
Di kediaman Bu Dita dan Pak Heri.
Pagi-pagi sekali sebuah mobil berwarna hitam memasuki pekarangan rumah mereka. Pak Heri yang tadinya ingin berangkat ke tempat kerjanya, tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian memperhatikan mobil tersebut dengan seksama.
"Mobil siapa itu, Bu? Sepertinya itu bukan mobilnya Sean, 'kan?" tanya Pak Heri kepada Bu Dita yang juga sama bingungnya.
"Sepertinya sih bukan, Yah. Siapa, ya?" sahut Bu Dita dengan wajah serius menatap mobil tersebut.
Tidak berselang lama, setelah berhasil memarkirkan mobil tersebut di halaman depan rumah Bu Dita dan Pak Heri, keluarlah sosok pasangan yang selama ini sangat mereka kenali.
"Mereka? Mau apa mereka ke sini pagi-pagi sekali!" celetuk Pak Heri dengan wajah menekuk.
"Entahlah, semoga saja mereka tidak macam-macam sama kita!" ucap Bu Dita dengan kesal.
Pasangan itu adalah Pak Agung dan Bu Kirana, mantan besan Pak Heri dan Bu Dita. Wajah pasangan itu terlihat sangat menyedihkan dan hal itu membuat Bu Dita serta Pak Heri kebingungan.
Kini pasangan Pak Agung dan Bu Kirana berdiri tepat di hadapan Pak Heri dan Bu Dita. Mereka melemparkan sebuah senyuman di wajah kusut mereka.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Bu Dita tanpa berbasa-basi.
Pak Agung dan Bu Kirana saling bertatap mata sejenak, sebelum mereka menjawab pertanyaan wanita paruh baya tersebut.
"Maafkan kami, jika kedatangan kami hari ini mengganggu kenyamanan kalian," ucap Bu Kirana dengan wajah sendu membalas tatapan Bu Dita.
"Ehm, bolehkah kami masuk? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan," lanjut Pak Agung.
"Maafkan kami," lirih pasangan itu secara bersama-sama.
Walaupun masih kesal, tetapi Pak Heri masih menghormati mereka sebagai tamunya. Ia mempersilakan pasangan itu untuk masuk kemudian duduk di sofa yang yang di ruang utama.
"Sebenarnya ada apa, katakanlah?" ucap Pak Heri sambil mencoba mengendalikan emosinya dan berusaha tetap terlihat tenang saat bersitatap kepada pasangan Bu Kirana dan Pak Agung.
"Sebenarnya begini, Pak Heri. Saat ini Chandra sedang dirawat di Rumah Sakit. Semakin hari kondisi Chandra semakin memburuk. Dokter bahkan sudah memvonis Chandra bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa hari lagi. Penyakit serius yang setiap hari menggerogoti tubuhnya, kini semakin beringas saja," tutur Pak Agung dengan mata berkaca-kaca menatap Bu Dita dan Pak Heri yang duduk tepat di hadapannya secara bergantian.
"Lalu apa hubungannya dengan kami?" tanya Bu Dita yang masih tidak bisa menutupi kekesalannya.
"Maafkan kami jika kami lancang. Tetapi kami hanya ingin mengutarakan keinginan terakhir Chandra, Bu Dita." Tiba-tiba Bu Kirana menangis lirih di ruangan itu. Ia kembali teringat akan nasib Chandra yang sudah berada di ujung tanduk.
"Sebagai permintaan terakhirnya, Chandra ingin melihat anak lelakinya untuk yang terakhir kali. Ia ingin sekali melihat si kecil Rendra untuk yang pertama dan terakhir kalinya, Bu Dita. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan dunia ini," ucap Pak Agung yang tidak kalah sedihnya. Ia pun turut terisak setelah mengucapkan hal itu kepada Bu Dita dan Pak Heri.
Pak Heri dan Bu Dita saling tatap untuk beberapa saat. Walaupun perbuatan orang-orang yang sedang duduk di hadapannya sekarang ini tidak pantas untuk mereka maafkan. Namun, setelah mendengar cerita mereka tentang Chandra, hati mereka pun akhirnya luluh.
Terdengar suara hembusan napas Pak Heri saat itu. Ia menatap pasangan yang kini sedang terisak dengan kepala tertunduk menghadap lantai. "Baiklah, Bu Kirana, Pak Agung. Nanti saya coba membicarakannya kepada Imelda dan semoga saja Imelda mengizinkan si kecil Rendra untuk bertemu dengan Ayah kandungnya."
"Ya Tuhan, terima kasih, Pak Heri, Bu Dita!" pekik Bu Kirana sambil menyeka air matanya. Ia sangat bahagia mendengarnya. Ya, walaupun mereka belum tahu apakah Imelda dan Sean akan mengijinkan Rendra untuk bertemu dengan anak lelakinya itu terakhit kalinya.
...***...