
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Erlan sudah dibangunkan oleh Alina yang masih dihantui rasa penasaran. Bahkan tadi malam tidurnya tidak terlalu nyenyak karena terlalu memikirkan soal Imelda dan bayinya.
"Ya ampun, Sayang ... apa ini tidak terlalu pagi untuk membahas soal itu." Erlan bangkit dari posisinya kemudian duduk bersandar di sandaran tempat tidur sambil mengucek matanya.
"Oh ayolah, Mas! Mas sudah membuat tidurku tidak nyenyak tadi malam dan sekarang Mas harus bertanggung jawab dan jelaskan padaku soal Imelda dan bayinya," ucap Alina dengan mata membulat menatap Erlan.
"Tidak bisakah aku mencuci mukaku dulu?" goda Erlan.
"Mas!" Alina menekuk wajahnya.
"Oke, oke, baiklah." Erlan mengusap puncak kepala Alina sambil tersenyum.
"Menurut cerita Sean, selama ini Imelda sering mengalami KDRT yang dilakukan oleh suaminya sendiri. Hari itu Sean menyelamatkan Imelda yang menjadi bulan-bulanan suaminya kemudian membawa wanita itu ke Rumah Sakit. Entah apa sebabnya, yang pasti perlakuan buruk suaminya saat itu mengakibatkan bayi Imelda harus dilahirkan sebelum waktunya dan sampai saat ini, bayinya masih dalam kondisi kritis."
"Ya Tuhan! Imelda," lirih Alina dengan mata berkaca-kaca.
Walaupun Imelda pernah berbuat jahat kepadanya dan Alina pun pernah merasa kecewa serta marah besar kepada mantan sahabatnya itu. Namun, jauh di lubuk hati Alina yang paling dalam, ia tetap tidak bisa membenci sosok Imelda. Ia merasa iba setelah mengetahui bagaimana nasib sahabatnya saat ini.
"Siapa nama suaminya? Chandra?" tanya Alina.
"Entahlah, Sean tidak memberitahu aku siapa nama suaminya. Memangnya kenapa? Apa kamu mengenali lelaki itu?" tanya Erlan balik.
"Jika benar suaminya bernama Chandra, berarti ya, aku kenal. Sosok lelaki yang sudah sejak dulu ia idam-idamkan. Tapi, mungkinkah Chandra sejahat itu? Dia memang sosok lelaki yang suka gonta-ganti perempuan, tapi ... ah, entahlah." Alina tampak bingung dan ia masih penasaran siapa sosok lelaki yang kini menjadi suami Imelda.
"Bolehkah aku mengunjunginya, Mas?" tanya Alina dengan wajah memelas menatap Erlan.
"Serius, kamu ingin menemuinya?" Erlan balik bertanya.
"Ya, Mas." Alina menganggukkan kepalanya dengan cepat dan ia sangat berharap Erlan mengizinkannya bertemu dengan Imelda.
"Baiklah kalau itu maumu. Nanti akan kubicarakan hal ini kepada Sean biar dia yang urus keberangkatan kita agar tidak bentrok dengan jadwalku. Bagaimana?" Erlan mengelus lembut pipi Alina.
Alina menoleh ke arah jam dinding yang menggantung di dinding kamar mereka. Kini saatnya Alina menyiapkan sarapan untuk Erlan. Namun, baru saja wanita itu ingin beranjak dari tempat tidur tersebut, Erlan malah menarik tangannya dan tidak membiarkan Alina pergi dari tempat itu.
"Mau kemana?" tanya Erlan sembari menggenggam erat tangan Alina.
"Menyiapkan sarapan," sahut Alina sambil menautkan kedua alisnya.
"Sudah mengganggu tidurku, memaksaku bercerita, kemudian minta ketemuan sama Imelda, sekarang malah mau pergi begitu saja? Enak saja!" Erlan menyeringai menatap istri kecilnya itu.
"Mas kenapa, sih?" Alina kembali duduk di posisinya semula sambil menatap heran kepada Erlan yang masih menyeringai menatapnya.
"Bagi aku jatah! Bukankah tadi malam kita tidak melakukannya? Apa kamu lupa bahwa Dokter meminta kita sering-sering melakukan hal itu biar persalinanmu berjalan mulus, ha?"
Alina terkekeh pelan setelah mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu. "Loh, Mas sendiri 'kan yang memilih untuk tidur? Kenapa malah menyalahkan aku," sahut Alina.
"Ah, sudah! Jangan banyak omong!" Erlan menarik pelan tubuh Alina kemudian membaringkannya di atas tempat tidur.
***
Setelah selesai melakukan olah raga pagi di atas tempat tidur, melakukan ritual mandi romantis, berpakaian dan sarapan, Erlan pun segera pamit kepada Alina karena Sean sudah menunggunya di depan apartemen.
Sama seperti biasanya, Sean tersenyum hangat menyambut kedatangan Erlan. Setelah Big Bossnya itu masuk ke dalam mobil, Sean pun segera melajukan benda tersebut meninggalkan apartemen.
"Sean, aku punya berita bagus. Ternyata Alina bersedia menemui Imelda dan sekarang giliran kamu yang urus kapan mereka bisa bertemu. Kalau bisa, usahakan agar pertemuan mereka tidak bentok dengan pekerjaan kita," ucap Erlan memecahkan kesunyian di dalam mobil tersebut.
"Benarkah itu, Tuan?" Sean tersenyum lebar setelah mendengar penuturan Erlan barusan. "Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan," lanjutnya dengan penuh semangat.
"Ya. Lebih cepat, lebih baik," sahut Erlan.
...***...