My Baby'S Daddy

My Baby'S Daddy
Menemui Erlan



Sementara Imelda masih berbincang bersama Sean di dalam ruangan itu. Pak Heri dan Bu Dita malah sedang asik berbincang di luar ruangan, membicarakan tentang siapa Sean sebenarnya.


"Bu, aku tidak menyangka ternyata Tuan Sean bukanlah orang sembarangan. Dia adalah assisten pribadi Tuan Erlan, pewaris perusahan besar Harrison group yang terkenal itu loh, Bu! Apa Ibu pernah mendengarnya?" ucap Pak Heri dengan sangat antusias mengucapkan hal itu kepada Sang Istri.


"Harrison group? Ya, ya, Ibu pernah mendengar nama perusahaan itu. Jadi, Tuan Sean adalah salah satu orang penting di perusahaan besar itu maksud Ayah?" tanya Bu Dita dengan serius menatap Pak Heri.


"Ya, Bu. Beruntung sekali wanita yang akan menjadi istri dari Tuan Sean nantinya. Seandainya saja Imelda ... ah, sudahlah! Ayah menghayal terlalu tinggi," gumam Pak Heri sambil tersenyum kecut.


Bu Dita pun sama, ia tersenyum kecut kemudian memeluk tubuh Sang Suami sambil mengelus-ngelus punggungnya. "Tidak usah menghayal terlalu jauh, Ayah. Takutnya nanti malah kesasar dan tidak ingat jalan pulang," sahut Bu Dita.


"Ah, Ibu bisa saja!" Pak Heri terkekeh pelan seraya mengacak puncak kepala Bu Dita dengan lembut.


Tepat di saat itu pintu ruangan tersebut terbuka. Tampak Sean keluar dari ruangan itu sambil melemparkan senyuman kepada Pak Heri dan Bu Dita. Sean segera menghampiri pasangan paruh baya tersebut kemudian berbincang bersama mereka.


"Ehm, bolehkah saya menjenguk bayi mungil itu?" ucap Sean kepada kedua orang tua Imelda.


"Oh, tentu saja, Tuan Sean. Mari saya antar ke ruangannya," ajak Pak Heri.


Sementara Pak Heri menuntun Sean ke ruangan NICU, Bu Dita memilih menemani Imelda di ruangannya.


Setibanya di ruangan NICU, Sean segera menghampiri kotak inkubator di mana bayi mungil Imelda masih tergolek lemah. Ia memperhatikan bayi mungil itu dengan seksama sambil tersenyum hangat.


"Hei, Boy! Apa kabarmu? Ayo, bersemangatlah! Buktikan pada Ibumu bahwa kamu mampu bertahan dan akan menjadi kebanggaan untuk dirinya kelak," ucap Sean dengan mata berkaca-kaca.


Entah kenapa saat itu Sean benar-benar sedih melihat kondisi bayi mungil tersebut. "Om berjanji padamu, Boy. Jika kamu bisa bertahan melewati masa-masa ini, Om bersedia menjadi Ayah angkatmu. Om akan memberikan kasih sayang sebagai seorang Ayah, yang tidak bisa kamu dapatkan dari Ayah kandungmu," gumam Sean dengan wajah sendu menatap bayi mungil tersebut.


Pak Heri terdiam di depan pintu ruangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mendengar semua ucapan Sean dengan jelas dan ia begitu terharu setelah mendengarnya.


***


Dua hari kemudian.


"Bagaimana hasilnya, Sean?" tanya Erlan kepada Sean yang baru saja tiba di apartemennya.


Sean sempat melirik Alina yang sedang sibuk di dapur bersama pelayannya. "Ehm, Tuan. Sebenarnya saya sudah mendapatkan seluruh informasi tentang gadis itu. Tapi ...." Sean menghentikan ucapannya karena ia merasa tidak tega saat teringat akan nasib Imelda saat ini.


"Tapi kenapa, Sean?" Erlan mengangkat kedua alisnya sambil memperhatikan ekspresi wajah asistennya itu dengan seksama.


Sean pun akhirnya menceritakan semuanya kepada Erlan bagaimana kondisi Imelda saat ini. Erlan mendengarkan cerita Sean dengan sangat serius sambil sesekali melirik Alina yang masih asik dengan pekerjaannya. Ia tidak ingin Alina tahu bahwa ternyata dia meminta Sean untuk menyelidiki Imelda.


"Dia benar-benar menyesali perbuatannya, Tuan Erlan. Ia bahkan sudah mengakui perbuatan jahatnya di hadapan seluruh warga kampung dan sekarang nama Nona Alina sudah bersih. Nona Alina pasti akan terkejut setelah ia mengunjungi kampungnya nanti. Karena setelah ini sudah tidak akan ada lagi tetangga yang akan menghina dan mencaci-makinya," tutur Sean.


"Baguslah kalau begitu, Sean. Aku pun turut senang mendengarnya karena wanita itu sudah menyadari kesalahan yang ia lakukan terhadap Alina. Namun, aku juga sedih dengan apa yang menimpanya saat ini dan semoga saja bayinya bisa melewati masa-masa kritisnya,"


"Amin. Ehm, Tuan Erlan, sebenarnya Imelda ingin sekali bertemu dengan Nona Alina. Menurut Tuan, apakah Nona Alina bersedia menemui Imelda dan bicara empat mata dengannya?" tanya Sean dengan wajah bimbang menatap Erlan.


Lagi-lagi Erlan melirik Alina dan tepat di saat itu Alina juga sedang menatapnya. Erlan melemparkan senyuman sembari melambaikan tangannya untuk istrinya tersebut. "Nanti aku coba tanyakan kepada Istriku dan semoga saja dia bersedia menemui wanita itu."


"Ya. Terima kasih, Tuan."


...***...