My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Triplets Baby 2



Erlan meminta izin kepada Dokter untuk duduk di samping Alina yang masih berbaring di atas tempat tidur pasien dan Dokter pun mengizinkannya.


"Apakah kalian ingin mendengarkan detak jantung mereka?" tanya Dokter kepada pasangan itu.


"Ya Dokter, tentu saja! Tapi sebentar, aku ingin mengambil ponselku dulu. Aku ingin mengabadikannya, Dok!" sahut Erlan seraya merogoh saku celananya kemudian meraih ponsel dan bersiap merekam.


Dokter tersenyum kemudian memperdengarkan bunyi detak jantung ketiga janin mereka di ruangan itu. Suara detak jantung bayi mereka terdengar sangat ramai.


Alina tersenyum sambil menitikkan air mata. Ia benar-benar terharu mendengar suara detak jantung ketiga bayinya yang terdengar sangat merdu di telinganya. Bahkan lebih merdu dari suara penyanyi favoritnya.


Begitu pula Erlan, lelaki itu pun tidak dapat menyembunyikan air mata bahagianya. Ia terus saja merekam moment indah itu untuk di jadikan kenang-kenangan ketika ketiga bayinya sudah lahir nanti.


"Sudah pas ya, Mas. Doa Mas Erlan sudah terkabul," ucap Alina sambil terkekeh pelan.


"Hah?" Erlan bingung, ia menatap heran kepada Alina dengan ponsel yang masih merekam moment di ruangan itu.


"Bukankah Mas Erlan ingin punya anak empat atau lima orang? Dan sekarang Tuhan sudsh mengabulkan keinginan Mas Erlan dengan memberikan tiga bayi sekaligus," tutur Alina.


"Kamu benar, Sayang. Pantas saja kehamilan simpatik yang aku alami sekarang ini terasa sangat berat, ternyata ada tiga bayi di sini dan aku sangat bahagia mendengarnya. Apalagi Mommy, aku yakin Mommy pasti akan sangat girang mendengar berita mengejutkan ini," sahut Erlan seraya menggenggam tangan Alina dengan erat.


"Apa Anda punya keluarga dengan riwayat kehamilan kembar tiga sebelumnya, Tuan Erlan?" tanya Dokter.


Erlan tampak berpikir keras sebelum menjawab pertanyaan Dokter saat itu. Ia mencoba mengingat seluruh keluarganya. Baik itu keluarga dari pihak mendiang Daddy-nya maupun keluarga dari pihak Mommy Afiqa.


Ternyata Alina pun ingin menanyakan hal yang sama seperti pertanyaan Dokter barusan. Ia bingung bagaimana ia bisa hamil kembar padahal di riwayat keluarga Alina, baik itu dari pihak Ayah ataupun Ibunya tidak ada yang pernah melahirkan kembar.


"Sebenarnya ada, Dok. Dari pihak keluarga mendiang Daddy. Salah satu Uncle saya yang ada di luar negeri terlahir kembar, tetapi sayangnya kembaran Uncle saya tidak dapat bertahan hidup," tutur Erlan.


"Ya, Sayang. Aku pun berdoa semoga ketiga bayi kita lahir dengan selamat tanpa kurang apapun. Begitu juga dirimu, kamulah yang lebih utama dari semuanya," sahut Erlan.


"Aamiin," sambung Dokter.


Akhirnya pemeriksaan kandungan Alina pun selesai kini giliran Imelda dan Sean yang tegang, menunggu hasil pemeriksaan Dokter. Yang membuat Sean khawatir pada kehamilan istrinya itu adalah jarak kehamilannya yang begitu dekat padahal Imelda melahirkan secara cesar di kelahiran pertamanya.


Sean ikut duduk di samping Imelda yang sudah berbaring di tempat tidur pasien, menggantikan posisi Alina sebelumnya. Sean harap-harap cemas ketika Dokter memeriksa kondisi kandungan Imelda saat itu.


"Kondisi bayinya sehat, Tuan Sean. Dan posisinya pun bagus," tutur Dokter sambil memperhatikan layar monitor dengan seksama.


"Oh, syukurlah. Ehm, Dok ... apa bayi kami juga kembar?" tanya Sean dengan setengah berbisik kepada Dokter. Ia tidak ingin Erlan dan Alina mendengar pertanyaannya kepada Dokter. Ia malu kalau kedengaran oleh pasangan itu bahwa ternyata dirinya pun menginginkan bayi kembar sama seperti bayi Erlan dan Alina.


"Ih, Mas apaan, sih?" sela Imelda dengan wajah merona malu setelah mendengar pertanyaan Sean kepada Dokter tersebut.


"Siapa tahu 'kan, Sayang. Tiba-tiba saja kita dianugrahi oleh Tuhan bayi kembar sama seperti Tuan Erlan," sahut Sean.


Dokter terkekeh pelan mendengar ucapan Sean saat itu. Ia mencoba menelusuri kandungan Imelda. Namun, hasilnya masih sama seperti bulan sebelumnya.


"Hasilnya masih sama seperti bulan kemarin, Tuan Sean. Janin Anda memang hanya satu, tidak lebih," jawab Dokter.


Sean tersenyum kecut. Keinginannya memiliki bayi kembar tidak menjadi kenyataan. Namun, ia tidak kecewa dan tetap bahagia walaupun bayinya hanya satu.


"Ya, sudah. Satu pun tidak apa, yang penting kamu serta bayi kita selamat dan sehat hingga hari melahirkan nanti," ucap Sean sembari mengelus lembut puncak kepala Imelda.


...***...