


"Ya, Tuhan! Ampuni dosa-dosa kami!" gumam Bu Dita karena mengingat Alina adalah gadis yatim piatu yang sudah mereka dzolimi.


...***...