
Beberapa hari kemudian.
Erlan dan Alina sudah selesai menikmati honeymoon sederhana ala mereka. Kini mereka kembali ke Apartemen dan melakukan aktivitas mereka sama seperti sebelumnya.
Namun, kali ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini hubungan mereka sudah sah sebagai suami istri dan tentunya hubungan mereka pun semakin hangat saja.
"Maafkan aku, Sayang. Aku harus ke kantor hari ini. Ada rapat penting yang harus aku hadiri dan sama sekali tidak bisa diwakilkan," tutur Erlan sembari memeluk tubuh mungil Alina dari belakang.
Alina yang sedang asik merapikan peralatan masaknya, tersenyum hangat kemudian membalas pelukan lelaki itu. "Ya, tidak apa. Lagi pula aku akan baik-baik saja kok, Mas. Di sini juga ada bibi yang akan membantuku. Benar 'kan, Bi?"
Alina melirik pelayan baru yang sengaja di sewa oleh Erlan untuk menemani serta membantu pekerjaan istri kecilnya itu. Sang Pelayan pun membalas senyuman Alina sembari menganggukkan kepalanya.
"Ya, tentu saja, Nona," sahut pelayan tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat dulu, ya. Ingat, jangan sampai kelelahan. Aku tidak ingin kamu dan calon bayi kita kenapa-napa."
Erlan berjongkok di hadapan Alina kemudian mengelus perut besar istrinya itu dengan lembut. Tidak lupa, Erlan juga melabuhkan sebuah ciuman hangat di sana dan membuat si mungil yang berada di perut Alina bergerak-gerak dengan lincahnya.
Pelayan itu tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Erlan kepada Alina saat itu dan ia pun turut bahagia melihat kemesraan pasangan itu.
"Aku titip Istriku ya, Bi," ucap Erlan sambil menatap pelayannya yang masih terdiam melihat kemesraan mereka.
"Eh, iya, Tuan Erlan. Tentu saja, saya akan menjaga Nona dengan sepenuh jiwa dan raga saya," sahut pelayan itu.
"Terima kasih."
Erlan kembali menatap Alina kemudian menciumi seluruh wajah Istri kecilnya itu, sebelum ia benar-benar berangkat dan meninggalkan apartemen tersebut.
***
"Selamat pagi, Tuan Erlan," sapa Sean.
"Pagi, Sean. Terima kasih," sahut Erlan sembari masuk ke dalam mobil kemudian duduk di sana dengan santainya.
Setelah Erlan masuk, Sean segera menyusul kemudian mereka pun melaju menuju kantor. Di dalam mobil, Erlan tiba-tiba saja teringat akan cerita masa lalu Alina yang selama ini membuat ia penasaran.
Erlan begitu penasaran, tetapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh lagi kepada Sang Istri karena takut menyinggung perasaan wanita bertubuh mungil itu.
"Sean." Erlan memulai percakapan mereka.
"Ya, Tuan?" sahut Sean yang masih fokus pada setir mobilnya.
"Begini, aku masih penasaran dengan cerita Alina tentang sosok sahabatnya yang sudah menjual dirinya kepada Tuan Joseph. Aku ingin kamu cari tahu informasi lengkap tentang gadis itu. Tempat tinggal, orang tua dan semuanya," ucap Erlan dengan tatapan tajam menatap punggung Sean.
Sean mencoba mengingat-ingat cerita Alina dan apa yang dikatakan oleh Erlan benar. Alina juga pernah menceritakan tentang itu kepadanya ketika mereka pertama kali berjumpa.
"Baik, Tuan. Kebetulan anak buah saya masih stay di kota X untuk mengurus kediaman Nona Alina yang masih dalam tahap renovasi. Saya rasa akan sangat mudah mencari informasi tentang gadis itu. Selain karena jarak tempat tinggal Nona Alina dan dirinya tidak terlalu jauh. Nona Alina juga pernah bercerita kepada saya, katanya gadis itu adalah sahabat Nona Alina sejak kecil."
"Ya, gadis itu memang sahaba Alina. Sahabat bermuka dua dan tidak berhati!" kesal Erlan. "Tapi, aku juga bersyukur karenanya. Tanpa andil dari gadis itu, mungkin aku dan Alina tidak akan pernah bertemu."
Tiba-tiba saja Erlan tersenyum. Ia teringat akan kisah satu malam yang berhasil membawa Alina dalam kehidupannya. Bahkan Tuhan memberikan mereka ikatan yang begitu kuat walaupun saat itu mereka sama-sama tidak saling mengenal, yaitu bayi dalam kandungan Alina.
"Pertemuanku dengan Alina begitu unik, bahkan kisah cintaku bersama Alina pun sangat unik, Sean."
Sean tersenyum, ia ikut senang melihat kebahagiaan Big Bossnya itu. Ya, walaupun Sean harus mengorbankan perasaannya. Sean terpaksa harus mengubur dalam-dalam perasaannya terhadap Alina dan juga seluruh mimpi serta harapan ingin hidup bersama wanita itu.
...***...