My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Hari Terakhir Di Kediaman Rara



Setelah pengakuan Erlan pada malam itu, Alina akhirnya memutuskan untuk ikut bersamanya. Walaupun sejujurnya Alina sendiri masih belum yakin seratus persen. Namun, dilihat dari ketulusan dan kejujuran Erlan saat itu, membuat Alina memantapkan hatinya untuk percaya pada kata laki-laki tampan itu.


Pagi-pagi sekali Erlan bangun dari tidurnya. Sebenarnya lelaki itu tidak tidur semalaman. Bagaimana ia bisa tidur dengan nyenyak, hati dan pikiran lelaki itu terus tertuju pada kamar tamu yang letaknya tak jauh dari kamarnya.


Berbeda dengan Erlan, Alina malah tidur dengan pulas. Ini pertama kalinya sejak kejadian buruk yang menimpanya, ia tidur dengan sangat nyaman. Entah karena ada Erlan di sana, atau karena ia sudah tidak berada di lingkungan yang begitu membenci dirinya.


Sama seperti halnya Erlan, Alina pun bangun pagi-pagi sekali. Setelah mandi, berpakaian dan merapikan rambutnya, Alina bergegas menuju dapur. Ia ingin membantu pekerjaan para pelayan.


Ya, paling tidak itulah salah satu cara Alina berterima kasih pada keluarga Tuan Abimanyu yang bersedia menampung dirinya untuk sementara, sebelum Erlan benar-benar membawanya pergi.


"Ada yang bisa aku bantu, Bi?" tanya Alina kepada Pelayan yang baru saja bersiap-siap memulai pekerjaannya.


Pelayan itu terperanjat ketika melihat Alina yang sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu memperhatikan dirinya yang tengah sibuk mempersiapkan bahan-bahan makanan yang akan ia masak pagi ini untuk sarapan para majikannya.


"Tidak usah, Nona. Nona 'kan tamu di sini, jadi Nona duduk saja, ya." Pelayan itu tersenyum seraya mempersilakan Alina untuk duduk si kursi yang ada di ruangan itu.


"Tidak apa, Bi. Biarkan aku membantu pekerjaan Bibi," sahut Alina dengan setengah memaksa.


Mau tidak mau, Pelayan itupun membiarkan Alina membantu pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, Rara tiba di ruangan itu. Ia kaget melihat Alina yang ternyata sudah berada di ruangan itu bersama pelayannya.


"Alina, apa yang kamu lakukan di sini? Sebaiknya kamu istirahat saja. Ingat kandunganmu," bisik Rara seraya menghampiri Alina kemudian membawa gadis itu duduk di kursi.


"Saya tidak apa-apa kok, Nyonya. Saya sudah terbiasanya seperti ini. Bahkan kalau saya membuat nasi uduk untuk jualan, biasanya saya akan lebih sibuk dari ini," sahut Alina seraya menatap wanita itu.


"Sekali tidak, tetap tidak. Karena saat ini kamu adalah tamu spesialku dan itu artinya kamu adalah ratunya untuk hari ini." Rara membelai wajah Alina dengan lembut seraya tersenyum hangat.


Alina menghembuskan napas panjang dan akhirnya ia memilih keluar dari ruangan itu. Alina berjalan menuju halaman depan dan ternyata Erlan juga berada di sana. Lelaki itu tengah berlari kecil sambil tersenyum ke arahnya.


"Mau jalan bersamaku, Nona?!" tanyanya dari jauh.


Alina hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari lelaki itu. Karena Alina hanya diam, ia pun memilih menghampiri Alina dan berjalan di sampingnya.


"Hello baby, good morning!" bisik Erlan sembari mengelus perut Alina.


"Tuan, aku takut ada orang lain yang melihatmu melakukan itu," tutur Alina dengan wajah cemas.


Erlan tersenyum kemudian membelai wajah Alina dengan lembut. "Kamu tenang saja, tidak ada siapa-siapapun di sini. Paling cuma penjaga taman itu!"


Erlan melambaikan tangannya kepada penjaga taman yang sedang merapikan tanaman milik Tuan Abimanyu. Lelaki itu pun membalas lambaian tangan Erlan sambil tersenyum lebar.


"Benar 'kan?!" lanjut Erlan yang kini menatap Alina lekat.


"Oh ya, hampir saja aku lupa. Hari ini kita akan kembali ke kotaku, Alina. Aku ingin memperkenalkanmu dengan Mommy dan aku juga akan mengatakan padanya bahwa aku akan segera melamarmu."


Erlan nampak semringah ketika mengucapkannya. Lelaki itu begitu yakin bahwa semuanya akan berjalan mulus sama seperti yang ada di pikirannya sekarang ini.


"Kita akan menikah, Alina. Aku, kamu dan bayi kita, akan hidup bahagia selamanya," sambungnya sambil menggenggam erat tangan Alina.


Alina tersenyum tipis. Sebenarnya ia juga menginginkan semua yang diucapkan oleh lelaki tampan itu. Hidup bahagia bersama Erlan dan juga anak mereka. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Alina merasa tidak yakin.


Ia merasa ragu bahwa cerita hidupnya bersama lelaki tampan itu akan semulus yang dibayangkan oleh mereka. Status mereka yang jauh berbeda, membuat Alina tidak yakin bahwa orang tua Erlan akan menerima dirinya begitu saja.


"Apa Tuan yakin bahwa Mommy-nya Tuan akan merestui hubungan kita?" tanya Alina dengan ragu-ragu.


"Ya, Alina sayang. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak yakin bahwa Mommy akan menerima dirimu?" tanya Erlan balik, masih melemparkan senyuman hangatnya untuk gadis itu.


Alina menggelengkan kepalanya dengan perlahan. "Entahlah, Tuan. Tapi jujur, aku merasa sedikit mengkhawatirkan soal itu," sahut Alina.


"Kamu tenang saja, percayalah padaku." Erlan merengkuh pundak Alina kemudian melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala gadis itu.


Alina membulatkan matanya dengan sempurna. Ia heran, Erlan semakin berani saja melakukan hal-hal yang mengejutkan seperti itu kepadanya. Bahkan wajah tampan lelaki itu nampak biasa-biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa setelah melakukan itu.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Erlan dengan pundak turun naik, mencoba menahan tawanya ketika menyaksikan ekspresi wajah Alina yang terlihat aneh.


...***...