
"Imelda, bolehkah kita bicara sebentar?" tanya Sean kepada Imelda yang masih setia duduj di samping tempat tidur bayinya.
Imelda menoleh kemudian melemparkan senyuman hangatnya. "Tentu saja, Tuan Sean."
Sean menuntun Imelda keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan, ternyata Pak Heri dan Bu Dita juga berkumpul di sana. Pasangan paruh baya tersebut menyunggingkan senyuman di wajah mereka ketika Imelda dan Sean tiba di sana.
"Sini, Nak. Duduklah!" ajak Bu Dita kepada Imelda yang terlihat kebingungan. Imelda pun menurut saja, ia duduk di samping Bu Dita sembari memperlihatkan ekspresi kedua orang tuanya tersebut.
"Kok, kalian juga ikut berkumpul di sini? Memangnya ada apa, Bu?" tanya Imelda.
"Biarkan Tuan Sean yang menjelaskannya kepadamu," sahut Bu Dita.
Jawaban Bu Dita saat itu membuat Imelda semakin kebingungan. Ia menautkan kedua alisnya dan kini tatapannya tertuju pada Sean yang memilih duduk tepat di hadapannya.
Bahkan lelaki itu sengaja menarik sebuah kursi yang berada di tepi ruangan kemudian meletakkannya di depan Imelda dan kedua orang tuanya.
"Sebenarnya ada apa ini, Tuan? Apa yang ingin Anda bicarakan kepadaku?" tanya Imelda.
Sean merapikan jas yang melekat di tubuhnya seraya menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Lelaki itu membalas tatapan Imelda dengan serius dan menohok tajam.
"Sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaanku kali ini akan membuatmu merasa tidak nyaman. Bahkan mungkin akan membuatmu marah kepadaku. Tapi, aku harus mengatakannya," tutur Sean, masih menatap Imelda dengan lekat.
Imelda memalingkan wajahnya kemudian menatap Bu Dita yang masih duduk di sampingnya. Ia mengangkat kedua alisnya ketika menatap wanita paruh baya tersebut. Seolah bertanya 'ada apa', tetapi hanya dibalas dengan senyuman oleh Ibunya tersebut.
"Bolehkah aku menjadi Ayah sambung Rendra, Imelda?" ucap Sean kepada Imelda di hadapan Pak Heri serta Bu Dita.
"A-ayah sambung?!" pekik Imelda dengan terbata-bata. Ia tidak menyangka bahwa Sean akan menanyakan hal itu kepadanya.
Seluruh tubuh Imelda mendadak kaku. Tubuhnya gemetar dan detak jantungnya pun turut berpacu dengan cepat. Imelda kembali menatap kedua orang tuanya dengan serius seolah mencari jawaban untuk pertanyaan Sean.
"Ba-bagaimana, Bu, Yah?" tanya Imelda dengan suara bergetar.
Bu Dita dan Pak Heri tersenyum lebar. Tampak jelas kebahagiaan di wajah kedua orang tuanya saat itu. "Semuanya terserah padamu, Nak," jawab Bu Dita.
Imelda terdiam sambil berpikir keras. Bukannya ia meragukan sosok Sean menjadi Ayah sambung untuk anaknya. Namun, ia masih merasa trauma untuk kembali berumah tangga.
"Tapi, apa Tuan tidak malu menjadi Ayah sambung Baby Rendra? Dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak sempurna, Tuan. Aku takut Tuan akan menyesal nantinya," lirih Imelda dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan tidak sempurna, Imelda. Dia istimewa dan sebab itulah aku memilihnya untuk menjadi anakku," jawabnya Sean dengan penuh keyakinan.
Imelda tidak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir. Ia menganggukkan kepalanya sambil terisak. "Ya, aku bersedia."
Ketegangan di wajah Sean pun sirna. Lelaki itu akhirnya bisa tersenyum lebar sambil menghela napas lega. "Ah, syukurlah!" gumamnya.
Sean pun mulai berdiskusi bersama Imelda dan kedua orang tuanya. membicarakan tentang kapan hari baik itu sebaiknya dilaksanakan.
Jika Sean dan Imelda tengah berbahagia, Erlan dan Alina pun tidak kalah bahagianya.
"Sebenarnya kita mau kemana, Mas? Kenapa mataku ditutup seperti ini?" tanya Alina yang kini berjalan dengan mata tertutup kain dan dituntun oleh Sang Suami ke suatu tempat.
"Kejutan," bisik Erlan di samping telinga Alina.
***