
Bu Dita menceritakan kenginan terakhir Chandra kepada Imelda melalui telepon. Setelah Bu Dita memutuskan panggilannya, Imelda pun bergegas menemui Sean yang sedang duduk bersantai di ruang utama sembari menemani kedua putranya.
Imelda duduk di samping lelaki itu kemudian menceritakan semua yang disampaikan oleh Bu Dita kepada Sean.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Mas?" tanya Imelda yang tampak ragu-ragu.
"Biar bagaimanapun Chandra adalah Ayah kandung dari Rendra, Mel. Dia juga mempunyai hak atasnya. Sebaiknya turuti saja keinginannya. Apalagi jika yang dikatakan oleh Bu Kirana itu benar bahwa ini adalah keinginan terakhir Chandra," tutur Sean yang mencoba memberikan pengertian kepada Imelda.
Imelda terdiam dengan tatapan yang masih fokus pada Sean saat itu dan setelah beberapa saat, akhirnya wanita itu pun menganggukkan kepalanya. "Ya, sepertinya Mas benar. Jadi, kapan kita bisa berangkat ke sana?" tanya Imelda.
"Sebentar," sahut Sean sembari meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja yang ada di hadapannya. "Aku minta izin dulu sama Tuan Erlan. Biar kita bisa pergi besok pagi," lanjutnya.
Tepat di saat itu Erlan dan Alina pun tengah bersantai di dalam kamar utama bersama keempat anak mereka. Erlan yang kewalahan dikerumuni oleh tiga bocah cantik yang ramai mendandaninya. Ada yang kasih bedak, ada yang kasih lipstik dan ada yang menyisir rambutnya hingga berantakan tak tau arah.
Sedangkan Alina hanya bisa tertawa bersama Arkana yang setia duduk di samping Alina sembari memeluk tubuh mungil Mommy-nya tersebut. "Erica, lipstiknya masih kurang tebal, Nak!" ucap Alina sambil tergelak.
"Hah?" Erica tampak bingung. Ia memperhatikan wajah Sang Ayah dengan seksama kemudian tersenyum.
"Tambah aja lagi, Nak. Biar Daddy makin cantik seperti Mommy," lanjut Alina.
Sementara Alina tergelak, Erlan malah menekuk wajahnya dengan sempurna. Ia tahu bagaimana cantiknya penampilannya saat ini setelah didandani oleh tiga bidadari kecilnya yang baru berusia satu tahun tersebut.
Tepat di saat itu ponselnya berdering. Erlan meminta Alina untuk mengambilkan ponsel miliknya yang tergeletak di atas nakas. Sementara dirinya sudah dikungkung oleh ketiga bidadari cantiknya dan tidak bisa pergi kemanapun lagi selain pasrah dan mengikuti permainan mereka.
"Dari siapa, Sayang?" tanya Erlan kepada Alina yang berjalan menghampirinya dengan membawa ponsel tersebut.
"Dari Tuan Sean, Mas." Alina menyerahkan ponsel tersebut kepada Erlan dan Erlan pun segera menerima panggilan dari Sean tersebut.
"Ya, Sean?"
Sean mengutarakan keinginannya kepada Erlan dan lelaki itu pun mendengarkannya penuturan Sean dengan baik. Setelah Sean selesai mengatakannya, Erlan pun tampak menimbang-nimbang.
"Baik, Tuan. Terima kasih," sahut Sean.
"Memangnya ada apa, Mas?" tanya Alina dengan wajah heran menatap Erlan.
"Besok pagi Sean dan keluarga kecilnya akan pergi ke kota X untuk menemui Ayah kandung Rendra. Katanya saat ini kondisi lelaki itu sangat memprihatinkan dan dia ingin sekali bertemu anaknya untuk terakhir kali," tutur Erlan.
"Ya, Tuhan!" pekik Alina, setengah tidak percaya.
Sementara itu di kediaman Sean.
"Bagaimana, Mas? Apa Tuan Erlan mengizinkan?" tanya Imelda dengan sangat antusias.
"Ya, dia mengizinkannya." Sean tersenyum lebar kemudian mengelus puncak kepala Imelda dengan lembut.
"Ah, syukurlah!"
Setelah mendapatkan izin dari Tuan Erlan, Imelda dan Sean pun segera berkemas dan mempersiapkan barang-barang yang akan mereka bawa esok hari. Terutama keperluan kedua putra mereka, Rendra dan Kamil.
Keesokan harinya.
Setelah memasukkan semua barang-barang bawaan mereka ke dalam bagasi, Sean pun segera melajukan mobilnya bersama Imelda, kedua putranya dan satu Babysitter yang akan membantu Imelda mengurus Kamil yang sedang di masa aktif-aktifnya.
Tidak terasa, mereka pun akhirnya tiba di kediaman Pak Heri dan Bu Dita. Pasangan paruh baya itu begitu senang menyambut kedatangan mereka. Bu Dita segera meraih si kecil Kamil sedangkan Rendra digendong oleh Sang Kakek yang juga sudah tidak sabar ingin bermain bersama kedua cucunya.
"Bagaimana kabarmu, Nak Sean?" tanya Pak Heri sambil tersenyum hangat.
"Baik, Pak," jawab Sean sembari membalas senyuman hangat Pak Heri kepadanya.
...***...