
Pak Heri meminta Bu Dita untuk segera menjauh dari tempat itu dengan membawa serta Baby Rendra bersamanya. "Bu, sebaiknya bawa cucu kita pergi dari sini. Dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."
"Baik, Yah." Bu Dita pun setuju, ia segera melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu bersama Baby Rendra yang masih pberada di dalam pelukannya.
"Bu Dita, jangan pergi!" ucap Bu Kirana seraya mencoba mencegah Bu Dita yang ingin beranjak dari tempat itu.
"Mih, sudahlah!" pekik Pak Agung dengan mata membesar sembari menarik tangan Bu Kirana yang ingin menyusul Bu Dita.
"Tolong lakukan sesuatu, Dad. Lihatlah, mereka sama sekali tidak ingin mempertemukan kita dengan cucu kita sendiri," sahut Bu Kirana seraya menunjuk ke arah Bu Dita.
Pak Agung tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan rasa malu yang amat sangat terhadap keluarga Pak Heri yang selama ini terus mereka anggap remeh.
"Saya mohon, berilah saya kesempatan satu kali saja. Saya hanya ingin bersama bayi itu sebentar saja, barang lima menit. Saya berjanji tidak akan mengambilnya dari kalian. Saya mohon ...," sambung Bu Kirana dengan mata berkaca-kaca menatap punggung Bu Dita yang terus melangkahkan kakinya menjauh, tanpa mempedulikan rengekannya saat itu.
"Sudahlah, Bu Kirana, Pak Agung. Jika kalian masih ingin menikmati pesta ini, nikmatilah. Kami tidak akan melarang, tetapi jangan pernah ganggu kami karena keluarga kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi," tegas Pak Heri yang masih bisa mengontrol amarahnya.
Bu Kirana menggelengkan kepalanya dengan wajah kusut. Tampak jelas bahwa ia tidak terima setelah mendengar penuturan lelaki paruh baya tersebut.
"Walaupun keluarga kita sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, Pak Heri. Namun, biar bagaimana pun juga ada darah kami yang mengalir di dalam tubuh bayi mungil itu dan kalian tidak akan pernah bisa memungkirinya," sahut Bu Kirana dengan kesal.
"Sudah, Bu! Cukup, sebaiknya kita pulang," tegas Pak Agung yang sudah berada di puncak kesabarannya. Ia menarik tangan Bu Kirana dan membawanya menjauh dari tempat itu. Wanita itu ingin berontak, tetapi Pak Agung mencengkram tangannya dengan erat hingga ia pun tidak bisa melepaskannya.
"Dad, tanganku sakit! Kumohon, lepaskan aku," rintihnya, tetapi Pak Agung tidak peduli. Ia terus menuntun istrinya itu menjauh dari tempat itu.
Sejak tadi Imelda hanya memperhatikan gelagat kedua mantan mertuanya itu. Dia merasa cemas dan ingin menghampiri Sang Ayah. Namun, baru saja ia ingin melangkah, Sean sudah menahannya.
Sean menatap Imelda sambil menggelengkan kepalanya. "Biarkan saja mereka, Mel. Lagi pula mereka tidak akan berani macam-macam, percayalah padaku," ucap Sean.
Imelda menghembuskan napas panjang kemudian menurut apa yang diperintahkan oleh suaminya. "Aku takut, Mas. Aku takut mereka akan merebut Rendra dariku," sahut Imelda.
"Mereka tidak akan berani melakukan hal itu, Mel. Dan jika itu terjadi maka aku adalah orang yang akan berdiri di barisan paling depan untuk melawan mereka. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka merebut Baby Rendra darimu," tutur Sean dan membuat Imelda begitu terharu mendengarnya.
"Terima kasih, Mas."
"Bagiku Baby Rendra adalah anakku, Mel, dan akan tetap seperti itu, selamanya." Sean membelai lembut pipi Imelda.
...***...