My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Erlan Jatuh Pingsan



"Serius, Mas. Aku baik-baik saja, kok!" jawab Alina mencoba meyakinkan Erlan yang masih tidak mempercayai ucapannya.


"Bagaimana aku bisa percaya, kamu menangis tanpa sebab, dan itu rasanya sangat tidak mungkin, Alina. Sebaiknya jujur saja padaku, apa kamu tersinggung dengan ucapan Mommy barusan di meja makan?" tanya Erlan dengan penuh selidik menatap Alina.


Alina tertawa pelan di sela isak tangisnya. "Ya, ampun, Mas. Kenapa aku harus tersinggung dengan ucapan Mommy? Memangnya Mommy bilang apa sama aku hingga aku sampai tersinggung?" tanya Alina balik.


"Ya, siapa tahu 'kan. Aku jadi tidak enak karena tiba-tiba saja kamu menangis seperti ini."


"Entah mengapa tiba-tiba aku kangen Ibu, Mas," ucap Alina sembari menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Erlan.


Erlan segera memeluk tubuh Alina dan membenamkan wajah istri mungilnya itu ke dadanya. "Kalau kamu kangen sama Ibu, tinggal bilang saja sama aku, Sayang. Kita bisa pergi ke makam Ibu kapanpun kamu mau," sahut Erlan sembari mengelus rambut Alina dengan lembut.


"Benarkah?"


"Ya," sahut Erlan.


"Aduh, maafkan aku, Mas! Aku terpaksa berbohong padamu karena aku masih belum siap mengatakan yang sebenarnya padamu," ucap Alina dalam hati.


Keesokan harinya.


"Mas, hari ini Mommy bilang ada keperluan bersama teman-temannya dan Mommy tidak bisa ke sini untuk menemani Arkana. Ehm, bolehkah aku berkunjung ke kediaman Tuan Sean? Aku ingin bertemu Imelda dan Baby Rendra, Mas," ucap Alina sembari membantu Erlan merapikan dasi serta jas yang ia kenakan hari ini.


"Ya, tentu saja, Sayang. Kenapa tidak?" sahut Erlan.


"Benarkah? Tapi aku ajak Baby Arkana dan Babysitter sekalian, loh. Tidak apa-apa, 'kan?" lanjut Alina.


"Ya, terserah kamu saja. Yang penting di saat aku kembali, kamu sudah berada di sini, oke?" Erlan mencubit pelan dagu Alina.


"Siap, Boss!" sahut Alina sembari memberi hormat kepada Erlan.


Setelah selesai melakukan ritual paginya, Erlan pun bersiap pergi ke kantor bersama Sean yang ternyata sudah menunggu di depan rumah mereka.


"Tuan Sean, hari ini aku ingin mengunjungi istrimu, boleh 'kan? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya dan juga si kecil Rendra," ucap Alina sembari mengintip dari balik kaca mobil bagian depan yang terbuka.


"Ah, Tuan Sean! Kenapa begitu? Malah sebaliknya, aku sangat senang jika Imelda bersedia berkunjung ke sini," sambung Alina.


"Ya, sudah. Kami berangkat dulu! Ingat pesanku tadi, ya!" Erlan mencoba mewanti-wanti Alina.


"Oke, Mas. Mas tenang saja," sahutnya mantap.


Setelah Erlan berpamitan kepada Alina, Sean pun segera melajukan mobilnya menuju perusahaan milik lelaki itu. Di sepanjang perjalanan, Erlan tak bicara sepatah katapun. Sean bahkan beberapa kali melirik lelaki itu dari kaca spion.


Ia merasakan ada sesuatu yang aneh dari Big Bossnya tersebut. Bahkan wajah lelaki itu pun terlihat lebih pucat dari biasanya. "Apa Anda baik-baik saja, Tuan Erlan?" tanya Sean.


"Hah?" Erlan terkejut dan segera menatap punggung Sean yang sedang fokus pada kemudinya. "Sebenarnya aku baik-baik saja, Sean. Tapi, entah kenapa hari ini aku merasa kurang bersemangat. Tubuhku terasa lemas, padahal aku sudah sarapan," sahutnya.


"Apa tidak sebaiknya Anda beristirahat saja, Tuan? Saya bisa putar balik jika Anda mau," ucap Sean yang tampak cemas.


"Tidak-tidak! Tidak usah, Sean. Sebaiknya teruskan saja," titah Erlan.


Setelah mendengar perintah dari Erlan, Sean pun menurut saja dan meneruskan perjalanan mereka menuju perusahaan. Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Sean pun tiba di tempat itu.


Ketika membukakan pintu mobil untuk Erlan, Sean kembali memperhatikan wajah Big Bossnya itu. Menurut Sean wajah lelaki itu terlihat semakin memucat. Ia yakin lelaki itu tidak sedang baik-baik saja.


"Tuan Erlan, maafkan jika saya lancang. Tetapi menurut saya, sebaiknya Tuan beristirahat saja setelah ini," ucap Sean.


"Hmm, sepertinya kamu benar, Sean. Aku pun merasa tubuhku semakin lemas. Sebenarnya ada apa denganku, ya?"


Baru beberapa meter Erlan melangkahkan kakinya jenjangnya di dalam perusahaannya tersebut, tiba-tiba saja lelaki itu merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya. Penglihatannya buram dan berkunang-kunang. Hingga akhirnya ia pun jatuh ke lantai dan tidak sadarkan diri.


Brukgh! Tubuh besar itu tergeletak di lantai perusahaannya. Semua orang panik, terlebih Sean. Lelaki itu berteriak meminta pertolongan untuk segera membawa Tuan Erlan ke ruangannya.


"Tuan Erlan!" pekiknya. "Bantu aku membawa Tuan Erlan ke ruangannya!" titah Sean.


...***...