
"Bye, Mel. Bye, Baby Rendra!" ucap Alina ketika Sean sudah bersiap melajukan mobilnya kembali ke jalan raya.
"Bye juga, Aunty. Salam buat Arkana, ya!" balas Imelda seraya melambaikan tangan Baby Rendra kepada Alina yang masih berdiri di depan teras rumah mereka.
Setelah Sean melaju bersama mobilnya, Erlan pun segera mengajak Alina untuk masuk ke dalam rumah mereka. Ketika melewati ruang utama, ternyata Mommy, Baby Arkana dan Babysitter-nya sedang bermain di ruangan itu.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Nak? Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Mommy Afiqa ketika Alina dan Erlan datang mendekat.
Alina dan Erlan saling tatap sambil tersenyum hangat. Setelah Alina duduk di sofa, Erlan pun ikut menyusul dan duduk di samping istri mungilnya. Ehm, bukan lagi, tetapi istri semoknya tersebut.
"Semuanya baik, Mom. Dan kami punya berita mengejutkan buat Mommy, tapi Mommy harus siap, ya!" Jangan sampai pingsan setelah mendengar kabar baik dari kami," tutur Erlan sembari merengkuh pundak Alina kemudian menyandarkan kepala wanita itu ke dadanya.
"Apaan sih, Erlan. Jangan buat Mommy penasaran, deh!" celetuk Mommy dengan wajah masam menatap Erlan dan Alina secara bergantian.
Erlan dan Alina kembali saling tatap dan saling melempar senyum. Erlan meraih beberapa lembar foto hasil USG barusan dari dalam tas milik Alina kemudian meletakkannya di atas meja. "Lihatlah, Mom!" ucap Erlan sambil tersenyum lebar.
Sebelum Mommy Afiqa meraih lembaran foto hasil USG yang diletakkan oleh Erlan di atas meja yang ada di hadapannya, Alina meraih Baby Arkana dari pelukan Oma-nya tersebut.
"Ini 'kan foto hasil USG. Terus, ini artinya apa? Mommy tidak mengerti," ucap Mommy sambil menatap satu-persatu foto hasil USG tersebut dengan kening yang berkerut.
Erlan melerai pelukannya bersama Alina kemudian menghampiri meja dan menjelaskan satu-persatu dari foto-foto hasil USG tersebut kepada Mommy Afiqa.
"Mommy lihat ini? Ini ada satu ... dua ... dan tiga ...! Ada tiga bayi, Mom?! Sekarang Mommy mengerti?!" Erlan tersenyum lebar sambil menatap wajah bingung Nyonya Afiqa.
Ekspresi wajah Nyonya Afiqa yang tadinya tampak kebingungan, tiba-tiba saja berubah setelah mendengar penjelasan dari Erlan. Ia menyunggingkan sebuah senyuman lebar dan membalas tatapan Erlan dengan mata berkaca-kaca.
"Serius, Erlan? Apa Mommy tidak salah dengar? Bayinya ada tiga, itu artinya bayi kalian kembar tiga?! Adik Arkana ada tiga?!" pekik Mommy Afiqa dengan setengah tidak percaya.
"Ya, Mom. Bayi kami kembar tiga," jawab Erlan mantap.
Mommy Afiqa memeluk Erlan dengan erat kemudian menciumi wajahnya berkali-kali. "Selamat ya, Nak! Mommy benar-benar senang mendengarnya."
"Aamiin, Mom. Terima kasih banyak atas doanya."
"Kamu dengar itu, cucuku akan bertambah tiga orang! Ya ampun, aku sudah tidak sabar menunggu kelahiran mereka," ucap Mommy kepada Babysitter yang sejak tadi hanya tersenyum melihat kebahagiaan keluarga majikannya itu.
"Ya, Nyonya. Selamat, ya."
Tidak sampai di situ, Mommy Afiqa bahkan tidak sabar untuk memberitahu Rara kabar menggembirakan tersebut kepada anak perempuannya itu walaupun hanya melalui telepon.
Ternyata reaksi Rara pun sama seperti Mommy Afiqa. Ia benar-benar terkejut setelah mendengar penuturan Mommy. Rara tahu bahwa Alina sedang hamil, tetapi ia tidak menyangka bahwa ternyata bayi mereka kembar. Bahkan yang paling mengejutkan adalah jumlahnya yang benar-benar tidak disangka oleh siapapun.
"Apa di sana ada Erlan atau Alina, Mom?" tanya Rara dengan sangat antusias.
"Ya, kenapa? Kamu ingin bicara bersama mereka?" tanya Mommy balik.
"Ya, Mom. Aku ingin bicara dengan mereka," sahut Rara.
Mommy Afiqa pun segera memberikan ponselnya kepada Erlan dan membiarkan Erlan bicara bersama kakak perempuannya.
"Ya, Kak?"
"Erlan, minta satu! Kakak minta satu ya, please!" ucap Rara.
Erlan menekuk wajahnya setelah mendengar ucapan Sang Kakak. "Astaga, Kakak. Memangnya mereka boneka yang bisa dibagi-bagikan?" celetuk Erlan.
"Oh ayolah, Erlan! Satu saja, 'kan kamu masih punya dua ditambah Arkana jadi tiga. Mengalah ya, Kakak minta satu," ucapnya lagi sambil tergelak di seberang telepon.
Etlan mendengus kesal sambil memasang wajah masam setelah mendengar penuturan Kakak perempuannya itu.
...***...