My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Perjalanan Sean



Seperti keinginannya, Sean berkunjung ke kota X untuk mengecek pengerjaan renovasi tempat tinggal Alina sekaligus ingin mengintai gadis yang sudah tega menjual Alina kepada Tuan Joseph, di malam naas itu.


Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Sean pun tiba di perkampungan tempat tinggal Alina. Setelah memarkirkan mobilnya, Sean bergegas keluar dan menghampiri kediaman Alina yang sudah berubah total.


Sean tersenyum puas melihat hasil dari renovasi bangunan sederhana tersebut. Lelaki itu memperhatikan setiap sisi bangunan tersebut secara mendetail sambil terus menyunggingkan senyuman di wajahnya.


"Bagaimana hasilnya, Tuan Sean? Apa menurut Anda Tuan Erlan akan menyukainya?" Salah seorang pekerja menghampiri Sean yang kini sudah memasuki bangunan tersebut.


"Ya, hasil pekerjaan kalian benar-benar memuaskan dan aku yakin Tuan Erlan pun akan puas setelah melihat hasilnya," sahut Sean sembari menepuk pundak lelaki itu dengan perlahan.


Lelaki itu tersenyum semringah. Ia terlihat begitu senang karena hasil pekerjaannya dan juga anak buahnya tidak sia-sia. Setelah puas berbincang bersama Sean, lelaki itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


Setelah puas berada di tempat itu, Sean memutuskan untuk menemui salah satu anak buahnya di sebuah Kafe yang cukup terkenal di kota itu. Setelah 20 menit melakukan perjalanan, Sean pun tiba di depan Kafe tersebut.


Sean mengedarkan pandangan ke sekeliling Kafe tersebut hingga akhirnya tatapan Sean terhenti pada seorang laki-laki yang sedang melambaikan tangan ke arahnya.


Lelaki itu tersenyum dan Sean begitu mengenalinya. Ya, dia adalah salah satu anak buah Sean yang mendapatkan tugas untuk mencari informasi tentang Imelda. Setelah mengetahui di mana posisi lelaki itu, Sean pun segera menghampirinya.


"Tuan Sean," sapa lelaki itu sembari mengulurkan tangannya kepada Sean.


Sean pun segera menyambut uluran tangan lelaki itu kemudian duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia di meja tersebut.


"Bagaimana? Apa kamu sudah berhasil mengumpulkan informasi tentang gadis itu?" tanya Sean dengan wajah serius menatap lelaki itu.


"Ya, tentu saja, Tuan Sean." Lelaki itu tersenyum semringah kemudian meraih sebuah berkas dari dalam tas yang ia letakkan di samping tubuhnya.


"Ini dia, Tuan." Ia menyerahkan berkas tersebut ke tangan Sean dan Sean pun menyambutnya dengan cepat.


Sean membuka berkas tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama. Ekspresi wajah Sean tampak berubah-ubah, menggambarkan bagaimana pikiran dan perasaannya saat itu.


Setelah membaca berkas tersebut sampai habis, Sean pun mengembangkan sebuah tersenyum tipis di wajahnya. "Hmmm, mengejutkan sekali."


Sean meletakkan berkas tersebut ke atas meja, masih dengan senyuman tipis yang tersungging di wajahnya. "Ternyata dia sudah menikah dan lelaki yang menikahinya adalah putra dari Pak Agung Lesmana, Manager Marketing di perusahaan Tuan Erlan."


"Katanya pernikahan mereka sengaja di sembunyikan, Tuan Sean. Keluarga dari pihak Tuan Agung bahkan tak ada satupun yang hadir ke pesta pernikahan mereka karena Tuan Agung dan Sang Istri tidak terlalu menginginkan pernikahan tersebut. Kerabat yang hadir ke pesta pernikahan mereka hanya dari pihak keluarga Tuan Heri, orang tua gadis itu," jelas lelaki itu.


Sean mengangkat kedua alisnya dan senyumnya seketika menghilang saat itu. "Aku ingin menemui gadis itu," ucap Sean.


"Ehm, tapi untuk apa, Tuan?" tanya lelaki itu dengan alis yang saling bertaut.


"Aku ingin tahu bagaimana sifat wanita itu sebenarnya. Entah kenapa aku penasaran," sahut Sean.


Satu jam kemudian.


"Sepertinya aku harus mencari penginapan. Sebentar lagi gelap dan aku masih bersantai di sini," gumam Sean sembari melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Chek in di Hotel XX saja, Tuan. Itu adalah hotel terbaik yang ada di kota ini."


Sean kembali menaikan kedua alisnya sambil tersenyum tipis. "Hotel itu adalah hotel di mana Tuan Erlan dan Nona Alina pertama bertemu dengan keadaan sama-sama tidak sadarkan diri," batin Sean.


"Boleh juga saranmu. Ya, sudah. Aku pamit dulu dan terima kasih atas minumannya," ucap Sean sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Ehm ... iya, Tuan. Sama-sama," sahut lelaki itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah Sean menghilang dari pandangannya, lelaki itu pun bergumam.


"Huft! Dasar Boss pelit, di kirain dia yang traktir. Eh, tau-taunya aku juga yang harus bayar," gumamnya sambil menggelengkan kepala.


...***...