My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Ikut Bersama Erlan



"Hei, apa kalian ingin terus di sini seperti ABG yang sedang pacaran?" Rara berjalan menghampiri Alina kemudian mengajak gadis itu untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Kita sarapan dulu, yuk. Sarapannya sudah siap, tinggal nunggu kalian," ucapnya seraya menggandeng tangan Alina. Sedangkan Erlan mengikuti mereka dari belakang.


"Kak, kenapa cuma Alina yang diajak? Kenapa aku tidak?" tanya Erlan yang masih berjalan di belakang kedua wanita itu.


Rara mendelik sebal kepada Erlan sambil mencebikkan bibirnya. "Lagaknya seperti orang baru dan minta diajak juga. Biasanya 'kan, gak diajak pun kamu langsung duduk aja di sana," ledek Rara.


"Ah, Kakak. Bikin malu saja," gumam Erlan.


Setibanya di ruangan itu, mereka pun segera memulai sarapan pagi mereka. Sarapan kali ini terasa lebih ramai dengan suara-suara berisik yang keluar dari bibir mungil Arsilla. Berbagai macam pertanyaan ia lontarkan kepada Alina dan juga Erlan.


"Om, kapan kalian akan menikahi Kakak Alina?"


Semua mata membulat setelah mendengar pertanyaan si kecil Arsilla. Entah dari mana Arsilla mendengar kabar itu, yang jelas mereka tidak pernah membicarakan masalah itu kepadanya.


"Secepatnya," sahut Erlan.


"Jangan lupa kasih tau Silla ya, Om. Silla ingin lihat Kak Alina mengenakan gaun pengantin yang sama seperti para princess itu loh, Om! Pasti cantik kalo Kak Alina mengenakannya," sambung Arsilla.


"Iya, iya!" jawab Erlan.


"Alina, makan yang banyak, ya. Jangan sungkan, biar kamu dan dedenya sehat."


Rara yang kebetulan duduk tak jauh dari Alina, menyerahkan berbagai macam hidangan ke hadapan Alina dan kemudian mengelus lembut lengan gadis itu.


"Sekarang kami adalah keluargamu, Alina. Jadi, jangan pernah sungkan, ok? Mulai dari sekarang panggil aku Kakak karena tidak lama lagi kamu memang akan menjadi adik iparku. Benar 'kan, Erlan?"


"Ya," ucap Erlan sambil mengusap pundak Alina dengan lembut.


Alina menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Ia begitu terharu mendengar ucapan Rara saat itu. Di saat semua orang berlomba-lomba untuk menyingkirkan dirinya. Namun, di sini ia masih di anggap layaknya manusia. Keluarga kecil ini masih bisa menerima apapun keadaannya.


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama."


***


Erlan dan Alina sudah siap berangkat menuju kota Y, kota kelahiran sang Mommy. Rara nampak sedih, terlebih Arsilla. Gadis itu bahkan tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Jangan lupa sering-sering berkunjung ke sini ya, Erlan."


"Tentu saja, Kak. Apalagi jika Alina sudah sah menjadi istriku. Aku akan sering-sering ajak dia ke kota ini. Lagipula kota ini adalah kota kelahirannya. Benar 'kan, Alina?"


"Ya," sahut Alina sembari menganggukkan kepalanya.


Setelah berpamitan, Erlan dan Alina pun segera memasuki mobil milik lelaki itu kemudian melaju memecah jalan menuju kota Y. Kota yang jaraknya lumayan jauh dari kota kelahiran Alina.


"Entahlah, mungkin saja ia ingin menikmati perjalanannya sendirian tanpa lelaki itu."


Di perjalanan menuju kota Y.


Alina menatap sedih di sepanjang jalan yang ia lewati. Ia tidak tahu kapan ia akan kembali lagi ke kota ini. Kota kelahirannya, kota di mana ia dibesarkan dan begitu banyak kenangan yang harus ia tinggalkan di sini.


"Kamu tidak perlu sedih, Alina. Aku berjanji kita akan sering-sering berkunjung ke kota ini. Dan soal rumahmu, aku akan suruh asistenku untuk mengurus semuanya. Aku jamin, tidak akan ada yang berani menyentuh rumahmu, apalagi menghancurkannya," ucap Erlan seraya mengelus puncak kepala Alina dan mencoba menenangkan gadis itu. Ia tahu bahwa saat ini Alina pasti sangat sedih.


Alina menatap Erlan dengan tatapan sendu. "Ya, Tuan. Itulah yang menjadi pikiranku sekarang ini. Aku takut warga menghacurkan rumahku. Ini bukan soal uang, tetapi lebih dari itu. Kenangan manis yang ada di rumah itu, membuat aku benar-benar menyayanginya."


"Hei, jangan panggil aku Tuan. Sebentar lagi aku akan menjadi suamimu, masa kamu masih memanggilku dengan sebutan Tuan? Dan percayalah padaku bahwa rumahmu akan baik-baik saja. Kamu bisa mengunjungi tempat itu kapan saja kamu mau, tapi setelah asistenku mengurus semuanya."


Alina tersenyum bahagia. "Aku percaya padamu, Tu ... ehm, aku harus memanggilmu apa sekarang?" tanya Alina kebingungan.


"Sayang?" Erlan tersenyum lebar sambil mengedipkan matanya kepada Alina.


"Apa itu tidak terlalu cepat?" Alina menautkan kedua alisnya sambil berpikir. memikirkan panggilan yang pas untuk lelaki bermata abu-abu tersebut. "Bagaimana kalau aku panggil kami dengan sebutan Mas?"


"Mas?" Erlan mengerutkan keningnya. "Mas apa? Mas murni, mas muda, mas imitasi atau--" Erlan menghentikan ucapannya kemudian tertawa pelan setelah melihat ekspresi wajah Alina yang terlihat menekuk.


"Iya, iya. Terserah kamu, yang penting kamu nyaman dan bukan sebutan kata Tuan."


Waktu pun terus berputar. Perjalanan panjang yang dilalui oleh Alina dan Erlan terasa begitu menyenangkan. Tidak jarang mereka bercanda dan tertawa bersama. Namun, setelah beberapa jam kemudian Alina pun tertidur dengan pulasnya. Gadis itu kelelahan setelah bercanda bersama Erlan.


Kini tinggal Erlan yang masih berjaga dan terus fokus pada kemudinya. Sesekali lelaki itu melirik ke arah Alina yang sedang tertidur dengan tenangnya.


Bukan hanya sebatas menatap saja, kini tangan Erlan pun mulai bermain di atas perut Alina yang membulat. Lelaki itu mulai candu merasakan denyutan, kedutan serta tendangan kecil dari bayinya yang begitu lincah di dalam perut Alina.


"Sehat terus ya, Baby. Kamu lihat Mommy-mu, dia gadis terhebat yang pernah Daddy temui. Daddy begitu salut padanya, dengan cobaan yang begitu berat, ia tetap memilih mempertahankan dirimu," gumam Erlan yang kini mulai membelai pipi Alina.


Setelah melewati perjalanan panjang dan sangat melelahkan, mobil yang dikemudikan oleh Erlan pun tiba di depan sebuah gerbang mewah yang menjulang tinggi di hadapannya.


Seorang penjaga gerbang, membukakan gerbang tersebut dan membiarkan Erlan memasuki halaman yang membentang luas di depan matanya.


Kini Erlan menghentikan mobil tersebut tepat di depan sebuah rumah megah yang berdiri kokoh di depan matanya. Rumah megah yang selama ini menjadi saksi kehidupan Erlan dari bayi hingga sekarang.


"Alina sayang, bangunlah. Kita sudah sampai," ucap Erlan sembari mengelus lembut wajah Alina yang masih tertidur.


Alina membuka mata kemudian mengedarkan pandangannya. "Kita sudah sampai?" tanyanya keheranan.


"Ya, Sayang. Ini rumahku, ehm ... rumah Mommy lebih tepatnya. Aku masuk dulu dan kamu tunggu di sini. Aku berjanji hanya sebentar saja dan nanti aku akan kembali kemudian memperkenalkan dirimu sama Mommy."


"Baik, Mas." Alina pun menurut saja dan membiarkan Erlan masuk ke dalam rumah mewah tersebut.


...***...