My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Menjenguk Imelda



Setelah puas berbincang bersama Edgar, Sean pun segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Namun, sebelum ia tiba di tempat itu, Sean sempat mampir ke toko buah dan membeli beberapa macam buah untuk diberikan kepada Imelda.


Setelah membayar buah tersebut, Sean pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju Rumah Sakit. Setibanya di tempat itu, ternyata Tuan Heri dan Bu Dita masih berada di tempat itu untuk menjaga putri kesayangan mereka yang masih dalam kondisi lemah.


Kedatangan Sean di tempat itu, di sambut hangat oleh kedua orang tua Imelda. Pak Heri bahkan sampai memeluk tubuh Sean karena begitu senangnya.


"Tuan Sean, saya tidak menyangka bahwa Anda bersedia mengunjungi kami lagi di tempat ini," ucap Pak Heri dengan wajah semringah.


Sean pun tersenyum. "Sebenarnya hari ini adalah hari terakhir saya di kota ini. Besok saya sudah harus pulang karena pekerjaan saya sudah menumpuk dan menunggu untuk dibereskan," sahut Sean sambil bercanda.


"Oh ya, Tuan Sean. Silakan masuk," ajak Pak Heri seraya menuntun Sean memasuki ruangan Imelda.


Imelda melemparkan sebuah senyuman hangat kepada Sean ketika lelaki itu datang menghampiri tempat tidurnya. Setelah menyerahkan buah-buahan yang ia bawa kepada Pak Heri, Sean pun duduk di samping tempat tidur pasien. Sedangkan Pak Heri memilih keluar dari ruangan itu dan membiarkan Imelda dan Sean bicara di ruangan tersebut.


"Bagaimana kabarmu, Nona? Sudah baikan?" tanya Sean.


Imelda menghembuskan napas panjang sambil tersenyum kecut. "Seperti inilah, Tuan. Tubuh saya masih terasa lemah. Oh ya, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Anda karena sudah menyelamatkan nyawa saya dan juga bayi saya. Seandainya Anda tidak menolong saya saat itu, mungkin saat ini saya sudah--" Imelda menghentikan ucapannya, bahkan bibirnya terlihat bergetar pada saat itu.


Sean terdiam sejenak sembari terus memperhatikan wajah Imelda yang tengah tertunduk. Perasaan benci yang dirasakan oleh Sean kepada wanita itu (benci karena masa lalu Imelda yang begitu jahat) mendadak sirna setelah melihat bagaimana nasib Imelda saat ini.


"Apa yang dilakukan oleh suamimu adalah tindak kekerasan, Imelda. Kenapa tidak kamu laporkan saja lelaki itu, biar dia tahu rasa!" kesal Sean.


Imelda menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. "Entahlah, Tuan Sean. Saya sama sekali tak berniat melaporkan perbuatan Chandra terhadap saya. Saya rasa, saya memang pantas mendapatkan ini semua. Anggaplah ini sebuah karma akibat perbuatan jahat saya kepada seseorang. Lagi pula setelah ini Ayah tidak mengijinkan saya untuk kembali kepada lelaki itu. Itu artinya, ia tidak bisa menyakiti saya lagi," lirih Imelda.


Sean mengerti apa yang dimaksud oleh Imelda saat itu. Namun, ia berpura-pura seolah tidak mengerti dan ingin tahu apakah Imelda bersedia berkata jujur kepadanya.


Imelda terdiam sejenak sambil mengingat kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan kepada sahabatnya sendiri, Alina. Sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri.


"Dulu saya memiliki seorang sahabat, Tuan Sean. Sahabat sekaligus saudara bagi saya. Namun, hanya karena masalah cinta, saya rela melakukan sebuah kesalahan terbesar kepada gadis itu ...."


Imelda pun menceritakan semuanya secara detail kepada Sean tanpa ragu-ragu. Dari awal dirinya menjebak Alina hingga kemalangan terus menimpa gadis itu dan itu semua akibat dari perbuatan jahatnya.


Imelda menceritakan semuanya sambil menitikkan air mata. Sean bahkan dapat melihat dengan jelas penyesalan dari tatapan mata Imelda saat itu.


"Saya benar-benar menyesal, Tuan Sean. Seandainya waktu bisa saya putar ulang, saya ingin kembali ke masa itu, di mana dia datang kepada saya untuk meminta pertolongan. Tapi, sayangnya semua sudah terlambat. Saya bahkan kehilangan jejak gadis itu setelah dia diusir oleh warga kampung. Di saat saya menyadari kesalahan saya dan mencoba memperbaikinya, ternyata Tuhan masih enggan memaafkan saya."


Tangis Imelda pecah di ruangan itu sambil memeluk perutnya yang masih terasa sakit pasca operasi. Sean turut merasa iba, ia mengelus tangan Imelda yang berada tak jauh dari tubuhnya dengan lembut seraya memberinya semangat.


"Aku berjanji padamu, Nona Imelda. Aku akan membantumu mencari tahu keberadaan gadis itu saat ini," ucap Sean.


Imelda membulatkan matanya dengan sempurna setelah mendengar ucapan Sean. "Benarkah itu, Tuan? Tuan bersedia membantu saya menemukan keberadaan Alina?"


Sean menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, aku berjanji padamu, Nona. Jika aku sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu, aku akan secepatnya menghubungimu."


"Ya, Tuhan! Terima kasih banyak, Tuan. Terima kasih banyak," seru Imelda tanpa sadar sudah menggenggam tangan Sean dengan erat.


...***...