
"Sebenarnya Mommy ingin makan nasi uduk buatan Alina, Lan," ucapnya dengan sangat pelan, tetapi masih bisa terdengar jelas di telinga Erlan.
Erlan hampir saja tidak bisa menahan tawanya setelah mendengar ucapan Nyonya Afiqa saat itu. Ternyata wanita paruh baya tersebut ikut ketagihan nasi uduk buatan Alina.
"Jangan ketawa kamu!" kesal Nyonya Afiqa.
"Mommy 'kan lagi sakit jadi wajarlah kalau permintaan Mommy jadi aneh-aneh. Lagian Mommy juga sudah pernah meminta pelayan membuatkan nasi uduk yang sama seperti buatan Alina. Tapi sayang, rasanya berbeda." Nyonya Afiqa mengalihkan wajahnya agar tidak ketahuan bahwa saat ini dia benar-benar sangat malu.
"Iya, iya, Mom. Erlan tidak akan tertawa dan nanti Erlan minta Alina membuatkan nasi uduk khusus untuk Mommy," sahut Erlan sembari mengelus lembut lengan Nyonya Afiqa.
"Bilang sama istrimu, bikin yang enak. Kalau perlu bikin yang lebih enak dari kemarin," titah Nyonya Afiqa.
"Iya, Mom. Pasti," sahut Erlan sambil tersenyum.
Setelah puas bercengkrama bersama Sang Mommy, Erlan pun segera pamit. Sedangkan Rara beserta keluarga kecilnya memilih menginap di kediaman mewah Nyonya Afiqa untuk beberapa hari mendatang sebelum mereka kembali ke kota X.
"Eh, Erlan! Mommy bilang apa sama kamu?"
Baru saja Erlan keluar dari kamar Sang Mommy, ia sudah disambut oleh Kakak perempuannya dengan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya begitu penasaran. Erlan tersenyum kemudian berbisik kepada Rara.
"Mommy ingin makan nasi uduk buatan Alina."
"Hahh?!" Mata Rara membulat sempurna. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. "Serius kamu, Erlan?" pekiknya sekali lagi.
"Ya, Kak. Aku serius."
"Wah, jangan-jangan ini sebuah kemajuan! Siapa tahu setelah ini Mommy bersedia menerima Alina menjadi menantunya!" pekik Rara lagi.
"Ya, Kak. Semoga saja itu benar-benar terjadi karena aku juga sangat mengharapkan hal itu."
"Selamat ya, Erlan! Kakak ikut bahagia mendengarnya," ucap Rara seraya memeluk tubuh Sang Adik.
Erlan terkekeh pelan. "Selamat buat apa sih, Kak? Buat Mommy?"
"Buat kamu dan Alina lah, siapa tahu benar setelah ini Mommy bisa menerima kehadiran Alina sebagai menantunya," sahut Rara.
"Amin."
***
Kedatangan Erlan segera disambut hangat oleh Alina. Wanita bertubuh mungil itu terlihat begitu bahagia melihat kedatangan sang suami. Ia menghampiri Erlan kemudian memeluknya dengan erat.
"Tumben kamu datangnya lebih awal, Mas?" tanya Alina sembari menengadah menatap wajah Erlan yang,berada di atas kepalanya.
"Sebenarnya hari ini aku tidak bekerja, Sayang. Setelah selesai rapat, aku langsung ke rumah Mommy. Mommy sedang sakit dan payahnya, pelayan baru tadi pagi memberitahuku kabar tidak baik itu."
"Benarkah?" pekik Alina. "Lalu bagaimana kondisi Mommy sekarang? Apa Mommy baik-baik saja?" lanjut Alina yang tampak panik.
Erlan tersenyum kemudian mengelus lembut puncak kepala Alina. "Keadaan Mommy sudah mulai membaik setelah Dokter memeriksanya. Tapi sayangnya Mommy masih belum mau makan. Katanya Mommy, makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya, semuanya terasa pahit."
Wajah Alina mendadak sendu. Ia turut bersedih mendengar cerita Erlan tentang Mommy-nya yang sedang sakit.
"Tapi, ada sebuah makanan yang sangat ingin Mommy makan. Kamu mau tau itu apa, Sayang?" tanya Erlan sembari menatap wajah Alina dengan seksama.
"Apa itu?" Alina bingung.
"Mommy ingin makan nasi uduk buatanmu," bisik Erlan di samping telinga Alina.
Sama halnya Rara yang terkejut mendengar berita itu, Alina pun sama. Ia membulatkan matanya dengan sempurna sambil memperhatikan wajah Erlan saat itu.
"Kamu serius, Mas? Mommy mau makan nasi uduk buatanku?" pekik Alina seraya melepaskan pelukannya dari tubuh Erlan.
Erlan menganggukkan kepalanya pelan sambil terus tersenyum kepada Alina."Ya, Mommy ingin kamu buatin nasi uduk spesial untuknya. Sekarang kamu percaya 'kan sama suamimu ini bahwa Mommy benar-benar kecanduan sama nasi uduk buatanmu."
Alina melebarkan senyumnya. Ia bahagia walaupun cuma sebatas nasi uduk, paling tidak Alina merasa bahwa dirinya masih berguna untuk Ibu mertuanya tersebut.
"Wah, dengan senang hati, Mas. Aku akan bikinkan nasi uduk spesial untuk Mommy!" seru Alina dengan wajah semringah.
"Terima kasih banyak, Sayang," ucap Erlan.
"Kenapa harus berterima kasih, Mas? Aku malah senang, kok!" Alina kembali memeluk tubuh Erlan dengan erat.
...***...