
Setelah mendapatkan lokasi hotel tersebut, Sean pun segera chek in dan memilih menginap di tempat itu untuk beberapa malam, selama dia berada di kota tersebut.
Setelah chek in dan mendapatkan sebuah kamar terbaik, Sean pun mulai mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena besok, ia akan memulai perjalanan panjangnya.
Keesokan harinya.
Sean berdiri di depan cermin sambil merapikan kemeja yang sedang ia kenakan. Lelaki tampan dengan tubuh berotot itu tersenyum setelah melihat bayangan dirinya di cermin.
"Kamu itu sangat tampan, Sean! Tapi sayangnya hingga sekarang kamu masih betah menjoblo. Kenapa? Entahlah, aku pun tidak tahu," gumam Sean.
Setelah semuanya beres, Sean pun bergegas keluar dari kamar tersebut kemudian menuju tempat parkir, di mana mobil kesayangannya sedang terparkir.
Satu jam kemudian.
Di kediaman Imelda dan Chandra.
"Demi Tuhan, Chandra! Kumohon, hentikan!" teriak Imelda sambil menitikkan air mata kekecewaannya.
Imelda sangat kesal karena lagi-lagi Chandra kedapatan tidur bersama seorang wanita di dalam kamar tidurnya. Chandra yang kesal karena merasa privasinya terganggu oleh kehadiran Imelda, segera menghampiri wanita itu kemudian menarik tangannya dengan kasar.
"Bukankah kita sudah saling berjanji untuk tidak saling ikut campur dengan urusan kita masing-masing, Imelda!" Suara Chandra terdengar pelan, tetapi penuh dengan penekanan.
"Ya! Aku memang pernah berjanji untuk tidak ikut campur masalah pribadimu, Chandra! Tapi, kumohon ...." Imelda menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Chandra.
"Kumohon berhentilah berbuat mesum di rumah ini, Chandra! Aku benar-benar tidak peduli jika kamu ingin melakukan hal menjijikan itu. Namun, lakukanlah di luar sana, di hotel, di villa, di semak-semak, atau apapun itu, yang penting jangan di rumah ini!" lanjut Imelda.
"Heh, memangnya kenapa? Apa kamu lupa kalau rumah ini atas namaku dan itu artinya rumah ini milikku 'kan?! Jadi terserah aku lah, mau melakukan apa saja di rumah ini dan kamu tidak berhak mengatur hidupku," sahut Chandra sambil tersenyum sinis.
"Ya, Tuhan! Ingatlah, Chandra! Tinggal beberapa bulan lagi bayi kita akan segera lahir dan kamu akan menjadi seorang Ayah. Apa kamu akan terus seperti ini? Dengan sesuka hati kamu mengajak teman-teman wanitamu untuk tidur di rumah ini dan membiarkan anakmu melihat semua itu?! Tidak, aku tidak akan pernah membiarkannya!" jerit Imelda.
Imelda menggelengkan kepala setelah mendengar jawaban Chandra yang seperti itu. Hatinya sakit bukan kepalang, bahkan untuk menarik napas pun terasa sangat sulit.
Memang ini kesalahan Imelda karena memilih mempertahankan lelaki itu. Dengan harapan, suatu saat nanti bisa berubah. Namun, kenyataannya makin ke sini, kelakuan Chandra semakin menjadi.
Sejak dulu Chandra memang tidak pernah peduli dengan bayi yang ada di dalam kandungannya. Bahkan ketika Ayah dan Ibunya meminta untuk mengaborsi bayi tersebut, Chandra anteng-anteng saja.
"Kamu sungguh keterlaluan!" teriak Imelda.
Tepat di saat itu wanita baru yang tidur bersama Chandra telah selesai berpakaian dan ia segera menghampiri lelaki itu sambil tersenyum sinis menatap Imelda.
"Ini lagi!" kesal Imelda sembari menujuk ke arah wanita itu. "Apa kamu tidak punya urat malu, tidur bersama suami orang tanpa adanya ikatan yang sah, ha?!" lanjutnya.
Wanita itu hanya tersenyum tipis tanpa berkeinginan menjawab ucapan kasar Imelda. Wanita itu malah dengan santainya memeluk tubuh Chandra yang berdiri tepat di samping tubuhnya.
"Kamu jangan pernah bangga karena bisa menjadi orang ke tiga di dalam hubunganku bersama lelaki ini. Sebab kamu belum tahu saja bagaimana kelakuan Chandra yang sebenarnya. Jika seandainya kamu tahu, kamu pasti akan menangis kejer, sama seperti wanita-wanita yang pernah aku temui sebelumnya," ucap Imelda sambil tertawa pelan menatap wanita itu.
Seketika ekspresi wanita itu berubah. Ia nampak kesal sekaligus penasaran setelah mendengar penuturan Imelda. "Apa maksudmu?"
"Cukup!" bentak Chandra. Lelaki itu menarik tangan kekasihnya dan ingin membawanya menjauh dari ruangan itu.
"Tidak, Chandra! Biarkan dia bicara," sahut Sang Kekasih.
"Sudahlah, dia itu sakit jiwa. Jangan kamu dengarkan apa yang dia ucapkan. Dia hanya meracau saja," bujuk Chandra. Namun, wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya.
...***...