
Setelah merasa cukup jauh dari Erlan dan Alina, Olivia melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya kemudian menyimpan cincin tersebut ke dalam tas.
"Baiklah, saatnya kita sambut hari yang baru! Semangat, Olivia!" ucapnya, mencoba menyemangati diri sendiri.
Olivia berjalan menuju mobilnya yang terparkir beberapa langkah dari posisinya saat ini. Namun, baru saja Olivia ingin meraih gagang pintu mobil tersebut, tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari belakang.
"Olivia."
Olivia segera berbalik kemudian menatap seseorang yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Seorang laki-laki tampan yang selama ini selalu mengejar-ngejar cintanya.
"Ed? Sedang apa kamu di sini? Jangan bilang kamu membuntutiku, ya!" ucap Olivia dengan wajah datar tanpa ekspresi menatap Edgar.
Edgar tersenyum hangat seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Maafkan aku, Olivia. Tapi ya, aku memang membuntutimu hingga ke tempat ini."
Olivia melemparkan senyuman sinis kepada Edgar. "Heh, kamu pastinya senang 'kan? Karena akhirnya aku dan Erlan sudah resmi bercerai."
Lelaki itu memijit pelipisnya sambil tertawa pelan. "Sebenarnya tidak juga, Olivia. Bukankah kamu memang sudah lama dicerai oleh Erlan? Hanya saja kamu selalu mencoba memungkiri kenyataan pahit itu," jawab Edgar dengan santainya.
"Kurang ajar!"
Olivia yang kesal berjalan dengan langkah cepat menghampiri Edgar. Ia membulatkan matanya ketika bertatap mata dengan lelaki itu. Sedangkan Edgar sendiri nampak biasa-biasa saja karena ia sudah terbiasa mendapatkan sikap yang seperti itu dari Olivia. Malah sebaliknya, ia kembali melemparkan senyuman manisnya untuk wanita tersebut.
"Sini, ikut aku!" Olivia meraih tangan Edgar kemudian menuntunnya ke sebuah kursi taman yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir.
"Duduklah!" titah Olivia sembari duduk di kursi tersebut.
Walaupun tidak mengerti apa maksud Olivia mengajaknya ke tempat itu, tetapi Edgar menurut saja dan duduk di samping Olivia, sesuai dengan perintah dari wanita itu.
Untuk beberapa tempat itu mendadak hening. Baik Edgar ataupun Olivia sama-sama menutup bibir mereka dengan rapat. Hingga akhirnya terdengar isak tangis Olivia. Dari yang hanya sesenggukan hingga akhirnya tangisan itupun pecah dan memecahkan keheningan di tempat itu.
"Huaaaa ... Edgar!"
Edgar kebingungan melihat Olivia yang menagis seperti anak kecil minta jajan kepada orang tuanya. Ia bahkan kelimpungan ketika ingin menenangkan tangis wanita itu.
"Cup, cup, cup! Hush, sudah ... jangan menangis lagi. Malu dilihat banyak orang!" pekik Edgar dengan wajah panik karena apa yang diucapkannya barusan adalah benar. Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu ramai memperhatikan mereka.
"Lihatlah, bisa-bisa mereka menyangka bahwa akulah yang sudah membuatmu menangis seperti ini, Olivia!" lanjutnya, masih mencoba menenangkan wanita itu.
"Biarkan saja! Aku tidak peduli pada mereka! Saat ini aku hanya ingin menangis, menjerit, berteriak dan semuanya! Aku ingin melepaskan beban beratku, Ed!" sahut Olivia di sela isak tangisnya.
Benar saja, Olivia menagis di tempat itu dengan sepuas hatinya. Ia menjerit, berteriak dan bahkan mengumpat kasar tanpa mempedulikan semua orang yang sedang memperhatikannya.
Edgar hanya bisa mengamankan situasi di tempat itu sambil memberi kode kepada orang-orang tersebut bahwa ia dan Olivia baik-baik saja. Beruntung orang-orang disekitar tempat itu mengerti dan segera menjauh dari mereka.
Setelah puas melepaskan beban berat di hatinya, akhirnya Olivia menghentikan tangisnya kemudian menatap Edgar yang masih setia menemaninya di tempat itu.
"Sudah lega?" tanya Edgar sambil menyeka air mata Olivia yang masih menggenang di pelupuk matanya.
Olivia menganggukkan kepalanya perlahan sembari mencoba tersenyum kepada Edgar. "Ya, sudah lumayan. Terima kasih sudah bersedia menemaniku saat aku segila ini, Ed."
Edgar menghembuskan napas panjang sambil tersenyum kemudian membuang pandangannya ke arah lain.
"Bukankah sudah sering aku katakan padamu, Olivia. Aku mencintai dirimu apa adanya. Bukan karena kamu cantik, kamu anak orang kaya, kamu ini, kamu itu, bukan! Jadi, segila apapun kamu, aku akan tetap setia menemanimu," ucapnya.
Olivia terdiam sejenak dan tatapannya masih tertuju pada lelaki itu. Di tengah lamunannya, tiba-tiba Olivia teringat akan cincin milik Edgar. Ia meraih cincin tersebut dari dalam tasnya kemudian menyerahkannya kembali kepada Sang Pemilik.
"Ini cincinmu, Ed."
Edgar segera menoleh ke arah cincin tersebut dan menatapnya dengan wajah heran. Olivia meraih tangan Edgar kemudian meletakkan cincin itu di telapak tangannya.
Edgar tersenyum getir ketika bersitatap mata dengan Olivia. "Sebaiknya kamu berikan cincin ini kepada orang lain yang lebih membutuhkannya Olivia," ucap Edgar.
"Kenapa harus diberikan kepada orang lain, Ed? Aku membutuhkan cincin itu, aku ingin kamu memasangkannya ke jari manisku," sahut Olivia sambil menyunggingkan sebuah senyuman kepada Edgar.
"A-apa?!" Ka-kamu serius?!" pekik Edgar dengan mata membulat.
"Ya, dua rius!" jawab Olivia.
"Oh ya, Tuhan! Terima kasih," pekiknya dengan mata berkaca-kaca. Edgar tidak menyangka bahwa ternyata Olivia menerima lamarannya. Dengan tangan gemetar, Edgar memasangkan cincin itu ke jari manis Olivia. Setelah cincin itu terpasang dengan sempurna di jari manisnya, Olivia pun segera memeluk tubuh kekar lelaki itu.
"Jangan pernah bosan untuk selalu menemaniku ya, Ed."
"Tentu saja, Olivia. Tentu saja," jawab Edgar seraya membalas pelukan Olivia.
...***...