My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Rencana Operasi



"Ya, Tuhan! Pak," pekik Bu Dita setelah mendengar kabar dari Rumah Sakit bahwa Imelda sedang dirawat di sana dengan kondisi yang sangat lemah.


"Apaan sih, Bu?!" Pak Heri segera menghampiri Bu Dita dengan wajah panik karena terkejut mendengar pekikan dari Sang Istri tercinta.


"Imelda, Pak! Imelda sedang di rawat di Rumah Sakit. Kata Dokter anak kita mengalami pendarahan hebat!" sahut Bu Dita sambil menagis histeris.


"Imelda mengalami pendarahan, kok bisa?!" pekik Pak Heri.


"Mana Ibu tahu, Yah! Sebaiknya kita ke Rumah Sakit, Ibu tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak perempuan kita!"


"Ya, Tuhan! Semoga kamu dan bayimu baik-baik saja, Nak," gumam Pak Heri sembari menuntun Bu Dita menuju mobilnya.


Setelah beberapa puluh menit kemudian, akhirnya Bu Dita dan Pak Heri tiba di depan Rumah Sakit, di mana Imelda sedang di rawat. Dengan langkah tergesa-gesa, mereka menelusuri setiap lorong yang ada di Rumah Sakit tersebut hingga akhirnya mereka pun tiba di ruangan itu.


Ternyata di depan ruangan tersebut Pak Heri dan Bu Dita bertemu dengan lelaki yang tadi menolong Imelda. Lelaki itu segera menghampiri kemudian menyalami mereka.


"Selamat siang, Pak Heri, Bu Dita." Lelaki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat.


"Selamat siang," sahut Pak Heri dengan wajah bingung sembari menyambut uluran tangan lelaki itu. Ini pertama kalinya ia dan lelaki itu bertemu, tetapi anehnya lelaki itu sudah mengenali dirinya.


"Ehm ... maaf, Tuan siapa ya?" tanya Pak Heri masih dengan wajah bingung menatap lekat wajah lelaki itu.


"Bapak bisa panggil saya Sean. Maaf, karena saya harus membawa Putri Anda ke sini tanpa meminta izin kepada kalian terlebih dahulu," sahut Sean seraya melepaskan jabatan tangan Pak Heri.


"Jadi Anda yang sudah menyelamatkan Putri kami? Oh, terima kasih banyak, Tuan Sean. Kami berhutang budi kepada Anda," ucap Pak Heri dengan mata berkaca-kaca menatap Sean.


"Tidak masalah, Pak Heri. Ehm, mari silakan duduk," ajak Sean sembari menuntun Pak Heri dan Bu Dita ke sebuah kursi panjang, yang ada di ruangan tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Putri kami, Tuan Sean? Kenapa Imelda sampai mengalami pendarahan?" tanya Bu Dita dengan mata sembabnya menatap Sean.


"Maafkan saya, Bu Dita. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Putri kalian. Yang pasti ketika saya berada di tempat kejadian, Putri Anda dan suaminya sedang bertengkar saat itu," tutur Sean.


Pak Heri meradang setelah mendengar jawaban Sean. "Benar 'kan firasatku selama ini, Bu! Aku tahu Chandra pasti menyakiti Putri kita, hanya saja Imelda terus menyembunyikan kebusukan lelaki itu dari kita!"


Bu Dita hanya bisa terisak sambil menyeka air matanya. Ia pun sebenarnya memiliki firasat yang sama, tetapi ia tidak berani bertanya lebih jauh kepada Putri semata wayangnya itu.


"Ayah tidak mau tahu, setelah ini Imelda dan Chandra harus secepatnya dipisahkan! Kecuali Imelda memang bodoh dan ingin terus mempertahankan lelaki bajiingan itu!" kesal Pak Heri.


Bu Dita masih saja menangis dan ia sama sekali tidak berani menyahut ucapan Sang Suami yang sudah terlihat sangat emosi.


Tidak berselang lama, seorang Dokter ahli kandungan keluar dari ruangan tersebut. Pak Heri dan Bu Dita yang sejak tadi begitu penasaran dengan kondisi Imelda saat ini, segera menghampiri Dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi anak kami, Dok?" tanya Pak Heri yang terlihat begitu cemas.


"Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja, Pak, Bu," ajak Dokter dengan wajah sendu menatap Pak Heri dan Bu Dita secara bergantian.


Dari raut wajah Dokter tersebut, Pak Heri dan Bu Dita tahu bahwa Imelda sedang dalam kondisi yang serius. Pasangan paruh baya tersebut sempat saling tatap dan kemudian mereka pun menganggukkan kepala.


"Baiklah, Dok."


Pak Heri dan Bu Dita segera mengikuti langkah Dokter menuju ruangannya dan setibanya di tempat itu, Dokter pun mempersilakan pasangan itu untuk duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerjanya.


"Begini, Pak, Bu. Kondisi pasien dan janinnya saat ini sangat lemah dan saya sarankan sebaiknya pasien segera dioperasi. Tapi ...." Dokter itu terdiam sejenak dan kembali menatap kedua orang tua Imelda dengan wajah sendunya.


...***...